Santri Cendekia

Memahami Tradisi Islam di Jawa

Oleh : Ustadz Arif Wibowo

Franz Magnis Suseno, seorang Pater Jesuit yang juga cendekiawan kondang Katolik, dalam bukunya etika Jawa menuturkan :

” … diantara para pemakai Bahasa Jawa, dapat dibedakan antara mereka yang secara sadar mau hidup sebagai orang Islam, dan mereka, disamping orang Kristen dan orang Jawa bukan Islam lain, yang walaupun menamakan diri beragama Islam, namundalam orientasi budaya lebih ditentukan oleh warisan pra Islam. Kepustakaan anthropologis tentang orang Jawa-santri dan orang Jawa-abangan. Walaupun kedua golongan itu merupakan orang Jawa sungguh-sungguh, namun dalam buku ini, dibatasi dengan orang Jawa pada orientasi pra Islam. Dengan ini tidak mau dikatakan bahwa orang Jawa-Islam tidak menunjukkan banyak dari ciri-ciri yang akan disebut khas Jawa, melainkan dalam mencari ciri-ciri Jawa itu, kami hanya mempergunakan bahan-bahan tentang orang Jawa dengan orientasi dasar pra Islam. ”

Pandangan Romo Magnis sepertinya masih mewarisi pandangan pendahulunya, yakni van Lith dan keumuman cendekiawan kolonial serta murid-murid didikan politik etis. Oleh karena itu menjadi menarik untuk menela’ah, bisa kan Jawa itu dipisahkan dari Islam sebagai salah satu unsur utama pembentuk karakter kebudayaannya? Pembagian muslim menjadi modernis dan tradisionalis memang menyimpan bom waktu tersendiri. Penolakan modernisme Islam akan mistisisme ekstrim yang memang sempat berkembang di sebagian komunitas muslim, dalam pandang para cendekiawan Barat dijadikan landasan untuk melakukan pengkotak-kotakan umat. Padahal, hal yang seperti itu lumrah, karena sebagai sebuah agama dan juga peradaban, Islam mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan problem internalnya sendiri.

Pandangan yang mencoba mendikhotomikan atau memisahkan santri dan abangan, sebagaimana yang diyakini oleh Romo Magnis dan Geertz anthropolog rujukan tentang Jawa misalnya, lebih dikarenakan kegagalan dalam mendefinisikan mana unsur Islam dan mana unsur pra Islam dalam kebudayaan Jawa. Meski, bisa jadi itu karena proses interpolasi, yakni memasukkan realitas manusia Jawa ke dalam konsepsi yang sudah diyakininya. Geertz meneliti dalam kondisi yang tidak ideal, dimana masyarakat Jawa pada saat itu sedang gandrung dengan ideologi partai politiknya, sehingga sintesis mistik itu tertutup oleh pengkutuban dan jargon partai politik.

Baca juga:  Dialog Ayu Utami dan Naquib al-Attas Tentang Sekulerime dan Kerusakan Alam

Orang-orang santri berafiliasi ke Masyumi, dan kebanyakan mereka pedagang, sehingga definisi dalam khazanah sosiologi dan antrhropolgi di Indonesia lebih sering merujuk ke kaum modernis. Sedangkan pemilik asli tradisi santri, kaum sarungan, yakni mereka yang selama ini disebut anthropologis, karena mempunyai irisan kultur yang kuat dengan kaum abangan di dalam ritus slametan, mendapat getah, karen kemudian tidak disertakan dalam berbagai kepustakaan ilmiah, dan yang lebih parah lagi dituding melakukan sinkretisme kebudayaan dengan warisan Hindu Budda oleh sesama kaum muslimin.

Kesalahan Geertz kata Marshal GS Hodgson dalam The Venture of Islam adalah kesalahan sistematik yang besar, yakni mengidentifikasi kaum santri berdasarkan kerangkan yang diberikan kaum skripturalis, dan pada saat yang sama mengelompokkan kaum muslimin lainnya ke dalam kelompok abangan. Dan kelompok terkahir ini, secara simplistis dia sebut sebagai lebih menganut tradisi Hindu-Budda daripada Islam . Serupa dengan Marshal GS Hodgson, peneliti Jepang, Nakamura mengkritik trikhotomi masyarakat Jawa oleh Geertz ini. Sembari merujuk The Shorter Encyclopedy of Islam, Nakamura menunjukkan :

”Istilah-istilah yang menjadi kunci tata nilai masyarakat Jawa ini sebenarnya berasal dari bahasa arab dan bersumber dari ajaran Islam, dan pemakaian istilah-istilah tersebut dalam bahasa Jawa kontemporer sangat serasi dengan pengertian religius aslinya. Istilah sabar umpamanya, berasal dari bahasa arab sabr. Istilah ini muncul dalam Al Qur’an dengan makna Sabar (Al Qur’an 23:111; 28:54; 38:17) dan tawakkal (Al Qur’an QS 12:18). Istilah ikhlas juga berasal dari bahasa arab yang berarti ”berbakti kepada Tuhan”. Istilah ini juga sering muncul dalam Al Qur’an (Al Qur’an 2:139; 4:146, 10:23), sedangkan surat ke 112 dalam Al Qur’an dinamai Surat Al Ikhlas. Surat pendek ini sangat populer di tengah masyarakat muslim karena keindahan dan kekuatannya, serta sering dibaca dalam Sholat.

Kata slamet, yang jadi asal istilah slametan –yang menurut Geertz menjadi inti ritual abangan- pada awalnya adalah sebuah istilah Isam…. kata slamet berasal dari bahasa Arab salam (yang berarti damai atau salam berasal dari kata salima yang berarti menjadi baik dan selamat). Sir Thomas Raffles menyebutkan bahwa istilah slametan masyarakat Jawa berasal dari kata salamatan dalam bahasa Arab. Itulah sebabnya mengapa dalam slametan do’a untuk kesejahteraan dan kemakmuran (do’a slametan) selalu dibacakan. ”

Baca juga:  Syed M. Naquib al-Attas dan Bangkai Masa Lalu

Bagi masyarakat tradisional Jawa tentu tidak asing dengan do’a yang dimaksud oleh Raffles tadi, yang selalu dibacakan pada saat upacara slametan. ”Allahumma Innaa nas’aluka salaamatan fid diin” dimana kata selamatan itu berasal. Selain itu, justru dalam jantung ritual orang abangan, yang bisa memimpih do’a hanyalah kaum santri. Jadi bisa dikatakan bahwa secara realitas symbol “sintesis mistik Islam” nya orang Jawa ada di tradisi slametan ini. Ia adalah jembatan yang tetap menghubungkan setiap masyarakat Jawa dengan Islam.

Untuk menjadi proses menjadi ini berkesinambungan, pesantren mempunyai peran yang sangat urgen. Sebab dalam tradisi pesantren Jawa, dialog antara Islam dengan bahasa lokal sudah mentradisi dengan baik. Kitab-kitab berbahasa arab diterjemahkan dengan sistem terjemah antar baris dengan menggunakan huruf arab pegon dan bahasa Jawa baku. Sistem ini terbukti telah mampu meresapkan Islam sampai ke lapisan paling dasar dalam masyarakat Jawa bahkan sampai pada orang-orang yang dianggap jauh dari agama sekalipun. Misalnya tradisi mantra di kalangan para dukun Jawa, pengaruh Islam nampak nyata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pak Radjiman, seorang yang dianggap tua di dusun Tegalroso saat wawancara dengan Prof. Bambang Pranowo. Pak Radjiman mengenalkan apa yang disebutnya sebagai mantra pengusir roh jahat yang disebut Qulhu geni.

Bismillahir Rahmanir Rahiim, Qulhu geni

Bismillahir Rahmanir Rahiim, Qulhu wallahu ahad

Kun fayakun, maa syaa Allah, qodiran, abada

Laa Ilaha illah Allah, subhanahu inni kuntu mina dzolimien

Yaa abati, inni roaitu akha ’asyaro kaukaba, wa syamsa

Wal qomaro, roaituhum lii saajidiin

Dengan nama Allah, katakanlah api

Dengan nama Allah, katakanlah Dia Allah yang Maha Esa

Jadi, maka jadilah apa yang dikehendaki Allah, Kuasa dan Kekal

Tiada Tuhan selain Allah, Mahasuci dia, sesungguhnya aku orang yang dzalim

Wahai ayahku, aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan, semuanya sujud padaku .

Sebuah mantra terkadang tidak bisa dipahami, bahkan dalam bahasa aslinya sekalipun. Ini karena menurut perapalnya, siri terpenting dari sebuah mantra adalah kekuatan magis mistiknya, bukan maknanya. Namun setidaknya, unsur-unsur syirik dalam mantra-mantra itu sudah dihilangkan dan diganti dengan pengakuan akan keesaan Allah SWT. Qulhu Geninya pak Radjiman ini sering dipandang banyak pihak sebagai proses sinkretisme Islam yang kemudian dihukumi musyrik, padahal secara realitas ia hanya tahapan dakwah, yang seharusnya tidak berhenti tapi disempurnakan sehingga tercapai keselaran penuh dengan islam. Proseis Islamisasi yang juga masuk ke ranah mantra ini sebenarnya adalah strategi dakwah para wali di tanah Jawa, sebagaimana diungkapkan oleh KH. Sa’id Aqil Siroj M.A.

Baca juga:  Artificial Intellegence Berfatwa?

”Strategi para wali dalam mengembangkan ajaran islam di bumi Nusantara terdahulu dengan beberapa langkah strategis, pertama tadriji (bertahap), tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semuanya melalui proses penyesuaian. Bahkan tidak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi atau mempercayai Sang Hyang, secara bertahap mereka diluruskan. Kedua, taqlilut taklif (memperingan beban), tidak langsung disuruh sembahyang atau puasa, tetapi semampunya saja, sehingga setiap orang mampu melaksanakan. Ketiga ’adamul haraj (tidak menyakiti) para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi mereka, bahkan memperkuatnya dengan cara Islam. Kalangan pesantren sejak awal berusaha meneruskan dan mengembangkan warisan tradisi para wali ini. ”

Meskipun di beberapa kalangan, strategi dakwah ini menuai kecaman, akan tetapi sejarah membuktikan, bahwa ketika Nusantara berada dalam pendudukan negara kolonial, baik Portugis maupun Belanda, sintesa mistik Islam dengan identitas kebudayaan lokal telah menjadikan Islam mampu bertahan dan berkembang di bumi nusantara dengan pesantren sebagai ujung tombaknya

 

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: editor.santricendekia@gmail.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: