Santri Cendekia

Memperingati Malam Nisfu Syakban

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz, pertanyaan saya adakah syariat memperingati malam Nisfu Syakban, shalat Nisfu Syakban? Adakah peringatan Nisfu Syakban di di zaman Nabi Muhammad saw?

Jawaban:

Wa’alaikumussalam wr.wb.

Sebelum menjawab pertanyaan saudara, terlebih dahulu perlu kami kemukakan tentang beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam masalah ibadah mahdhah, yaitu; “التواقف والإتباع” artinya mengikuti dan menyesuaikan dengan tuntunan yang ada, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan/ibadah yang tidak ada perintah/tuntunananya dariku maka amalan tersebut tertolak [HR. Muslim].

Kedua berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari,

صلوا كما رايتموني اصلي

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat [HR. Al-Bukhari].

Ketiga berdasarkan kaidah yang berbunyi,

الأصل فى العبادة البطلان / التحريم

Hukum asal dari ibadah adalah batal/haram untuk dilakukan.

Lalu terkait dengan pertanyaan saudara bahwa terdapat beberapa hadis terkait dengan bulan Syakban, antara lain;

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا حَدَّثَتْهُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ وَكَانَ يَقُولُ خُذُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّتْ وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلَاةً دَاوَمَ عَلَيْهَا. (رواه البخاري)

Dari Abu Salamah bahwa ‘Aisyah ra. menceritakan kepadanya, katanya: Rasulullah saw tidak pernah melaksanakan shaum (puasa) lebih banyak dalam sebulan selain bulan Syakban, yang Beliau melaksanakan shaum bulan Syakban seluruhnya. Beliau bersabda: Lakukanlah amal-amal yang kalian sanggup melaksanakannya, karena Allah tidak akan berpaling (dalam memberikan pahala) sampai kalian yang lebih dahulu berpaling (dari mengerjakan amal). Shalat yang paling Nabi saw cintai adalah shalat yang dijaga kesinambungannya sekalipun sedikit. Beliau bila sudah biasa melaksanakan shalat (sunnat) beliau menjaga kesinambungannya [HR. Al-Bukhari].

Baca juga:  Sekali lagi, Perempuan Haid tidak boleh Puasa!

Dalam hadis tersebut dan beberapa hadis yang lain, tidak ada kalimat yang menjelaskan dan memerintahkan untuk melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah tertentu termasuk perayaan Nisfu Syakban.

Tetapi justru memperbanyak ibadah dan puasa Sunnah sebagaimana kebiasaan Rasulullah Saw.

Dalam riwayat lain juga tidak ada satupun yang menjelaskan bahwa Nabi maupun sahabat memperingati malam Nisfu Syakban baik dengan ibadah maupun  amalan tertentu.

Terlebih lagi berupa jenis shalat tertentu (shalat Nisfu Syakban). Nabi gigih melaksanakan shalat malam (قيام الليل) sebagaimana  pada malam-malam dan bulan-bulan lainnya, bukan shalat khusus pada malam Nisfu Syakban.

Nabi juga gemar melaksanakan puasa pada tanggal 13,14,15 setiap bulan (qamariah) yang dikenal dengan puasa Ayyamul Bidh, termasuk di bulan Syakban, dan tidak hanya dikhususkan pada tanggal 15 saja yang kemudian disebut “Puasa Nisfu Syakban”.

Dengan demikian, otomatis pertanyaan terakhir saudara sudah terjawab bahwa pada masa Rasulullah tidak terdapat riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi saw melakukan perayaan khusus baik di malam maupun siang hari Nisfu Syakban (15 Syakban). Wallahu A’lam.

Ruslan Fariadi

Seorang suami, ayah, pengajar, dan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

2 comments

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: