Santri Cendekia

Lagu  Aisyiyah di Tengah “Gempuran” Netizen

Di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang merubah banyak tatanan, work from home (WFH) menjadi hal yang monoton kalau tidak diselingi dengan estetika dan keindahan.

Musik adalah wujud ekspresif setiap manusia yang cinta akan keindahan, dan salah satu keindahan muncul dari seni musik.

Secara alamiah menurut Daniel Levitin profesor psikologi dan musik di McGill University manusia itu suka terhadap musik. Musik itu keindahan yang membuat tenang pendengarnya. Dalam Islam, musik menjadi perdebatan yang panjang dikalangan ulama, padahal di saat negara lain maju, umat Islam masih sibuk dengan perdebatan yang kontraproduktif.

Tentu kita tidak akan berdebat panjang mengenai halal-haramnya musik, lataran sudah terlalu banyak para pakar, ulama, cerdik pandai yang membahas itu.

Setidaknya ada tiga kubu yang berpendapat tentang musik. Pertama, yang mengharamkan musik secara mutlak, lataran pemahaman dalil yang tekstual atau apa adanya, berdalih dengan surat Luqman ayat 6 dan didukung pendapat dari Ibnu Abbas, kelompok ini cenderung mengharamkan musik.

Kedua, adalah yang membolehkan secara mutlak lantaran ada kaidah yang mengatakan الأصل فى الأشياء الإباحة   pada dasarnya segala sesuatu itu boleh, sikap ini melahirkan sifat permisif tanpa didukung argumentasi yang kuat.

Ketiga, kalau boleh menyebutnya adalah kelompok moderat ( منصف ). Kelompok ini adalah kelompok pertengahan yang menggabungkan reasoning dan dalil. Dalil harus difahami secara kontekstual dengan memperhatikan kausalitas (‘ilatul hukm), bahwa hukum musik itu tidak bisa berdiri sendiri menurut bahasa Prof Sa’aduddin Mas’ad Hilali ulama dari mesir.

Musik itu halalnya halal dan haramnya adalah haram, موسيقى حلاله حلال, و حرامه حرام,  apa maksudnya?

Jikalau musik itu menyebabkan seseorang bermaksiat setelah mendengarkanya maka musik menjadi tidak boleh, namun jika mendengarkan keindahan musik hati menjadi tenang, mengingat Allah, mentadaburi keindahan dari yang Maha indah, maka tidak ada masalah mendengarkan musik.

Baca juga:  Ibnu Sina, Seorang Dokter Cinta

Oleh karenanya ulama usul fikih menyebutnya keberadaan hukum itu berkutat pada keberadaan “‘illat” (sebab)-nya. Ada “‘illat” ada hukum, tak ada “‘illat” tak ada hukum,

الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما

Apa itu ‘illah? Secara sederhana ‘illah itu dibahasakan “karena” ataupun “sebab”  sebagaimana contoh jika seseorang pria mencintai wanita “karena” cantik, maka cintanya itu terkait dengan kecantikan wanita tersebut. Kalaupun hilang karena/sebab kecantikan, seorang pria tidak akan cinta terhadap wanita tersebut.

Karenanya dalam hukum Islam ‘illah mempunyai peranan yang penting dalam menentukan sebuah konstelasi hukum, Menurut Solah Shawi musik bukanlah hal yang bersifat ats-Tsawabit (konstan) dalam agama, akan tetapi bersifat mutaghayyirat/elastis dan flexibel.

Pendapat tarjih Muhammadiyah menurut hemat penulis termasuk yang moderat dalam mensikapi Musik, yaitu harus dilihat ‘illah-nya.

Lagu Aisyiah istri Rasulullah saw yang baru baru ini viral dan menjadi trending topik sangat populer di kalangan milenial.

Di platform YouTube Indonesia lagu ini berhasil menjadi trending. Penyanyi pertama yang mempopulerkan lagu Aisyah putri Rasulullah adalah Mr Bie di akun Vitaminbie sejak tahun 2017 lalu.

Belakangan diketahui, lagu versi aslinya berjudul “Aisyah (Satu Dua Tiga Cinta Kamu)”. Mr Bie mengemas ulang lagu Aisyah milik Band Projector, kemudian lagu Aisyah dinyanyikan oleh sederet penyanyi tanah air seperti Syakir Daulay, Sabyan, Anisa Rahman, Anji, dan lain-lain.

Dari Segi bisnis, mengemas ulang lagu Aisiyah istri Rasulullah tentu saja sangat menggiurkan, Associate Prof Wawan Gunawan Abdul Wahid membahas lagu Aisyah dari berbagai sudut pandang, termasuk dari sisi bisnis, ‘Aabidah Ummu ‘Aziizah juga berusaha menganalisa Pro dan  kontra dua kubu.

Baca juga:  Mushalla Perempuan; Marginalisasi atau Liberasi?

Tulisan mengalir KH Imam Jazuli Alumni Universitas al-Azhar menegaskan bahwa lagu tersebut merupakan representasi dari dakwah Islam kontemporer yang acapkali direduksi oleh Radikalisme maupun Extrimisme. Menurutnya, dengan adanya lagu Aisyah Istri Rasul, Islam ditampilkan kembali dalam wajah yang segar dan lembut.

Counterpart dari pembela lagu Aisyiyah barangkali bisa dilihat dari salah seorang Dai di Cirebon melalui tanya jawab dari jamaah. Menurut dai tersebut,  lagu Aisyah dianggap tidak beradab, tidak beretika, karena memvisualisasikan sifat jasmani Ummul Mukminin secara detail. Padahal kenyataanya Ummahatul Mukmin lebih dari yang digambarkan.

Sebenarnya ada beberapa buku yang membahas tentang Sayyidah Aisyiyah, dan dari buku tersebut Syair dan lagu banyak mengutip.

Sebut saja buku karya Abbas Mahmud al-Aqqod yang berjudul Aisyah Siddiqoh Binti Siddiq, Ahli Sejarah Mahmud Syalabi juga menulis dalam bukunya Hayatu Aisyah Ummul Mu’minin.

Dr Said Ramadhan buti ulama prolifik dari syiria menyusun buku yang berjudul Ummul Mu’minin Asiyah.

Binti Syati, ulama Perempuan yang “berkemajuan’ punya karya fenomenal yang berjudul Nisa an-Nabiy, dan masih banyak karya-karya yang mencoba menggambarkan ke elokan Sayyidah Aisyah dari segi fisik, kemuliaan, dan lain-lain.

Kesimpulanya adalah kedudukan Aisyah itu lebih “sakral” jikalau harus dituliskan dengan syair, lagu ataupun estetika lainya.

Memuji, menyanjung, dan mengambarkan keindahan fisik maupun non-fisik terhadap orang yang mulia biasa dilakukan oleh orang orang Arab jahiliyah maupun zaman sesudahnya.

Di zaman Nabi sendiri setidaknya ada tiga pujangga yang terkenal dengan syairnya, yaitu Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah, dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum.

Nama terakhir pernah memusuhi Rasul lewat syairnya kemudian bertaubat dan menjadi pembela Nabi. Kemudian Rasulullah menutupkan jubahnya/burdah kepadanya sebagai tanda ampunan beliau.

Baca juga:  Lagu Aisyah Katanya Kurang Sopan, Masa sih?

Orang orang Quraish juga terbiasa melombakan syair-syairnya di pasar Ukadz. Pasar Ukadz adalah tempat orator ulung, penyair, menarasikan keindahan Syair mereka.

Dalam suatu riwayat menurut Prof Aiman Amin guru besar universitas Ainun Syams Mesir Syair-syair terbaik juga digantungkan di dinding Ka’bah ( Mualliqot).

Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat mengapresiasi seni dan keindahan, bahkan memperoleh tempat di sisi Rasulullah saw.

Dalam riwayat yang masyhur disebutkan dua biduanita bernyanyi di rumah Rasulullah saw, dan bagindapun membiarkan dua penyanyi tersebut.

Sekali lagi perdebatan-perdebatan tidak substantif hanya akan mengantarkan budaya kita semakin verbal. Tentu tujuan pencipta lagu Aisyah perlu diapresiasi.

Lagu yang baik akan menampilkan citra agama yang ramah dengan seni dan budaya. Bisa jadi lagu Aisyah lahan dakwah strategis bagi Muslim ataupun non Muslim untuk tahu lebih dalam Ummahatul Mukmin. Terbukti artis seperti Brisia Jodie meng-cover lagu tersebut.

Sebagai penutup semoga lagu Aisyah tidak hanya menjadi alat untuk “mengeruk” pundi-pundi dollar adsense dari Youtube. Tetapi juga  harus punya i’tikad untuk dakwah di dunia maya, kapanpun dan kepada siapapun.

Lagu tersebut juga tidak menutup kemungkinan untuk dikritisi lantaran pribadi Nabi ataupun Istri Nabi lebih dari apa yang kita bayangkan. Walahu a’lam.

 

 

Royan Utsany

Dosen Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: