Santri Cendekia
Home » Masuk Islam karena Benci Zionis Israel, Emang Boleh?

Masuk Islam karena Benci Zionis Israel, Emang Boleh?

Tanggal 20 Oktober, 13 hari setelah serangan mendadak Hamas ke Israel, netizen TikTok, Megan B. Rice, merilis sebuah video penuh emosi. Dalam video tersebut, ia menyoroti kekuatan iman masyarakat Palestina yang tetap bersyukur kepada Tuhan meski menghadapi kerugian besar, termasuk kehilangan anak-anak mereka.

Dua minggu pasca 7 Oktober, lebih dari 4.000 warga Palestina, termasuk banyak anak-anak, gugur akibat serangan udara Israel yang tak henti-hentinya. Krisis kemanusiaan melanda Jalur Gaza. Kekurangan bahan bakar, makanan, air, dan listrik menjadi keseharian. Human Rights Watch menyebut kondisi ini sebagai “bencana kemanusiaan”.

TikTok menjadi gelombang besar respons terhadap krisis ini. Megan B. Rice, yang sebelumnya populer dengan konten seputar kehidupan sehari-hari, budaya pop, dan buku, mulai menyoroti perlakuan Israel terhadap Palestina. Videonya berhasil menyedot lebih dari 1,1 juta penonton, dan banyak pengguna TikTok lainnya yang menyatakan dukungan.

Fenomena menarik terjadi di TikTok. Banyak orang Kristen dan Yahudi di Amerika, terinspirasi oleh kekuatan iman rakyat Palestina, mulai mempelajari Islam. Beberapa di antaranya bahkan mengumumkan konversi mereka ke Islam. Megan B. Rice adalah salah satu dari mereka. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia bertransformasi dari tidak beragama menjadi seorang Muslim yang taat. Perasaannya terhadap situasi di Palestina menjadi pemicu konversinya.

Tak hanya Rice, beberapa tokoh TikTok lainnya juga berbagi cerita serupa. Clarke Jones, seorang wanita Amerika yang tumbuh dalam lingkungan gereja konservatif, memutuskan untuk masuk Islam setelah menyaksikan perjuangan rakyat Palestina. Jamie Rosario, seorang pemilik produk di Tampa, Florida, yang sebelumnya lebih tertarik pada astrologi dan mistisisme, juga melakukan hal yang sama.

Setelah serangan 7 Oktober, pencarian tentang Al-Quran di Google melonjak, dan tagar “Quran Book Club” di TikTok mencapai lebih dari 15,8 miliar penayangan. Beberapa orang, termasuk Rice dan seorang kreator sebelumnya yang beragama Yahudi, bahkan berpindah keyakinan menjadi Muslim.

Baca juga:  Selayang Pandang Usaha Nyata Afrika Selatan di International Court of Justice

Namun, muncul pertanyaan tentang keaslian konversi ini. Apakah ini benar-benar didorong oleh panggilan spiritual yang mendalam atau hanya tren media sosial yang sedang naik daun? Mohammed Hafez, seorang profesor Palestina-Amerika, mengatakan bahwa banyak orang yang berpindah agama selama krisis politik adalah individu yang mencari identitas dan makna dalam hidup. Mereka merasa terhubung dengan komunitas Muslim dan Palestina, dan ini menjadi faktor penting dalam proses konversi mereka.

Bukan hanya konversi agama yang menjadi sorotan, konten TikTok yang berkaitan dengan Islam, seperti surat terbuka Osama bin Laden, juga mendapat perhatian. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan politisasi dan radikalisasi di platform ini. Meski banyak yang percaya bahwa konversi ini bersifat otentik, beberapa tetap skeptis dan melihatnya sebagai tren media sosial. Megan B. Rice bahkan menerima kritik dan tuduhan menjadi “Muslim palsu” setelah mengumumkan bahwa dia akan berhenti memberikan pelajaran Al-Quran di TikTok Live.

Emang Boleh?

Menanggapi fenomena di atas, tim Santri Cendekia telah mewawancarai Ustaz Nur Fajri Romadhon beberapa waktu silam. Beliau adalah seorang ulama muda yang baru saja menyelesaikan studi di Arab Saudi. Sehingga jawaban yang ia berikan bukan datang dari sosok yang mentah baik secara keimanan maupun keilmuan. Seperti masak air biar mateng, cakep, pengetahuannya akan hukum Islam telah layak dikonsumsi.

Dalam serangkaian syarat yang disebutkan oleh Ustaz Nur Fajri mengenai masuk Islam, satu aspek yang dianggap ideal adalah rasionalitas atau keberakalan. Artinya, seseorang yang memutuskan untuk memeluk agama Islam seharusnya memiliki alasan-alasan yang dapat dijelaskan secara rasional. Namun, tidak menutup kemungkinan juga seseorang masuk Islam karena alasan emosional.

Kisah keislaman Hamzah bin ‘Abdilmuththalib Radhiyallaahu ‘Anhu menunjukkan bahwa emosi juga dapat menjadi pendorong yang kuat menuju pintu Islam. Kisah Hamzah dimulai saat Abu Jahal, salah satu tokoh Quraisy, mencaci maki dan mengganggu Nabi Muhammad SAW di Bukit Shafa. Meskipun dianiaya, Nabi Muhammad tetap tenang dan tidak membalas. Kejadian tersebut menjadi peluang bagi Hamzah untuk menyaksikan ketabahan Nabi.

Baca juga:  Konflik Palestina-Israel bukan Perang tapi Pembersihan Etnis

Emosinya tersulut ketika budak perempuan Abdullah bin Jad’an memberitahu Hamzah tentang perlakuan buruk Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad. Murka, Hamzah segera menghadap Abu Jahal di Masjidil Haram. Dengan penuh emosi, Hamzah menyatakan keberaniannya dan memukul Abu Jahal dengan busur panah hingga menimbulkan luka-luka di wajahnya. Pertikaian tersebut memicu kemarahan suku-suku yang terlibat, namun Abu Jahal mengakui bahwa dia telah mencaci maki saudara Hamzah. Moment emosional inilah yang kemudian menjadi awal perjalanan Hamzah menuju Islam.

Begitu pula dengan Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah. Pada saat Perang Uhud, Nusaibah tidak hanya berperan sebagai pemasok logistik dan medis, tetapi juga tampil sebagai pejuang yang siap mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Rasulullah SAW. Kesetiaan Nusaibah terhadap Islam dipicu oleh keharuan melihat kondisi umat Islam diserang oleh musuh.

Tindakan heroiknya saat melibatkan diri dalam pertahanan umat Islam selama Perang Uhud menjadi bukti nyata dari kesetiaannya terhadap agama dan Rasulullah. Ketika melihat Rasulullah berada dalam bahaya, Nusaibah dengan cepat bersenjata dan bersatu dengan yang lainnya untuk membentuk barisan pertahanan.

Fakta historis Hamzah dan Nusaibah di atas menunjukkan bahwa konversi beberapa individu ke Islam, seperti Megan B. Rice, Clarke Jones, dan Jamie Rosario, menunjukkan bahwa emosi, khususnya kebencian terhadap perlakuan Zionis Israel kepada umat Islam di Palestina, dapat menjadi pendorong yang sah seseorang memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Saat ditanya, apakah kita boleh curiga terhadap seseorang yang masuk Islam karena hanya bermodalkan kebencian? Ustaz Nur Fajri menjawab bahwa Rasulullah Saw tidak pernah menegur Hamzah dan Nusaibah dengan tatapan penuh curiga ketika mereka memeluk Islam. Sebaliknya, Rasulullah memberikan kedudukan yang mulia bagi keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada contoh dari Rasulullah untuk menghakimi kemuallafan seseorang hanya berdasarkan dugaan awal yang mungkin terlihat sebagai alasan sosial atau emosional.

Baca juga:  Shoah dan Holocaust: Titik Balik Sejarah Pembelaan Barat terhadap Israel

Kisah Hamzah dan Nusaibah mengajarkan kita bahwa perjalanan spiritual setiap individu adalah unik dan kompleks. Meskipun pada awalnya mungkin terlihat bahwa mereka memeluk Islam karena alasan kebencian terhadap perlakuan musuh Islam, namun keduanya kemudian menunjukkan komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap agama Islam. Jika menuju Roma saja banyak jalannya, apalagi masuk Islam.

Oleh karena itu, konversi Megan B. Rice, Clarke Jones, dan Jamie Rosario sebagai bentuk tanggapan terhadap kelakuan bengis Zionis Israel di Jalur Gaza tidak perlu dicurigai. Sebaliknya, sebagai umat Islam, doa menjadi langkah yang lebih baik untuk diambil. Doaakan agar mereka diberikan kekuatan, keteguhan, dan keberkahan. Semoga mereka menjadi para pembela Islam yang tangguh dan mantap di dunia maya.

Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: [email protected]

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar