Santri Cendekia

Women Up: Mengapa Bakul Martabak Dihegemoni oleh Para Pria?

Mungkin kata woman up baru kali ini terdengar di telinga Anda, secara gramatik memang frasa ini pernah hype di tahun 2015-2018 dengan shighahman-up”. Kemunculannya memang menuai pro dan kontra karena dinilai sangat patriarkis, hingga memunculkan istilah alternatif untuk memusnahkannya seperti grow up, be responsible dan lain sebagainya. Mereka menilai penggunaan “man-up” akan menyuburkan segala misogini di muka bumi dan juga menindas kaum lelaki, sementara diketahui bahwa “Equality can’t be achieved as long as we’re still using outdated language that implies strength or weakness based solely on one’s gender or anatomy”.

Padahal ketika setiap orang baik laki-laki atau perempuan mempermasalahkan kata “man-up” secara tidak langsung mereka sedang membumikan anti-kesetaraan. Pandanan kata “man” kerap diperuntukkan bagi seluruh umat manusia bukan? dan lagi-lagi jika itu perempuan maka ia akan menjustifikasi perbuatannya dengan bersembunyi pada kalimat sexis “man-up” tersebut dan berdalih seluruh hal di dunia ini terlalu andro-sentris! Allahu Rabbii….

Istilah man-up tertulis pasti dalam kamus Oxford dengan makna ketangguhan atau keberanian ketika menghadapi sesuatu yang sulit. Namun secara bar-bar kata tersebut tiba-tiba saya dikaitkan pada laki-laki dan bernilai sexist. Oleh karena ketidak mapanan istilah tersebut di ranah konteks, izinkan saya membentuk istilah baru woman-up. Jauh dari niat untuk bersaing, lebih kepada menyadarkan manusia untuk berfikir terbuka dan tidak munafik. Ah tapi masa bodo dengan kesejarahan istilah tersebut, pokoknya judul kali ini harus woman up! Biar viral dan nyambung..heheu.

Tahukah kalian bahwa seringkali urusan domestik masak-memasak dikaitkan dengan perempuan? Ini sama sekali bukan pengalaman pribadi, karena alhamdulillah saya terdidik di keluarga yang sangat religius yakni memandang laki-laki dan perempuan memang berbeda dari sananya sesuai dengan fitrah yang tertera pada al-Quran dan as-Sunnah, selebihnya kami anggap itu hanya bualan di malam hari alias ngantuk i.

Acara mister chef (bukan nama sesungguhnya), misalnya, pernah suatu kali terlihat beberapa netizen mengomentari juara dan runner up master chef yang lebih didominasi lelaki dibanding perempuan. Total 6 laki-laki dari 10 peserta yang berhasil mencapai dua puncak klasemen teratas mister chef. Kemudian setiap scene dalam serial drama ataupun film bergenre family yang menggambarkan kekhawatiran para orang tua melihat ketidaklihaiannya perempuan muda millenial saat ini ketika masak-memasak. Belum lagi yang berkaitan langsung dengan tajuk tulisan kali ini, salah satu teman sesama perempuan saya mengomentari para penjual di sepanjang jalan. Begini dramanyah:

Baca juga:  Catatan Kritis Mantan Simpatisan HTI

Teman: Kenapa perempuan sebagai penguasa perdapuran malah mengalami “disabilitas” di ruang publik, yhaa?

Saya:  Contohnya gimana emang?

Teman: Amang-amang nasi goreng, martabak manis-asin, cimol-cilok dan lain sebagainya kok jarang ya yang cewek?

Saya: Bener juga, sekalinya ada cewek pasti dianya kasir!

Teman: Harusnya ‘kan nggak gitu ya?

Saya: Hmmm… jadi memasak itu adalah bagian dari woman up ya? Emm…

Apakah ada secara tertulis di ayat atau hadis yang menegaskan jika perempuan diwajibkan bisa memasak? Memang tidak ada dan jangan mengada-ngadakan. Saya bangga Islam yang selama ini dituduh memarginalkan perempuan malah dalam hal sepele seperti ini seperti sedang menunjukkan keberpihakannya yakni pada keadilan yang hakiki, bukan yang bermakna harus selalu sama melainkan menempatkan segala hal sesuai pada posisinya.

Jikalau ada nada perempuan harus terdomestikkan itu bukan berasal dari narasi suci syariat Islam melainkan pendapat Ulama’. Sekalipun pendapat ulama’, perlu dicatat bahwa perempuan tidak pernah dikatakan wajib mengurusi hal domestik namun dianjurkan mengurusinya menyesuaikan pada ‘urf yang berlaku. Misal di Bantul, kebiasaannya adalah laki-laki yang bekerja di luar dan perempuan yang mengurusi ihwal perdapuran, maka sebagai perempuan minor lain untuk mengikuti adat tersebut.

Menyoal ‘urf, duh, apa standarisasi ‘urf di era global kini? Semua adat istiadat bercampur aduk, satu dan yang lainnya saling berbeda dan biasa. Mulai sulit menemukan ‘urf yang panjang umur dan mulai bergeser pada area mode serta trend. Bahwa mode bukanlah sebuah peristiwa terisolasi, jaringan berbagai koneksi telah menghubungkan satu entri mode dengan yang entri lainnya, setiap tahun bahkan bulan bisa saja berubah.

Itulah mengapa saya katakan di awal, woman up! Mestinya sebagai perempuan jangan selalu berpikir bagaimana lingkungan memandangmu, karena tanpa sadar perempuanlah yang memberikan kaca mata baca bagi sekelilingnya untuk memandangnya sebelah mata. Tidak ada yang mengatakan perempuan makhluk lemah, lha nyatanya Allah berikan karunia hamil, melahirkan, menyusui pada perempuan. Tidak ada pula yang mengatakan bahwa perempuan harus bisa memasak, lha nyatanya Allah dan Rasulullah tak pernah membahasnya.

Baca juga:  Artificial Intellegence Berfatwa?

Kalaupun ada hukum khusus bagi perempuan itu bukan disebabkan perempuan lebih rendah atau lemah tapi karena cara berpikirmu yang cacat dalam memandang sebuah kemaslahatan dan keadilan. Masak iya kamu kalah dengan para penjaja makanan di pinggir jalan yang sudah lebih dulu memahami sebuah keadilan.

Man up! Woman up! Bersikaplah layaknya laki-laki dan perempuan, jika memang harus bertukar posisi selama itu tidak menyalahi titah syar’i, kenapa tidak?

*Disclaimer, saya bukan feminis melainkan perempuan biasa yang responsif terhadap keragaman makanan yang dijajakan sepanjang jalan.

Aabidah Ummu Aziizah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan FAI UMY

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: