Santri Cendekia

Lahirnya Sains di Dunia Islam itu Organik, Tidak Instan!

Oleh: Juris Arrozy

Pernahkah anda mengalami kasus seperti ini? Anda ingin mempelajari bidang baru (katakanlah misalnya, data science) karena hal tersebut sedang populer. Berbagai kursus online dan bootcamp diikuti, buku-buku dan artikel-artikel terkait pun dibaca. Setelah beberapa waktu, anda akhirnya memahami dasar-dasar bidang tersebut. Namun pertanyaan masih tersisa: bagaimana mengaitkannya dengan pekerjaan profesional sehari-hari? Apa manfaat praktisnya? Bagaimana mengaplikasikannya ke persoalan ini dan itu? Pengetahuan dasar telah diperoleh, namun menggunakannya secara produktif masih jadi kendala. Merasa frustrasi dengan kemandekan yang dialami, anda akhirnya berhenti mendalaminya.

Setahun kemudian, anda bekerja di perusahaan baru yang menggunakan bidang tersebut dalam pekerjaannya. Karena tuntutan pekerjaan, bimbingan senior, lingkungan kerja, serta kolega yang sama-sama menggeluti bidang tersebut, anda akhirnya ‘dipaksa’ untuk mendalaminya lagi. Namun kali ini berbeda. Aplikasinya jelas (untuk masalah-masalah perusahaan), ada tempat bertanya jika mengalami kebingungan (kolega, mentor, dan senior), ditambah ada tuntutan profesional untuk menguasai bidang tersebut. Dengan kata lain, ada dinamika internal yang mendorong anda. Hasilnya, dalam waktu singkat bidang ini berhasil dikuasai – jauh lebih efektif dari usaha mandiri anda setahun sebelumnya.

II

Di tengah arus globalisasi dan kemudahan informasi ala The World is Flat-nya Thomas Friedman, banyak dari kita yang menganggap sains hanyalah ‘barang’ yang bisa diimpor siapa saja. Strategi impornya saja yang berbeda: ada yang mendatangi “pabrik”-nya langsung alias kuliah ke luar negeri, ada juga yang menghadirkan pabriknya berupa dosen, kurikulum, laboratorium, dan universitas cap luar negeri. Dengan cara demikian, diharapkan perkembangan sains di dalam negeri akan sama dengan (atau bahkan melebihi) negara-negara penghasil ‘pabrik’ sains tersebut. Akhirnya uang pun digelontorkan, beasiswa aktif digalang, instrumen-instrumen laboratorium didatangkan, dan kader-kader terbaik pun dikirimkan – semua dengan harapan aktivitas di dalam negeri terangkat dan suatu saat nanti bisa mengejar ‘ketertinggalan’ di dunia internasional.

Namun setelah dana digelontorkan, instrumen berdatangan, dan kader-kader terbaik pun pulang, sayangnya sains di negara berkembang tetaplah kurang berkembang – atau tidak berkembang cukup cepat. Instrumen yang mampu menghasilkan penemuan terkini di negara asalnya hanya menjadi pajangan setelah didatangkan. Lulus dari universitas ternama di luar negeri ternyata menjadi pencapaian tertinggi sepanjang hayat kader-kader terbaik tersebut. Impian melakukan lompatan (jumpstart) sains masih menjadi angan, meskipun dari segala usaha tersebut sekarang mereka paham kulit terluar sains sebagaimana dilakukan di negara maju penghasil sains.

Di mana salahnya? Apa yang kurang? Bagaimana memperbaikinya? Pertanyaan tersebut diajukan oleh orang yang mulai menyadari ada yang salah. Namun, kebanyakan menyimpulkan bahwa masalahnya adalah usaha kita masih kurang! We need more and more science! Maka uang semakin banyak digenlontorkan, instrumen semakin banyak didatangkan, dan orang-orang pun semakin banyak dikirimkan – sebelum akhirnya mereka sadar tidak ada lagi dana yang tersisa untuk diinvestasikan.

Tulisan ini tidak mengambil perspektif yang terakhir disebutkan. Barangkali, memang ada yang salah atau kurang dalam usaha kita menguasai sains. Di mana salahnya? Apa yang kurang? Bagaimana memperbaikinya? Mari mencoba menjawabnya – namun secara tidak langsung dengan pertama-tama melihat ke masa lampau.

III

Dari berbagai sumber dan literatur sekunder, kita tentu pernah mendengar bagaimana dulu peradaban Islam pernah menjadi primadona sains dunia. Namun sedikit yang mengkajinya dengan serius, sehingga terkesan menjadi apologia belaka dibandingkan pelajaran untuk diambil hikmahnya. Oleh karena itu, barangkali ini waktu yang tepat untuk melihat rekam sejarah dengan kacamata yang baru. Bagaimana sains tumbuh dan berkembang di peradaban Islam? Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang menjadi kunci.

Baca juga:  Talak Ustaz Abdu Somad: Pintu Masuk Evolusi Hukum Perceraian dari Makruh Menjadi Mubah?

Dalam bukunya The Making of Islamic Science (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2009), Dr. Muzaffar Iqbal menjelaskan dengan sangat elegan proses perkembangan enterprise sains dalam peradaban Islam. Disebutkan, dua revolusi berperan penting dalam pengembangan sains di peradaban Islam, yaitu revolusi sosial dan revolusi intelektual. Revolusi sosial disebabkan meluasnya wilayah geografis Islam yang menghasilkan masyarakat majemuk dari sisi ras, budaya, hingga struktur sosial. Revolusi intelektual disebabkan pertemuan dengan tradisi intelektual dari peradaban-peradaban lain seperti Yunani, Persia, dan India.

Sebagai hasil dua revolusi tersebut, tantangan-tantangan (atau boleh juga disebut dinamika internal) muncul di tengah umat Islam, dari yang sifatnya praktis hingga filosofis. Bagaimana menentukan arah kiblat untuk kota-kota yang jauh dari Ka’bah? Bagaimana perhitungan zakat dengan barang-barang yang tidak ada di Madinah dan tidak ada petunjuk umumnya? Bagaimana menerapkan sistem waris ala Islam untuk situasi-situasi yang tidak ada di zaman Nabi? Pertanyaan-pertanyaan di level sosial-politik-ekonomi ini timbul, ditambah juga perdebatan filosofis yang timbul dari proses penerjemahan karya-karya sains dan filsafat, khususnya dari Yunani. Bagaimana memfilter dan menyelaraskannya dengan ajaran Islam jika terdapat konflik? Penerjemahan, kritik, dan reformulasi terus dilakukan sehingga menghasilkan khazanah keilmuan yang sangat luas.

Di level praktis, barangkali salah satu contoh terbaik bagaimana dinamika internal mempengaruhi perkembangan sains dalam peradaban Islam dapat kita temukan di kitab al-Muḵtaṣar fī Ḥisāb al-Jabr wa-l-Muqābala karangan al-Khawarizmi – kitab yang menjadi dasar ilmu aljabar. Al-Khawarizmi menuliskan alasannya menulis kitab tersebut untuk menyelesaikan permasalahan waris dan masalah-masalah praktis geometri yang terjadi di zamannya (“(it is) useful in the calculation of what men constantly need to calculate [for their] inheritance and legacies, [their] portions and judgments, in their trade and in all their dealings with one another [in matters involving] measurement of land, the digging of canals, and geometrical [calculations], and other matters involving their crafts”). Bahkan Al-Khawarizmi mendedikasikan bagian kedua buku algebra-nya untuk diaplikasikan dalam menghitung zakat dan waris.

Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam ilmu astronomi. Di bidang ini, lahir sub-disiplin bernama ‘ilm al-miqat yang berkenaan dengan perhitungan arah kiblat, waktu shalat, dan pergantian bulan. Kesemuanya lahir dari kebutuhan umat Islam yang meluas diakibatkan ekspansi geografis – sebagaimana sebelumnya dijelaskan.

Di level filosofis, dinamika internal yang terjadi di tubuh umat Islam pun tidak kalah menarik untuk diceritakan. Jauh sebelum kedatangan sains dan filsafat alam Yunani, umat Islam telah familiar dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan berpikir dan merefleksikan alam semesta sebagai tanda (āyāt) keberadaan-Nya. Al-Qur’an juga menyediakan “data kosmologis” yang menstimulus umatnya untuk berpikir seperti tentang penciptaan langit dan bumi dalam enam ‘hari’ (7:54, 25:59), Allah-lah yang menciptakan siang dan malam serta matahari dan bulan (21:33), Allah-lah menundukkan matahari dan bulan agar beredar pada orbitnya masing-masing (39:5), dll. Ditambah lagi, ketika ilmu-ilmu dari peradaban lain masuk ke dunia Islam, ilmu-ilmu agama relatif telah mapan sehingga umat Islam memiliki framework yang kokoh untuk memfilternya.

Baca juga:  Dakwah Semakin Merapat di Kota Santri yang Penuh Adat

Dalam konteks inilah, ilmu-ilmu seperti sains dan filsafat dari Yunani, Persia, dan India mengalami adopsi, adaptasi, dan rekacipta. Prosesnya tidak monolitik. Ada yang mencoba menyelaraskan filsafat Yunani dengan ajaran Islam seperti Ibnu Sina dan para falasifah, sementara yang lainnya memilih untuk membangun sistem pemikiran Islam yang digali dari Islam itu sendiri seperti Imam Al-Ghazali dan para mutakallimun. Saling kritik tentu terjadi, namun kita tidak akan masuk ke detail perdebatannya. Melainkan, hal yang digarisbawahi adalah bagaimana dinamika internal yang merupakan kombinasi dari kemapanan ilmu agama, masuknya ilmu-ilmu dari peradaban asing, dan kebutuhan untuk menilainya sesuai pandangan alam Islam mampu menghasilkan proses organik yang berkontribusi positif pada perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam.

IV

Lewat tilikan sejarah singkat tadi, kita dapat melihat bahwa perkembangan sains (atau lebih luas lagi, perkembangan keilmuan) dalam peradaban Islam adalah proses organik yang memang lahir dari kebutuhan internal umat Islam, baik dari ranah praktis maupun filosofis. Meskipun berinteraksi dengan tradisi keilmuan dari luar, perkembangannya tidak dilandasi catching-up syndrome karena ingin ‘mengejar’ peradaban lain.

Sayangnya, dibanding fokus membangun dinamika internal untuk mengembangkan sains, kita lebih sering memburu sains hanya karena ingin mengikuti tren dunia internasional. IoT, Big Data, revolusi industri 4.0, dan berbagai jargon dikemukakan secara superfisial – terutama pada kampanye politik ketika membahas sains dan teknologi. Tentu bukan berarti menguasai bidang-bidang tersebut adalah buruk. Namun seringkali sains kemudian diburu tanpa didahului oleh proses organik yang melandasinya. Akibatnya, sains yang dihasilkan selalu berupa karikatur second-rate dibandingkan sains di negara asalnya.

Putra-putri terbaik bangsa yang kuliah ke luar negeri untuk belajar sains dan teknologi terkini di berbagai bidang kemudian sering dihadapkan dengan dilema: ketika pulang, mereka menyadari bahwa bidang keilmuan yang susah-payah dikuasainya tidak (atau belum) terpakai di dalam negeri. Mengapa demikian? Di zaman sekarang, riset biasanya dibiayai lembaga atau institusi tertentu. Mereka tentu punya kepentingan. Pertanyaannya, samakah kepentingan mereka dengan kepentingan dalam negeri? Samakah dinamika internal yang mereka hadapi dengan yang kita hadapi? Bukankah wajar jika latar belakangnya saja sudah berbeda, arah risetnya juga akan berbeda? Akhirnya ketika pulang ilmunya tidak terpakai.  Bagi mereka yang sadar dan punya kesempatan kemudian memilih untuk kembali ke luar negeri agar bisa mengaktualisasikan ilmunya.

‘Berkiblat’ kepada negara maju dalam hal sains bukanlah hal yang buruk. Bahkan, penting mempelajari sains langsung dari ahlinya. Peradaban Islam pun pada mulanya menerima ilmu dari peradaban lain. Namun harus kita sadari bahwa ‘kiblat’ sains bukanlah kiblat shalat yang kita semua menghadap tanpa kompromi. Perubahan dan adaptasi pasti ada, dan yang menentukannya adalah proses dinamika internal dari bangsa kita sendiri. Bagaimana kita seharusnya memandang perkembangan sains dan teknologi? Apa yang benar-benar kita butuhkan? Seperti apa prioritasnya? Bagaimana strategi pembangunannya? Inilah yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Jika tidak, usaha kita men-jumpstart sains tanpa terlebih dahulu melalui proses dinamika internal ibarat membangun gedung pencakar langit tanpa pondasi.

Baca juga:  Ambivalensi Pemikiran Abu Hāmid al-Ghazālī

Misalnya di bidang kelistrikan, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan tersendiri untuk membangun sistem-sistem kecil kelistrikan di daerah terpencil dan menghubungkannya ke sistem yang lebih besar. Dibanding mengejar Tesla yang sudah memproduksi mobil listrik (padahal kita belum mempunyai backbone industri dan pengetahuan semapan mereka), bukankah riset-riset seperti microgrid dan interkoneksi kelistrikan antar pulau lebih dibutuhkan? Hal ini sama sekali bukan berarti risetnya rendahan karena masih berkutat di wilayah eletrifikasi sebagai kebutuhan dasar. Bahkan, jika dibangun dengan baik, barangkali Indonesia dapat menjadi benchmark dunia di bidang elektrifikasi skala kecil dan interkoneksi antar pulau. Dinamika internal seperti inilah yang harus kita rumuskan.

Sebagai penutup, marilah kita sama-sama merenungi potret kondisi perkembangan sains di negara-negara berkembang (yang banyak diantaranya adalah negara mayoritas Muslim) yang dituliskan dalam buku Dr. Muzaffar Iqbal tersebut:

What these states have done in terms of their efforts for producing science is like erecting a building without a foundation. They sent thousands of students to Europe and North America to obtain doctorates in various branches of science with the hope that they could jump-start the production of science upon their return. The results could have been expected: armed with their PhDs, these students returned home to find there was no infrastructure to do science.

Libraries with the latest journals, laboratories with working instruments, industry in need of scientific and technological solutions to its problems, large pharmaceutical and defense industries (which feed enormous sums of money into the enterprise of science in the West)—none of these features of modern scientific research were present in the Muslim world, to which a substantial number of Western-trained men and women returned in the last quarter of the twentieth century.

These were, however, not necessarily scientists but merely men and women who had been awarded degrees by Western universities and who could do little more than repeat what they had done during their stay abroad. Those who could do truly original scientific research realized they would have to return to the West to do what their profession demanded, for conditions at home were simply not suitable. And so many returned to the West, not in the hundreds or thousands but in the hundreds of thousands. These men and women now work in laboratories and universities as far north as the Arctic and as far south as the South Pole. They are part of the Western scientific enterprise—able scientists who have made substantial contributions to modern science.

Wallahu a‘lam.

Juris Arrozy saat ini sedang menjalani studi doktoralnya di Belanda dalam bidang Electrical Engineering.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: editor.santricendekia@gmail.com

1 comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: