Santri Cendekia
story of nabi yusuf
Home » Madrasah Nabi Yusuf

Madrasah Nabi Yusuf

 

Madrasah berarti tempat belajar dan dididik. Jika pada zaman sekarang tempat belajar yang yang familiar adalah sekolah. Sebenarnya, tempat belajar itu tidak sekolah saja. Karena, sejak lahir manusia sudah diperintahkan untuk belajar. Pada Umumnya pendidikan pertama manusia ada pada orang tuanya pada masa berikutnya ia akan terdidik zamannya. Ibnu Khaldun berkata “Barang siapa tidak terdidik orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata karma yang dibutuhkan sehubung pergaulan bersama orang tua mereka, yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajari dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya”.

Begitu juga kisah orang-orang sebelum kita. Dari kecil tidak tahu apa-apa karena gejolak zaman yang tak terkira menjadikannya seorang yang ternama, entah karena terkenal ataupun tercemar. Seorang Nabi yang kisahnya dikenangkan Allah dalam Qur’an Surah Yusuf pernah mengalami kondisi tak terkira, berbagai tipudaya pada zamanya mendidiknya menjadi orang luar biasa. Yang tadinya tak punya apa-apa menjadi penguasa yang kaya raya. Tentu ini semua karena kehendak Allah Subhanahu wa’ta’ala. Perhatikan ayat dibawah ini dan simak kisahnya.

Yusuf berkata, “Wahai Rabbku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk(memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh” Yusuf (12) : 33

Adalah perkataan Nabi Yusuf Alayhi Salam yang tergoreskan dalam Al Qur’an. Yusuf muda yang masih perjaka dipenjara bukan karena tindak kriminal atau kejahatan, akan tetapi karena menolak ajakan mesum Zulaikha Imraatul Aziz atau permaisuri tuannya. Zulaikha memaksa dan mengancam memasukan kepenjara.

Baca juga:  Kiyai Dahlan, Merdeka Belajar, dan Dilema Palsu Pendidikan Kita

Pengadilan Kerajaan terlaksana, saksi ahli keluarga mengatakan apabila pakaian Yusuf robek bagian depan, maka Yusuf bersalah. Namun, jika bagian belakang, maka wanita itu yang salah. Fakta membuktikan pakaian belakang Yusuflah yang sobek. Akan tetapi, apalah arti kebenaran dihadapan pemegang kekuasaan yang kurang kuat iman. Singkat cerita Yusuf dipenjara.

Menurut Ibnu Taimiyah penolakan Yusuf terhadap ajaka Imraatul Aziz merupakan momentum kebangkitan dan kesukssan. Kesabaran Yusuf untuk menolak kemauan Zulaikha lebih sempurna daripada kesabaran saat dibuang saudaranya kedalam sumur. Sebab, kesabaranya untuk menjauhi maksiat adalah pilihan. Kemampuan Yusuf memerangi hawa nafsu begitu luar biasa. Karena disatu sisi ia masih perjaka yang gelora syahwatnya luar biasa. Disisi yang lain, ia bukan orang asli sana yang biasanya tidak merasa malu untuk melalukan sesuatu yang hina. Orang yang menggoda Yusuf adalah permaisuri Raja yang cantik jelita, akan tetapi Yusuf mau menahan nafsunya. Karena pilihanya ia termasuk salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di akhirat dan kisahnya disebut dalam Qur’an adalah kisah yang paling baik.

Dari penjara inilah Yusuf ditempa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada rasa dendam didada akan tipu daya mereka, karena menyadari bahwasanya ini semua adalah skenario Allah Ta’ala; “Wamakaruu wamakarallah, wallahu khairul makirin”; dan mereka orang-orang kafir) membuat tipudaya, maka Allahpun membalas tipudaya. Dan Allah sebaik-baik pembuat tipudaya (Ali Imran  : 54).  Melalui intervensi Allah Ta’ala Yusuf bisa berkuasa, tidak kurang satu dekade berikutnya. Ia juga dikarunia berkuasa selama lebih dari setengah abad lamanya.

Penjara tidak selalu identik dengan tempat orang yang hina. Banyak insan mulia yang juga masuk penjara. Mereka dipenjara karena memegang kebenaran. Pemegang kebenaran selalu akan dihadang pengikut kebathilan. Bagi mereka penjara bukanlah akhir perjuangan dan akhir dari kebaikan. Banyak berkah yang mereka dapatkan dari penjara. Tak sedikit yang mendapat hidayah dari sana dan tak sedikit juga karya fenomenal lahir dari sana. Ibarat sebuah madrasah, sebut saja Madrasah Nabi Yusuf.

Baca juga:  Muhammadiyah dan Pembubaran Diskusi

Alumnus Madrasah Nabi Yusuf dan Karya Besar

Dalam sejarahnya Madrasah Nabi Yusuf telah melahirkan Karya Fenomenal dari orang-orang hebat. Diantaranya adalah Ibnu Taimiyah, ia pernah dipenjara sebanyak 7 kali dan mengarang 30 jilid kitab Majmu’ Fatawa juga didalam penjara. Al Sarkashi menulis kitab Mabsuth setebal 30 jilid juga saat di penjara. Aq’ad bin Al Atsir juga menelurkan kitab Jami’ul Ushul wan Nihayah sebanyak 30 jilid juga saat di penjara. Sayyid Qutb menulis kitab Tafsir Fie Zhilaalil Qur’an dan Ma’alim fith Thariq juga saat mendekam di penjara. Hamka juga menulis Tafsir Al Azhar juga ketika di penjara. Bagi orang besar penjara bukan halangan untuk berkarya dan menebar manfaat. Tetapi untuk berkarya tidak harus masuk penjara terlebih dahulu. Selagi masih segar mari ukir karya besar.

 

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar