Santri Cendekia
Home » Lapar Ayah (Al-Furqan : 74 part 2)

Lapar Ayah (Al-Furqan : 74 part 2)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

 “Dan orang-orang yang berkata, Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami yang menyejukan pandangan kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Furqan : 74)

 

Setelah memohon agar mendapatkan pasangan-pasangan yang menyejukan pandangan, maka kita berharap agar Allah ‘azza wa jalla juga mengaruniakan kita anak-anak yang menyejukan pandangan. Tapi jangan lupa, hadirnya anak-anak yang menyejukan pandangan kita juga tentu sangat tidak terlepas dari bagaimana kita memperlakukan dan mendidik anak-anak kita. Kita semua mungkin sudah hafal di luar kepala, bahwa 3 amal yang tidak akan terputus meskipun kita telah wafat adalah, Shodaqah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak-anak yang shaleh.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Namun apa yang sering terjadi selama ini? Kita hanya memberikan sisa-sisa waktu dan perhatian kita kepada anak-anak kita, karena hampir seluruh waktu dan perhartian kita sudah kita berikan kepada perusahaan atau hobi dan kesibukan kita yang lain. Padahal yang bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak adalah anak-anak kita, bukan perusahaan atau bos-bos kita. Para ayah harus cerdas dalam memandang prioritas pembagian waktu kita untuk anak-anak kita. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami lebih dalam agar kita tidak memandang remeh soal waktu dan pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak kita.

  1. Anak itu aset dunia akhirat kita. Jika kita berhasil mendidik mereka dengan baik, maka sungguh mereka tidak akan menjadi beban hidup kita di dunia dan di akhirat. Lihat berapa banyak orang tua yang begitu fokus soal akademis dan fasilitas hidup anak-anaknya namun lupa soal perkembangan akidahnya dan akhlaknya. Sekolah tinggi-tinggi tapi salat 5 waktu masih bolong-bolong. Gelar tinggi-tinggi tapi menjadi liberal dan sekuler. Skill beragam tapi tak bisa baca Al-Qur’an. Update soal moral dan manner kepada manusia, tapi lancang terhadap Tuhannya. Terserah apa argumen kita sebagai orang tua, tapi parameter kita berhasil atau tidak di mata Allah, adalah soal bagaimana kita berhasil mengantarkan anak kita mati dengan membawa aqidah yang selamat. Lihat bagaimana potret Ibrahim dan Ya’qub dalam mendidik anak-anaknya dalam Al-Baqarah 132-133.
Baca juga:  Tentang Berita yang Viral dan Teori Mutawatir

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

  1. Mendidik anak, berarti kita juga sedang memberikan sumbangsih bagi terciptanya tatanan masyarakat yang baik. Karena kelak mereka pasti akan menjadi bagian dari masyarakat. Kelak mereka juga akan membangun keluarga dan membangun beberapa generasi keturunannya. Jika kita gagal mendidik mereka, maka sungguh kita telah menyiapkan benih-benih penyakit di dalam masyarakat. Maka jika ada tetangga kita yang mengingatkan atau menegur anak kita ketika mereka berbuat salah, jangan punya mindset,”apa urusanlu? anak juga anak gua!”. Itu adalah pemikiran orang pandir. Kita boleh berpikir seperti itu jika kelak kita punya cita-cita untuk membesarkan anak kita di hutan.
  2. Kita hidup di akhir jaman, dimana pemikiran-pemikiran sesat diobral begitu masif dan tak terbendung. Gaya hidup keji dan mendekati perilaku binatang menjamur dimana-mana. Darah begitu mudah ditumpahkan demi ambisi-ambisi dunia. Setelah semua fakta tersebut, masihkah kita lebih khawatir dengan pekerjaan-pekerjaan kantor dan kesibukan kita dibanding kondisi anak-anak kita?
  3. Anak-anak kita adalah calon pejuang-pejuang islam. Kelak mereka akan berjuang dan berkontribusi untuk islam. Tidak mungkin pejuang islam yang tangguh bisa muncul dari tangan seorang ayah “paruh waktu”.
  4. Sekarang banyak anak-anak biologis namun tidak berhasil menjadi anak ideologis orang tuanya. Jangan menjadi “ayah bisu”, yang selalu gagal menciptkan ikatan-ikatan kuat dengan obrolan-obrolan ringan yang menyentuh qalbu.
  5. Anak-anak kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan dan dibesarkan oleh siapa. Maka mendidik mereka bukan hanya sekedar kewajiban apalagi pilihan. Mendidik mereka adalah hutang besar kita yang menjadi perantara munculnya mereka di dunia ini.
  6. Mendidik anak beda dengan membesarkan ayam potong. Hanya kita gemukan tubuhnya, kita cerdaskan kognitifnya, kita lengkapi skillnya, agar kelak bisa segera di “potong” oleh industri-industri. Mereka seorang khalifah di muka bumi ini, sama seperti kita. Maka besarkanlah mereka dengan layak dan sebagai seorang khalifah yang siap menjemput tugasnya.
Baca juga:  Pembaharuan Ushul Fiqh: Membaca Tawaran Cendikiawan Muslim Kontemporer 

Jangan biarkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang “lapar ayah”.

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar