Santri Cendekia

Lagu Aisyah Katanya Kurang Sopan, Masa sih?

Sedikitnya 4 kitab telah saya intip tipis-tipis untuk meyakinkan feminis sentris yang ada pada otak saya dalam mengomentari keviralan lagu Aisyah beserta kontroversinya. Beberapa kitab tersebut adalah al-Ghinaau wa al-Ma’azifu fii Dhaui al Kitab wa as-Sunnati wa Atsari ash-Shahabati r.a, Ahkamu al-Ghinai wa al-Ma’azifi wa Anwaa’u at-Tarfiihi al-Haadif, ar-Raddu ‘ala al-Qardhawi wa al-Jadii’ dan al-Maraqi al-Ubudiyyah.

Semoga dapat menghadirkan masalah baru selain dari yang telah ada, karena tulisan saya kali ini bukan malah jadi solusi dari perseteruan pro-kontra lagu Aisyah, justru sebaliknya: saya berusaha memupuk permasalahan lain yang muncul akibat perseteruan dua kubu di atas. Hahahahah…

Pertama kali dengar lagu Aisyah ini, saya dibuat senyum-senyum sendiri antara ingin punya jodoh seperti Rasulullah dan juga punya paras cantik layaknya Aisyah—meski itu merupakan khayalan mainstream lagi purba.

Baru kemudian melihat komentar ustadz Yahya al-Bahjah di suatu pengajian yang diupload oleh akun youtubenya, lalu komentar ustadz Wawan Abdul Wahid di santricendekia.com, kritik KH. Imam Djazuli di tribunnews.com dan terakhir komentar Esty Dyah Imaniar di laman tetangga sebelah, melecut saya dengan kerutan dahi sebanyak 3 biji

Ragam pandangan di atas entah mengapa mengusik tidur lelap feminis sentris saya yang telah lama padam karena beberapa teguran di salah satu tulisan dalam memperingati women’s day yang lalu. Mengapa ini tiba-tiba jadi masalah? Di kata ini adalah syair lagu yang amoral karena menggambarkan secara fisik ummul mukminin Aisyah, diklaim pula syair ini harusnya direvisi dengan menampilkan kelebihan-kelebihan lain Aisyah yang sifatnya non-fisik. Sebaliknya, pendukung lagu Aisyah ini menghadirkan counter-attack dengan menukil kitab-kitab ulama yang jelas tanpa segan memvisualisasikan Aisyah baik dari segi fisik maupun non fisik.

Bicara penggambaran secara fisik bagi sosok mulia Nabi Muhammad dan para istrinya, jadi teringat syair bahasa Arab yang pernah dinukil oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitabnya al-Maraqi al-Ubudiyyah. Rasulullah bukan main digambarkan secara rinci mengenai fisiknya, berikut saya kutip beberapa lirik nya

Baca juga:  Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (3)

لَمْ يَحْتَلِمْ قَطُّ طٰهٰ مُطْلَقًا أَبَدًا  # مِنْهُ الدَّوَابُ فَـلَمْ تَهْرَبْ وَمَـا وَقَعَتْ # ذُبَابَةٌ أَبَـدًا فِى جِسْمِـهِ الْحَسَنِ # وَلَا يُرٰى أَثْـرُ بَوْلٍ مِـنْهُ فِيْ عَلَنِ # عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ #

Rasulullah tidak pernah bermimpi basah/ bermimpi bersetubuh baik sebelum jadi maupun setelah jadi nabi # Tidak ada satupun hewan yang lari dari dirinya # Tidak pernah ada lalat yang hinggap ditubuhnya # Bekas air kencing beliau tidak pernah terlihat di permukaan bumi # Ceritakanlah bahwa beliau telah dikhitan semenjak beliau lahir #

Tidak diragukan lagi bahwa syair di atas begitu vulgar, bagaimana tidak ciri Rasulullah dalam hal syahwatnya digambarkan begitu fisik, tidak hanya alam bawah sadarnya melainkan juga alat vital beliau dan air seni darinya. Yang lebih mengagetkan syair ini masih tumbuh subur di tanah jawa, dinyanyikan oleh beberapa pondok NU sambil menunggu adzan maghrib sebagai bentuk kecintaannya terhadap al-Mushtofaa Rasulullah Nabiyyuna Muhammad.

Tapi mengapa tidak ada yang mempermasalahkannya? Jika lirik Aisyah dianggap amoral karena menggambarkan wajah Ummul Mukminin yang putih berseri dengan hiasan pipi merona mengapa syair di atas tidak sama sekali mengundang amukan masa?

Jika saya cantumkan keseluruhan syair ini, maka 1000% isinya adalah visualisasi Rasulullah secara fisik saja. Padahal kelebihan intelektualitas beliau jauh lebih memikat secara sadar, sepak terjang beliau dalam menyusun taktik di tengah hiruk pikuk cobaan dakwahnya jauh lebih memesona. Namun setelah membaca syair di atas tidak kemudian mengurangi citra Muhammad sebagai seorang Penutup Rasul dan Nabi kan?

Prinsip sastra secara umum adalah keutuhan/unity, keselarasan/harmony, keseimbangan/balance, fokus/right emphasis. Elemen prinsip ini tidak hanya berhenti pada sosok pencipta karya seni namun berlanjut hingga kepada penikmat seni.

Baca juga:  Kalender Islam Internasional dan Problem Mendasar Perbedaan Jatuhnya Puasa Arafah

Contohnya pada praktik keutuhan seni, yakni ketika menikmati sebuah karya seni menjadi barang haram apabila sudut pandang parsial memimpin di garda terdepan, karena akan mengakibatkan makna yang terpecah dan memunculkan citra yang jauh berbeda dari aslinya.

Citra kali ini lebih senang saya bahasakan dengan kesan mental, bayangan visual yang ditimbulkan oleh rangkaian kata atau syair dan lain sejenisnya. Akibat dari mental yang tidak cerdas dan diperparah apabila tidak sehat, maka akan menimbulkan kesan buruk lagi senonoh, begitulah kiranya.

Hasil pembacaan dari kumpulan kitab-kitab hadis dan ulama, seni dalam Islam sama sekali tidak berdiri sebagai isu strategis milik kaum lelaki saja. Bisa dilihat dari banyaknya hadis yang menjelaskan penyanyi wanita di zaman Rasulullah, bahkan matan hadis Rasulullah yang seringkali bernada nyeni alias indah tidak segan pula menceritakan kebiasaan fisik-nonfisik Rasulullah, para Sahabah dan Sahabiyyah.

Hingga pada akhirnya, membawa nafsu saya untuk mengatakan: Ada praduga mendalam melihat kubu pro-kontra lagu Aisyah ini. Apakah pendukung lagu Aisyah sedang menggaungkan kesetaraan gender? Sedangkan sang kubu kontra malah sesungguhnya kamu bukan sedang memperjuangkan wanita tapi justru bias-gender?

Jika wanita, lalu apakah kamu tidak berhak berada di ruang tengah diskusi kesusastraan? Padahal yang disampaikan semuanya adalah kebenaran. Jika wanita sebagai objek lirik lagu, maka apakah harus ada keseimbangan visualisasi fisik dan non fisik? Setuju, tapi tidak semua ruang seni mampu mewujudkannya, mengapa kau tidak pernah melirik pada lirik qasidah Khadijah al-Kubra dan Fatimah az-Zahra karya mbah Moen hasil pengilhaman mimpinya yang didatangi oleh Sayyid Alwi Almaliki? Liriknya benar-benar totalitas secara eksplisit hanya menggambarkan sisi non fisik keduanya, lho. Apakah wanita tidak boleh sama sekali disebut cantik hanya karena takut menimbulkan kesan mental senonoh pada benak lelaki?

Baca juga:  Lagu  Aisyiyah di Tengah “Gempuran” Netizen

Ah jangan lugu, Ferguso! Hadis yang begitu agung saja masih bisa dinilai misoginis oleh para Orientalis, apakah kemudian hadis Nabi harus direvisi? Kan tidak seperti itu. Makanya dibutuhkan istiqra’ maknawi dalam pemahaman nash nash syariat, begitu pula membaca atau menyanyikan sebuah syair lagu. Jika masih memunculkan kesan mental yang jorok maka jangan salahkan lagunya tapi benahi mentalnya, jangan-jangan dia adalah orientalis. Eh jangan ding, entar kepedean hahaha!

Dan ingat, sebuah fantasi lelaki tidak muncul dengan tanpa sebuah proses melihat atau gambaran jorok yang benar-benar mewakilinya, itulah kemudian yang akhirnya mengakibatkan seorang lelaki meski sudah memiliki pendamping ia tetap bisa melirik wanita lain.

Untuk menutup tanpa berujung pada sebuah konklusi, gara-gara lagu ini banyak artis non-muslim seperti Brisia Jodie dan selebgram Petrus Mahendra mengcover lagu Aisyah dengan kesan keduanya terpukau pada sosok Aisyah dan Nabi Muhammad dan keduanya ingin mengetahui sosok-sosok tersebut lebih dalam. Menurutnya, perbedaan bukan batasan untuk tidak saling mengagumi. Inikah dakwah strategis yang kini telah hilang dari sisi Sapiens ? wkwk

Aabidah Ummu Aziizah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan FAI UMY

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: