Santri Cendekia

Menghadapi Tantangan Modernitas dengan Kajian Pra-Nikah

Sebagai pemuda paruh baya yang berpegang teguh pada kaki meja makan, jarang sekali saya ikut pengajian masjid dengan terlebih dahulu punya niat menulis materi dan hendak mempostnya ke publik. Sepertinya, ini untuk kali pertama saya punya niatan seperti itu. Tepatnya di hari ahad tanggal 19 maret kemarin, di masjid al-Furqon  diadakan pengajian rutin Ahad pon.

Saya tertarik untuk datang, selain karena hidangan waktu itu adalah soto, juga pematerinya adalah ustadz saya sendiri, Anton Ismunanto. Beliau, dengan tidak berlebihan –semoga Allah mengindarkan diri yang dhaif ini dari sikap ghuluw- saya anggap sebagai pembaharu muda muslim untuk Yogya dan sekitarnya yang sangat intens di bidang pemikiran Islam dan banyak menaruh perhatian kepada kebangkitan keilmuan dan pengkajian filsafat. Beliau, yang memiliki sanad ta’lim langsung kepada Hamid Fahmi Zarkasyi selalu menekankan tentang perlunya kita untuk mengkayakan diri dengan warisan ulama. Tidak hanya pada sisi pengetahuannya saja, tetapi juga pada sisi adab mereka; kepada Allah, kepada ilmu dan kepada pengaplikasian ilmu tersebut.

“Ustadz Anton, peminat filsafat Islam, Turath-turath Ulama, dan kali itu ia membawakan kajian Pra-Nikah”, mengulang-ngulang hal ini membuat saya merasa tak perlu lagi bertanya kembali –kepada diri sendiri- kenapa saya punya niat yang kuat untuk menulis dan mempublish pembahasannya kali ini. Dan jatuhnya pilihan saya untuk mengirimkan naskah review ini kepada santri cendekia publisher, tidak kurang ada dua ratus lima puluh alasan ilmiah. Alasan paling penting dari dua ratus lima puluh itu adalah, karena situs ini punya sahabat saya.

Persoalan Keluarga Modern

Kami mulai review ini dengan mengutip kesimpulan orasi Ilmiah Anton (dengan menghilangkan penggunaan kata “ustadz”, tanpa bermaksud tidak sopan-edt), bahwa “kemoderenan, dengan segala dampak positifnya, ternyata juga menghasilkan hal-hal negatif yang tidak lebih sedikit dari kebaikannya”. Menurut Anton, yang sangat menyukai tempe kepleh, bahwa kemoderenan berasal dari perkembangan industri yang mana dengan begitu, karakteristik industrisisme juga melekat pada kemoderenan. salah satu yang dihasilkan dari kemoderenan yang sangat industrialis ini adalah keluarga yang beraneka ragam.

Baca juga:  Ikhtiar Muhammad Abduh Dalam Menyatukan Dualisme Pendidikan di Mesir

Ada yang disebut “keluarga rumah sakit”, misalnya. Di mana anggota keluarga dengan format demikian hanya menjadikan rumahnya sebagai tempat persinggahan jika ada anggota keluarga yang “sakit”. Sementara aktifitas sehari-hari lebih banyak di luar rumah. Barangkali juga ada “keluarga kantoran” yang mana interaksi per-anggota dijalin dengan hubungan antar pegawai-bos atau pegawai-pegawai dengan asas untung-rugi. Dan beberapa format lain yang mungkin bisa direnungi.

Bagi Anton, bentuk-bentuk keluarga made in kemoderenan seperti ini sangat tidak sesuai dengan tujuan Islam menyuruh umatnya untuk berumah tangga. Hingga sekarang, dapat kita lihat ketidak sesuaian ini pada praktek-praktek keluarga muslim. Tidak perlu jauh-jauh melihatnya, cukup melihat pada cara interaksi kita di rumah masing-masing. Saya –reviewer- membuat tiga indikator dalam mengenali apakah keluarga kita bagian dari produk kemoderenan di atas, berdasarkan hasil pemahaman saya atas pemikiran Anton.

Pertama. Keluarga yang hilang orientasi. Ketidak sesuaian tujuan Islam dengan interaksi keluarga yang tercemari oleh karakter kemoderenan bisa dilihat dari tujuan hidup, bagaimana memaknai kesuksesan dan kebahagiaan. Ambil contoh kecil, ketika orang tua di tanya anaknya esok mau jadi apa? Hampir semua akan menjawab anak soleh. Namun, keinginan ini tidak sesuai dengan arah hidup yang diberikan orang tua kepada anak. Seakan jawaban itu hanya sebatas formalitas belaka yang sudah ter-formalin-kan di kepala orang tua. Anak-anak yang dicita-cita-kan menjadi soleh tersebut, justru dicecoki dengan orientasi keduniaan belaka. Mengukur sukses tidaknya mereka hanya pada pencapaian materi dan status sosial. Polisi, pegawai, pengusaha dan bentuk pekerjaan lainnya menjadi goal yang tertulis jelas di benak cita-cita anaknya tanpa lebih dalam memberikan pengertian dan kesadaran buat apa ia menjadi polisi, pegawai dan pengusaha? Lebih sederhananya, kenapa ia harus menjadi muslim dan bagaimana ia menjadi muslim?

Baca juga:  Peran Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia

Kedua, Keluarga yang hilang prioritas. Hilangnya orientasi berdampak buruk kepada hilangnya prioritas. Faktanya, sebagian besar orang tua akan lebih takut ketika anaknya tidak sukses di sekolah dibanding tidak sukses beribadah. Lebih gelisah jika anaknya terlambat sekolah dibanding tidak mengerjakan shalat. Lebih was-was anaknya tidak bisa membaca buku dari pada membaca al-Qur’an. Lebih tertib dalam jadwal les dari pada jadwal mengaji. Dua aspek yang diperbandingkan ini bukanlah aspek yang kontradiktif. Kedua-duanya adalah hal yang penting untuk diajarkan kepada anak. Namun, bagi muslim ada aspek prioritas yang harusnya dikenalkan dan difahamkan kepada anak-anak sebelum ia membangun dirinya dengan aspek-aspek lainnya.

Ketiga. Keluarga yang hilang fungsi. Ketimpangan prioritas dalam keluarga muslim kemudian akan berdampak pada efektifitas fungsi peran orang tua dalam menciptakan keluarga sebagai madrasah. Meminjam istilah Abu bakar al-Jaza’iry, orang tua yang tidak lagi menjadi al-mustahdi (peminta petunjuk) kepada al-Hadi (pemberi petunjuk. Allah) tidak akan memfungsikan dirinya sebagaimana yang diperintahkan dalam al-Quran sebagai al-huda. Maka kita akan melihat orang tua yang siap untuk berkeluarga, tapi tidak siap mendidik keluarga. Beberapa orang tua seperti ini menganggap telah memenuhi kewajibannya sebagai orang tua apabila telah memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan memberikan segala macam fasilitas yang diinginkan. Padahal, tanpa terpenuhinya kebutuhan spiritual anak, justru fasilitas-fasilitas tersebut akan merusak tumbuh kembang anak sesuai yang dicita-citakan Islam.

Solusi apa yang diberikan oleh Anton dalam menyelesaikan problem-problem di atas? Akan disajikan dalam tulisan berikutnya. Insya Allah.

 

Qaem Aulassyahied

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) PP Muhammadiyah

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: