Santri Cendekia

Mengembalikan Esensi Idul Fitri

Oleh: Anton Ismunanto

Beberapa hari yang lalu maklumat bersama untuk merespon persebaran korona dibuat di Yogyakarta. Di antara yang dipermaklumkan adalah tentang pelaksanaan ibadah dan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dari ibadah dan kegiatan tersebut adalah takbir keliling, shalat id serta silaturahmi halal-bi halal.

Semua aktivitas yang disebutkan di atas selama ini kita jalani begitu saja, penuh kegembiraan dan kemeriahan. Akan tetapi kalau dicermati, yang memang murni aktivitas ibadah hanyalah shalat id. Adapun keliling untuk takbiran serta saling berkunjung untuk silaturahmi meng-halal-kan kesalahan adalah bagian dari ekspresi kebudayaan kita.

Situasi yang sedang melingkupi berikut resiko yang menanti memang membuat kita harus kehilangan ketiganya tahun ini. Tentu terasa ada yang hilang dari event tahunan ini. Namun kalau direnungi, yang hilang itu bukanlah yang esensi.

Selama ini kita melakukan ketiganya tanpa pemaknaan yang dalam. Akibatnya ada kualitas yang hilang dari semua itu. Terasa hangat menjalaninya dalam kebersamaan, namun bisa jadi kurang jika dilihat dari timbangan syariat. Padahal timbangan inilah yang esensi dari kehidupan kita.

Meski takbiran keliling punya nilai syiar, saat ini banyak yang melombakannya. Dalam perlombaan tentu yang bisa diukur yang ditekankan. Tentang kekompakan, seni, lagu dan sebagainya. Sementara itu, seringkali peserta lomba tersebut adalah anak-anak muda yang lebih membutuhkan pelajaran ketaatan daripada berlatih melakukan per-syaiar-an. Karena tidak jarang mereka adalah anak-anak muda yang tidak berpuasa di siang hari, dengan shalat yang masih berlubang, serta tidak hadir dalam ibadah-ibadah ramadhan yang utama. Yang juga jadi masalah, persiapan lomba tersebut dilakukan di sepuluh hari terakhir ketika kita lebih butuh ketenangan iktikaf daripada keberisikan alat-alat musik yang melenakan. Bahkan takbir yang seharusnya mengagungkan Tuhan, hanya tinggal bunyi yang menyimpan pengagungan pada nafsu duniawi yang melampaui Tuhan.

Baca juga:  Prof. Dr. Rasjidi, Sang Ulama Negarawan

Dalam rutinitas tahunan bernama takbiran itu, yang hilang adalah khidmat dan pengagungan. Kita merindukan takbir yang diucapkan dari lisan-lisan yang merindukan Tuhan. Tidak perlu keras, namun penuh harapan akan ampunan. Kalaupun perlu berkeliling dengan kebersamaan, kita ingin yang sederhana saja. Yaitu ketika orang tua, orang muda serta orang belia, berjalan bersama dalam rangka pendidikan.

Sementara shalat id pun tidak lepas dari berbagai kekurangan. Kalau kita mau sedikit melakukan pengamatan, shalat id adalah gambaran menyedihkan tentang kualitas kita sebagai umat Islam. Baju-baju yang ditampilkan adalah ketaatan, serta seringkali berikut kemewahan. Namun pemakainya banyak yang belum mengenal agama ini. Sebagiannya bahkan belum menjalankan shalat lima waktu. Maka tidak aneh kalau menata shaf shalat id menjadi sesuatu yang syarat kesulitan.

Sedangkan persoalan silaturahmi halal-bihalal sebagai sebuah simbol, perlu direalisasikan menjadi karakter keseharian. Melapangkan hati untuk memberikan permakluman dan permaafan atas kekuarangan dan kesalahan orang harus menjadi kebiasaan. Jangan sampai terjadi, simbolnya dikerjakan rutinan, tapi yang menjadi tujuan tidak direalisasikan.

Apa yang dituliskan sedikitpun bukan untuk memaparkan kekurangan. Karena itu adalah kenyataan yang kita merupakan bagian dari padanya. La nuzakki anfusana, kita tidak menganggap diri bebas dari kesalahan. Sebaliknya ini adalah bagian dari upaya untuk menyadari keadaan. Dari kesadaran itu kita jadi bisa mengambil banyak pelajaran dengan tamu yang Allah kirimkan: korona.

Korona memang menghalangi kita dari takbir keliling, shalat id serta silaturahmi halal-bihalal. Namun ini kesempatan yang bagus untuk menyadari adanya yang hilang dari kehidupan kita. Kita kehilangan semua formalisme itu agar bisa menegakkan esensi yang selama ini absen.

Kita perlu mengagungkan Tuhan kembali, dengan suara lirih, sendiri-sendiri, namun gemanya meredam ambisi yang dulu mendominasi ingatan kita. Kita juga perlu kembali menegakkan shalat sehari-hari yang tidak dikerjakan semeriah shalat id. Selain itu, tanpa perlu bertemu dalam silaturahmi dan halal-bihalal, kita perlu memberikan maaf yang melegakan dan membebaskan dari dendam, ketidaksukaan, kebencian, serta kedengkian yang membebani hidup.

Baca juga:  Kalender Ummul Qurra dan Hilal Awal Ramadhan 1441 H

Sekedar rerasan.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: