Manajemen Krisis ala Nu’aimain (Dua Nu’aim) Part 1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Pada tadabbur siroh kali ini, penulis akan bercerita tentang dua orang sahabat yang memiliki nama Nu’aim, Nu’aim bin Abdullah ra dan Nu’aim bin Mas’ud ra. Penulis memilih dua nama ini dalam edisi kali ini karena dua orang sahabat Nabi ini memiliki kisah yang mirip. Dua-duanya sama sama sangat sedikit atau bahkan hanya sekali (sepengetahuan penulis) muncul dalam siroh nabawiyah, namun sepak terjang keduanya begitu luar biasa dengan kecerdasan di kondisi krisis.

Nu’aim bin Abdullah, Nu’aim yang pertama ini muncul di fase makkah. Sepak terjangnya yang terkenal namun mungkin sering kita lupakan adalah ketika beliau berhasil membuat Umar berbalik arah, yang sebelumnya ingin membunuh Rasulullah, malah berbalik arah menuju ke rumah adiknya, Fathimah binti Khattab, dan akhirnya mendapatkan hidayah. Atas izin Allah, beliau mampu memutarbalikan kondisi yang krisis. Itulah mengapa, setiap kita menyimak proses keislaman Umar, Nu’aim selalu ada di dalamnya. Mari kita simak kisah lengkapnya.

Ketika Umar di puncak kekhawatiran akan perpecahan orang-orang Quraisy ‘akibat’ ajaran islam yang dibawa oleh Rasulullah, Umar pun mengambil sebuah keputusan besar yang ‘heroik’. Umar akan membunuh Rasulullah agar kaumnya tidak lagi terpecah belah. Setelah itu dia akan menyerahkan dirinya untuk dibunuh oleh Bani Hasyim. Bahasa kerennya, Umar mengorbankan dirinya demi persatuan kaum yang dicintainya, kaum Quraisy. Umar berjalan dengan pedang terhunus. Beliau mencari-cari di mana posisi Rasulullah saat ini. Di tengah jalan, beliau bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah ra.

“Hendak kemana engkau, ya Umar?”, Tanya Nu’aim.

“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawab Umar.

“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad?”

“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama nenek moyangmu?”, Tanya Umar.

“Maukah engkau ku tunjukan yang lebih mengagetkan dari itu wahai umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah murtad dan meninggalkan agamamu!”, jawab Nu’aim. [1]

Kitapun tahu, setelah dialog legendaris ini, Umar pun marah dan mendatangi rumah adiknya, hingga akhirnya masuk islam.

Ada 5 poin kronologi yang perlu kita petik dari Nu’aim bin Abdullah.

  1. Nu’aim cermat menangkap fenomena yang berbahaya dari berjalannya Umar berkeliling makkah dengan pedang terhunus.

Hikmah: tidak mungkin seseorang bisa memanajemen krisis dengan baik jika untuk sekedar peka dan cermat menangkap persoalan saja ia sudah gagal. Karena kunci pertama dari penyelesaian masalah itu adalah kemampuan untuk mengenali masalah. Kemampuan ini pun yang membuat Rasulullah bertahanuts di gua hira.

 

  1. Nu’aim sigap berinisiatif untuk memulai dialog.

Hikmah: Setelah mengenali masalah, jadilah orang yang pertama untuk berani dan berinisiatif mengambil sikap. Terkadang, banyak orang yang sadar akan masalah yang terjadi di sekitarnya, tapi sedikit yang berani mengambil sikap untuk menjadi solusi.

 

  1. Nu’aim memberikan ‘serangan’ pertama berupa intimidasi, “Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad?”. Namun serangan ini gagal karena memang Umar sudah siap juga untuk menyerahkan nyawanya.

Hikmah: intimidasi selalu jadi cara yang cukup berhasil untuk menjatuhkan moral lawan dan memenangkan pertandingan sebelum pertandingan di mulai. Nu’aim berusaha mengintimidasi Umar, walaupun ternyata cara ini masih gagal.

 

  1. Umar melempar pertanyaan ‘critical’. “Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama nenek moyangmu?”. Nu’aim tidak menjawab pertanyaan Umar dan malah memberikan jawaban seraya mengalihkan isu.

Hikmah: kecerdasan Nu’aim berjalan lagi di sini. Cara terbaik menerima serangan ‘critical’ adalah dengan tidak menanggapinya dan justru melempar isu lain yang lebih menarik. Meladeni jawaban ini hanya akan memperburuk dan memojokan posisi Nu’aim. Hal ini juga dilakukan oleh ahok dan timnya ketika mendapatkan serangan soal isu lokalisasi, miras, dan alexis dalam debat cagub dan cawagub.

 

  1. Nu’aim memberikan ‘serangan’ kedua sekaligus menjadi counter attack dari pertanyaan Umar. “Maukah engkau ku tunjukan yang lebih mengagetkan dari itu wahai umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu telah murtad dan meninggalkan agamamu!”. Ini menjadi jawaban pamungkas yang akhirnya merubah jalur cerita 180 derajat.

Hikmah: Nu’aim memilih alternatif terakhir dengan kaidah “menghilangkan kemudharatan besar dengan kemudharatan yang jauh lebih kecil”. Nu’aim terpaksa ‘mengorbankan’ Fathimah binti khattab dan keluarganya demi keselamatan Rasulullah. Tapi tentu cara ini dilakukan dengan penuh perhitungan. Kita tahu di masa arab jahiliyyah, fanatisme kekeluargaan bahkan bisa lebih kuat daripada fanatisme agama. Umar bin Khattab, semarah apapun beliau, tentu sangat tidak mungkin beliau membunuh saudarinya sendiri. Tentu mengalihkan Umar ke rumah adiknya, jauh lebih aman daripada membiarkan Umar melanjutkan pencarian Rasulullah dan rencana pembunuhannya.

 

Dan yang paling hebat dari adegan ini adalah, semua konsep ini terjadi hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat. Mereka yang pandai memanajemen krisis, biasanya memang memiliki kemampuan untuk memikirkan banyak hal dalam waktu yang relatif singkat dan menemukan jalan keluarnya. Karena situasi krisis, tidak akan mau menunggu kita untuk duduk merenung lama dan berpikir. Hal ini bukan hanya sekedar bakat, melainkan juga dapat dilatih. Dan cara terbaik melatih hal-hal seperti ini adalah dengan banyak terlibat kerja-kerja di lapangan yang memiliki masalah-masalah tak terduga.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

[1] Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Syafiyyurrahman Al-Mubarakfury

irfan fahmi

material engineering at PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tinggalkan komentar