Santri Cendekia

Lawan Corona dengan COVID!

Lawan Corona dengan Covid”? apa maksudnya? Mungkin itulah pertanyaan yang pertamakali muncul di benak kit. Sebenarnya apa itu Corona dan apa itu Covid? bukankah Corona itu nama lain dari Covid 19? Jawabannya tentu benar bahwa Covid atau Covid 19 itu istilah lain untuk menyebut virus Corona.

Namun dalam tulisan ini saya ingin memaknai lain tentang istilah Covid tentunya dengan perspektif yang berbeda. Tulisan ini juga mungkin berbeda dari tulisan ilmiah lainnya, tulisan yang sederhana ini untuk mudah dibaca oleh sebagian orang yang memiliki perspektif yang berbeda pula tentang corona.

Sudah lebih dari dua pekan (saat tulisan ini dibuat), kita disibukkan dengan berita dan diskusi yang panjang dari berbagai sudut pandang keilmuan mulai dari teologi kegamaan (konsep takdir), kesehatan, ekonomi bahkan juga sisi politik.

Ada banyak orang konsen terhadap perkembangan virus yang satu ini, setiap hari mengikuti berita untuk mendapatkan informasi terkini berapa orang yang sudah masuk ODP, sudah berapa persen yang masuk PDP, siapa saja yang sudah positif bahkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin saya dengar juga adalah sudah berapa orang yang meninggal dunia karena Corona.

Semua informasi yang dibaca atau didengar sedikit banyak dapat berpengaruh terhadap jiwa seseorang. Bagi sebagian orang informasi tersebut dijadikan sebagai langkah untuk terus berhati-hati dan waspada terhadap berbagai kemungkinan penyebaran Corona supaya tidak semakin banyak korban terpapar akibat virus itu.

Namun bagi sebagian lain justru informasi yang begitu masif juga ternyata menjadi sesuatu yang menakutkan hingga terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Informasi tentang Corona baginya menjadi sebuah momok yang sulit keluar begitu saja dari benaknya.

Contoh kasus dalam sebuah komunitas seperti asrama, kos-kosan atau lainnya menjadi tidak nyaman dan bahkan ketakutan jika ada salah satu dari mereka yang bersin-bersin atau batuk-batuk. Ketika ada yang demam bercampur panas mereka menjadi takut dan cemas jangan-jangan dia terpapar Corona. Padahal tidak semua bersin itu mengadung virus Corona dan tidak selamanya demam dan batuk-batuk akibat Corona.

Baca juga:  Jangan Jadi Mahasiswa Salah Orientasi!

Adapun kehati-hatian iya itu sesuatu yang wajib dilakukan dengan cara memperhatikan etika batuk atau bersin. Namun yang menjadikan tidak nyaman dalam sebuah komunitas itu adalah seolah “tanda kutif” yang seperti sudah terkena Corona.

Ada juga seorang ibu yang menjadi panik ketika mendapati anaknya demam, batuk bahkan mencret-mencret sehingga yang ada dibenak adalah anaknya tekena virus Corona. Ternyata beberapa hari kemudian anaknya sehat kembali seperti sediakala. Itulah realita yang terjadi di masyarakat, mungkin masih banyak lagi contoh kasus yang hampir sama sehingga mengakibatkan ketidak nyamanan bagi sebagian orang dalam menjalani aktivitasnya.

Mohon untuk tidak salah paham juga, tulisan ini tidak bermaksud menyepelakan bahaya Corona tetapi sedang menggambarkan seperti itulah yang sedang terjadi di masyarakat teryata Corona efek banyak berpengaruh pada seluruh lapisan masyarakat.

Penulis sedikit berbagi tips untuk menangkal Corona dengan beberapa cara diantaranya dengan membiasakan Cuci tangan, Olahraga, asupan Vitamain, Istirahat yang cukup dan juga perbanyak Doa yang kemudian penulis singkat menjadi COVID. Sehingga mari kita lawan Corona dengan COVID. Adapun yang dimaksud dengan COVID itu adalah:

Pertama: C (ovid) adalah “CUCI”. Seperti anjuran dari medis di antara upaya pencegahan virus corona adalah dengan cara banyak mencuci tangan khususnya setiap selesai melakukan suatu aktivitas atau telah memegang suatu benda. Sebenarnya istilah Cuci ini spiritnya bersumber dari ajaran Islam yang dikenal dengan bersuci seperti membiasakan wudhu. Cara berwudhu diawali dengan mencuci tangan telebih dahulu yang dilanjutkan membasuh angota wudhu lainnya seperti wajah, tangan, kepala dan kaki.

Dalil berkaitan dengan bersuci cukup banyak diantaranya QS. Al-Baqarah ayat 222, hadis Bukhari dari Usman bin Affan tentang wudhu dan juga banyak dalil lainnya yang berkaitan dengan pentingnya menjaga kebersihan.

Baca juga:  Hukum 'Shaf Distancing' demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

Kedua: O (c-O-vid) adalah “OLAHRAGA”. Untuk menjaga stamina para dokter banyak menganjurkan berolahraga sebagai salah satu upaya untuk hidup tetap sehat. Dalam kondisi menghadapi Corona maka tidak salah jika anjuran yang satu ini kita gelorakan kembali, istilah yang seing kita dengar tiada hari tanpa olehraga.

Ajaran Islam juga memberikan isyarat pentingnya sehat seperti perkataan “Mukmin yang kuat (sehat) lebih dicintai dari mukmin yang lemah (tidak sehat)”. Hal ini dibuktikan Nabi SAW yang jarang tekena sakit kecuali beberapakali dalam hidupnya, Nabi juga senang berolahraga seperti memanah, berkuda, gulat dan lainnya. Bagi umat Islam yang menjalankan shalat dengan benar, penuh tumakninah itupun mengandung makna olahraga.

Ketiga: V (co-V-id) adalah VITAMIN. Diantara cara hidup sehat adalah memperhatikan asupan vitamin ke dalam tubuh kita baik berupa makanan atau minuman. Sudah banyak ahli gizi dan kesehatan menganjurkan pentingnya asupan vitamin untuk ketahanan tubuh kita.

Dalam ajaran Islam menegaskan pentingnya memperhatikan sesuatu yang kita konsumsi dari sesuatu yang halal dan thoyib (baik dan sehat secara medis), seperti dijelaskan dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah (2) ayat 168 “Wahai manusia makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi..”.

Keempat: I (cov-I-d) adalah ISTIRAHAT. Aktivitas padat, hiruk pikuk kehidupan, ditambah lagi dengan problem yang silih berganti membuat otak dan fisik kita lelah sehingga istirahat menjadi pilihan yang tepat untuk mengatasi itu semua. Orang yang baik bukanlah orang yang menghabiskan waktunya untuk bekerja terus menerus tanpa diiringi istirahat. Tidak pula dikatakan baik seseorang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah sementara ia mengabaikan yang lainnya temasuk istirahat.

Allah SWT telah menjadikan malam sebagai pakaian (waktu istirahat) untukmu dan menjadikan siang untuk beraktivitas itu adalah konsep keseimbangan hidup (QS. An-Naba (78) ayat 10-11), dan juga semua konsep keseimbangan hidup termasuk istirahat adalah bagian yang tidak terpisahkan (QS.Al-Qashas (28) ayat 77).

Baca juga:  Pandemi dan Wabah Menurut al-Imam Jalaluddin as-Suyuthy

Kelima: D (covi-D) adalah DOA. Dalam menghadapi berbagai bentuk ujian termasuk virus Corona ini tidak hanya usah lahir seperti cuci tangan, olahraga, asupan vitamin dan istirahat  hal lain tidak kalah pentingnya adalah Doa. Tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan kehendaknya Allah melain doa (QS. Ali-Imran (3) ayat 26), dan tidak ada senjata yang paling ampuh untuk menangkal keburukan yang akan terjadi melainkan doa (Hadis Riwayat Hakim). Banyak doa yang bisa dibaca dan kita amalkan, seperti dalam kondisi ini baik sekali jika kita memperbanyak doa sebagai bentuk ikhtiar kepada Allah.

Di antara contoh doa yang dapat kita amalkan adalah hadis riwayat Daud dari Usman bin Affan “Dengan nama Allah dzat yang tidak mendatangkan madharat sedikitpun dengan namanya, dilangit maupun di bumi, dan Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Juga doa lainnya seperti dijelaskan hadis riwayat Daud dari Anas bin Malik “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari penyakit kulit, gila, kusta dan dari segala penyakit mengerikan lainnya”.

Akhirnya mari berjihad bersama dengan mengerahkan seluruh potesnsi dan kemampuan kita dalam melawan wabah virus Corona. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam melawan Corona adalah COVID yakni Cuci, Olahraga, Vitamin, Istirahat dan Doa.

Selain ikhtiar kita masing-masing dengan COVID itu kita juga perlu bersinergi bersama antara pemerintah Negara, para ahli agama (Ulama), para ahli kesehatan (medis) dan semua ahli lainnya untuk bersama-sama berjuang melawan Corona agar segera tebebas dari dari virus Corona ini.

Ali Yusuf

Pengasuh Pondok Pesantren Fauzul Muslimin Kotagede Yogyakarta

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: