Santri Cendekia

Memahami Relasi Agama dan Sains melalui Kisah Penyerbukan Kurma

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, yang kemudian dishahihkan oleh Imam Muslim, “Suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam melihat para sahabat yang sedang mengawinkan pohon kurma (membantu penyerbukan), lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabat tersebut “apa ini?” Para sahabat menjawab, “dengan begini kurma akan menjadi lebih bagus Ya Rasulullah”.

Lalu Rasulullah menjawab, “seandainya tidak kau lakukan itupun pohonnya akan tetap bagus”

Setelah mendengar perkataan Rasulullah, para sahabat tidak lagi mengawinkan pohon pohon kurma yang mereka tanam dan membiarkan penyerbukan terjadi dengan alami.

Namun ternyata ketika hasil panen, kurma yang dihasilkan menjadi jelek, dan Rasulullah yang melihat kurma jelek tersebut pun bertanya, “kenapa kurmanya bisa jadi jelek seperti ini?”

Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu..(maksudnya dulu Rasulullah yang memerintahkan untuk membiarkan kurma kurma tersebut mengalami penyerbukan secara alami”

Lalu Rasulullah dengan segala dan di atas kecerdasan, kepandaian, dan ketawadhu’an beliau menjawab,

“Antum a’lamu bi amri dunyakum”

(Kalian lebih tahu soal urusan dunia kalian).

Ini adalah sebuah keteladanan dan pelajaran penting bagi muslimin di masa ini dan masa manapun. Bahwa seorang Rasulullah, seorang Nabi dan pemimpin umat, penghulu para Nabi, manusia terbaik, berani mengakui bahwa untuk urusan keduniaan, khususnya ilmu sains yang berhubungan soal penyerbukan kurma, para sahabat lebih tahu dari beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak hanya karena beliau seorang yang memiliki posisi khusus di tengah-tengah manusia, membuat beliau pongah dan merasa bahwa beliau yang lebih tahu tentangs segala persoalan.

Sekarang kita tarik insight dari cuplikan sejarah yang singkat namun mendalam ini sebagai kaca mata dalam memandang fenomena wabah virus corona saat ini.

Baca juga:  Allah Tidak Ingin Mempersulit Kita

Apa apa yang menjadi fakta sains yang dipelajari, ditemukan, dan disampaikan oleh para pakar mengenai penyebaran virus corona, tidak perlu dihadap hadapkan dengan dalil dalil agama.

Yang sedang hot adalah soal pro kontra anjuran untuk meninggalkan salat jum’at dan salat berjamaah di masjid bagi daerah daerah yang memang rawan atau terbukti sudah tersentuh oleh wabah corona.

Di saat seperti ini, jika kita dihadapkan oleh dua anjuran;

Yang pertama, anjuran para saintis untuk menjauhi dan meminimalisir dampak dampak penyebaran corona yang terafirmasi oleh fatwa ulama sekaliber MUI dan beberapa Ulama di Indonesia.

Yang kedua, anjuran para pemuka agama dan beberapa tokoh politik yang menganjurkan untuk tetap salat ke masjid apapun keadaannya, padahal pemuka agama dan para tokoh politik tersebut tak benar benar memahami seberapa besar dan bahayanya dampak wabah corona, maka tentu kita harus mengambil anjuran yang pertama.

Karena anjuran yang pertama sudah jelas melalui integrasi pendapat dua kelompok besar yang terdiri dari dua jenis pakar, pakar sains (baik para pakar medis, virologi atau epidemiologi) dan pendapat Para Ulama. Kesimpulan dan keputusan yang keluar lebih matang dan bisa dipertanggung jawabkan.

Dan sekali lagi, kita kembali pada kisah di atas, bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita, urusan dunia, serahkan pada ahlinya, yaitu para saintis. Hasil kajian kajian yang telah mereka validasi pun mendapatkan tempat tersendiri yang selanjutnya akan dikaji, ditelaah, ditimbang, dan diolah menjadi produk fatwa oleh para Ulama yang mumpuni yang menguasai sekian banyak disiplin ilmu dalam syariat seperti tafsir, ushul fiqih, ilmu hadist, kaidah fiqih, Maqashid Syari’ah, dsb.

Kita juga harus berkaca pada sejarah kelam barat. Yang menyebabkan barat menjauhi bahkan anti terhadap agama karena di masa lalu, agama memiliki relasi historis yang tidak baik dengan sains. Dimana para pemuka gereja menganggap “fatwa-fatwa” saintis yang bertentangan dengan teori gereja sebagai sebuah bentuk kekafiran dan penentangan terhadap otoritas gereja. Tidak sampai di situ, diskriminasi, pengasingan, pengucilan, bahkan hingga persekusi dan penyiksaan pun dilakukan oleh Institusi Gereja (Inquisisi) kepada para saintis yang tidak mau rujuk dari pendapat mereka dan kembali tunduk terhadap fatwa-fatwa gereja. Galileo Galilei mendapatkan pengucilan dari gereja karena mendukung teori heliosentris-nya Copernicus, karena gereja pendukung teori geosentris. Giordano Bruno, lebih naas, dibakar hidup-hidup karena pemikirannya mengenai semesta dan atom yang berseberangan dengan dogma gereja kala itu.

Baca juga:  Sabar dan Saling Menjaga Kesabaran! (Ali-Imran : 200 part 1)

Tentu potret sejarah yang menyedihkan ini tidak perlu terjadi di dalam bentang sejarah peradaban islam.

Jangan serahkan persoalan dunia kepada tokoh agama yang tidak menguasai persoalan tersebut. Bahkan sekaliber lembaga Robithoh ‘Alam Al-islami, ketika hendak mengeluarkan fatwa soal imunisasi, mereka mengundang para pakar imunisasi sebagai narasumber agar mereka benar benar memahami perkara imunisasi sebelum berfatwa. Tak hanya karena mereka para Ulama ulama yang ‘Alim, mereka merasa berhak berfatwa urusan apapun tanpa berdiskusi dengan para pakar sains.

Beda dengan kita, Ulama bukan, Penuntut ilmu bukan, baca kitab tak pernah, mengaji jarang, tapi urusan debat dan fatwa paling mantap. Itu mengapa kita banyak tergelincir dan menggelincirkan orang.

Allahu a’lam

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: