Santri Cendekia
Home » Masalah Klitih, Masjid Bisa Apa?

Masalah Klitih, Masjid Bisa Apa?

Akhir-akhir ini masalah klitih kembali muncul yang sudah lama menjadi ancaman bagi keselamatan warga yang beraktivitas pada malam hari. Tidak hanya di Jogja, korban pembacokan klitih yang berujung hilangnya nyawa pun sudah sampai area Solo Raya, yakni tercatat di Sukoharjo dan Boyolali. Ditelusuri secara genealogis, masalah klitih yang sudah terjadi berlarut-larut berasal dari kenalan remaja di tingkat sekolah menengah yang berujung pada pertengkaran antar kelompok. Dari sini kita patut bertanya, apa yang bisa dilakukan masjid menghadapi masalah keselamatan jiwa dan keamanan lingkungan ini?
.
Munculnya fenomena kenakalan remaja yang terbilang ekstrim seperti klitih, selain faktor keluarga dan lingkungan sosial, tidak bisa dilepaskan dari tidak berjalannya peran pendidikan masjid untuk usia remaja. Hal ini ditandai dari masih banyak masjid tidak memiliki komunitas remaja yang menunjukkan tidak berjalannya pendidikan dan pembinaan khusus untuk jamaah masjid yang berusia remaja. Keberadaan remaja masjid pun belum tentu menandakan berlangsungnya peran tersebut, apalagi ketiadaan komunitas remaja yang berpusat di masjid.
.
Kalaulah orangtua tidak mampu berperan melangsungkan pendidikan di lingkup keluarga dan lingkungan sosial di sekolah sarat dengan perilaku kekerasan, jika masjid mampu merealisasikan perannya, maka fungsi pendidikan terhadap kalangan remaja dapat diambil alih masjid sebagai institusi sosial keagamaan umat Islam, selain melangsungkan pula fungsi pendidikan bagi orangtua agar dapat mendampingi tumbuh kembang anaknya dengan baik. Kita dapat membayangkan, jika masjid-masjid di Indonesia yang tersebar merata dari Sabang sampai Merauke dapat berperan optimal, maka kenakalan di kalangan remaja dapat diminimalkan hingga dinihilkan.
.
Namun gagasan ini tampaknya masih sangat jauh dari mungkin untuk direalisasikan mengingat begitu banyak performa masjid yang belum baik. Merealisasikan peran pembentukan masyarakat Islam yang bermukim di sekitar masjid pun belum mampu, apatah lagi merealisasikan peran kewilayahan yang merupakan bagian dari peran khidmat masjid yang mensyaratkan soliditas dan solidaritas masyarakat Islam yang berpusat di masjid.
.
Peran masjid mewujudkan keamanan lingkungan masih menjadi tanya tanya di tengah kondisi masjid sendiri yang tidak aman. Rumah Tuhan yang seharusnya menjadi tempat paling aman, ternyata kerapkali menjadi lokus terjadinya tindak kejahatan. Dari pencurian alas kaki jamaah, kotak amal, sampai kendaraan bermotor. Bahkan yang membuat saya tidak habis pikir, saya pernah mengalami kehilangan sepatu di suatu masjid kampus yang dilengkapi sistem keamanan satpam dan CCTV. Ketika saya tanyakan kepada penjaga, hanya jawaban tidak tahu yang dapat disampaikan kelasa saya dikarenakan banyaknya jumlah jamaah yang berdatangan.
.
Pun tidak sekali dua kali saya mendapatkan informasi terjadinya pencurian di rumah kos yang posisinya tepat bersebelahan dengan masjid. Dinding pagar yang tinggi untuk menjaga keamanan masjid menjadikan jamaah yang melangsungkan kegiatan di dalam masjid tidak dapat mengawasi lingkungan di luar masjid secara visual. Ironisnya lagi, pagar tinggi itu pun tidak mampu melindungi masjid dari tindakan pencurian.
.
Berbagai tindak pencurian yang terjadi di masjid dan di lingkungan sekitar masjid semakin menunjukkan tidak berjalannya peran masjid di tengah masyarakatnya. Pencurian yang dilatarbelakangi kesempitan kondisi ekonomi menandakan tidak hanya peran pendidikan, tetapi juga tidak berjalannya peran ekonomi masjid melalui distribusi harta dari jamaah yang mampu kepada jamaah yang tidak mampu, hingga pada pemberdayaan jamaah dalam lingkup yang luas. Tampaknya masjid harus kembali menengok konsep pager mangkok yang telah terbukti keampuhannya dibandingkan sebatas menerapkan sistem keamanan yang bersifat arsitektural dan teknologis.
.
Lalu apa yang bisa dilakukan masjid? Pertama, dari aspek fungsional, masjid menyelenggarakan pembinaan pendidikan dan ekonomi untuk seluruh jamaah dengan tujuan menekan munculnya tindak kriminal dan mewujudkan lingkungan hidup yang aman dan penuh keselamatan, tidak terkecuali dari masalah klitih. Yang tidak kalah penting, masjid menyelenggarakan pelatihan beladiri ringkas bagi jamaah serta menjalin kerjasama antara petugas keamanan dengan umat Islam melalui komunitas Tapak Suci, Pagar Nusa, KOKAM, GP Ansor, untuk menyebut saja beberapa komunitas di kalangan umat Islam yang dapat dilibatkan dalam penjagaan lingkungan yang berpusat di masjid.
.
Kedua, dari aspek arsitektural, masjid menjadi salah satu titik pengawasan lingkungan. Untuk itu masjid mensyaratkan menerapkan unsur arsitektural yang memberi kemudahan visual dari dalam masjid ke arah luar area masjid, seperti pagar yang pendek maupun bukaan bangunan masjid ke arah luar. Poin ini harus didukung peningkatan intensitas kegiatan masjid hingga larut malam, bahkan sepanjang hari dengan menyelenggarakan program MABIT secara rutin, sehingga aktivitas pengawasan dapat berjalan sepanjang hari.
.
Terakhir, agar berdampak lebih luas dan kuat, meminjam strategi objektivikasi yang ditawarkan Kuntowijoyo, sudah seharusnya realisasi dua poin di atas melibatkan kerjasama antar umat beragama dikarenakan masalah keamanan dan keselamatan tidak saja dialami umat Islam, tetapi oleh seluruh umat beragama. Direalisasikannya poin-poin tadi diharapkan dapat mewujudkan masjid sebagai Rumah Tuhan yang aman dan memberi keamanan serta selamat dan mewujudkan keselamatan.
Oleh: Andika Saputra (Arsitektur Islam UMSse46)
Baca juga:  Masjid dan Kehadiran Islam
Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar