Santri Cendekia

Mengomentari Tesis KH. Imam Jazuli Tentang Muhammadiyah

Tulisan ini bisa dibilang kritikan atas tulisan KH. Imam Jazuli di Tribun News 10 Februari lalu tentang “Menafsir Hasil Muktamar al-Azhar dan Kritik atas Intelektual Muhammadiyah”. Tulisan beliau saya acungi cerdas meski tidak sejenius itu, tetap ada hal yang harus saya kritisi darinya.

Di tulisan itu, beliau menegaskan sebagai sosok yang berposisi di luar organisatoris Muhammadiyah dan mencoba mengkritik intelektual Muhammadiyah dari sudut pandang objektif (semoga). Maka saya pun begitu, saya besar di lingkungan keluarga nir-organisatoris, Islam dalam gambaran saya saat itu cukup sederhana yakni siapa saja yang menggunakan jilbab dan kopyah maka dia teman saya. Istilah NU, Muhammadiyah, Salafi dan HTI baru masuk dalam lingkaran kehidupan saya sekitar 5 tahun yang lalu dan hingga kini saya masih menganggap semuanya baik asal kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah, kalau kecondongan pasti ada tapi tidak akan saya sampaikan di tulisan ini. Semoga disclaimer ini, dapat mengantarkan saya pada sudut pandang objektif seperti halnya pengakuan KH. Imam Djazuli atau ID saja ya biar ringkas.

ID bisa dikata mengecam Amin Abdullah dan Hamim Ilyas dalam tanggapan keduanya terhadap tema besar pertemuan ulama-ulama sedunia akhir tahun 2019 lalu yang berisikan dekolonialisasi atau signifikansi turats guna melawan westernisasi di bidang politik dan ekonomi global. Kedua intelektual muhammadiyah ini dipandang ID telah berbangga diri mengklaim upaya dekolonialisasi ini sejatinya telah lama diusahakan Muhammadiyah sejak 100 tahun silam, sehingga bisa dibilang ini bukanlah tajuk baru di dalam kancah perjuangan Muhammadiyah.

Propaganda ID dimulai dengan mempertanyakan kembali kepada Muhammadiyah, apa benar yang dikatakan dua sosok representative Muhammadiyah itu? jika benar maka bisa dikatakan  tema pertemuan yang dipimpin oleh pembaharu Mesir Grand Syeikh Ahmad Thoyyib tidaklah benar-benar pembaharu bukan? Jika benar begitu, mana bukti sepak terjang Muhammadiyah selama kilas balik 100 tahun? Padahal nyata di depan kita saat ini, generasi muda Indonesia yang hancur oleh sebab NAPZA, bangsa yang terombang ambing arus HOAX dan bahkan hingga gagalnya pemberhentian impor metodologi sains milik Barat beserta teknologinya masih massif terjadi, lalu di mana Muhammadiyah mengambil posisi? ID juga menyinggung tentang melimpahnya amal usaha Muhammadiyah seperti lembaga-lembaga pendidikan dari rentang pendidikan rendah hingga tinggi dan juga rumah sakit yang bertebaran tidak bisa menjadi tameng Muhammadiyah untuk bersembunyi dari tanggung jawab sosial-agama. Sebaliknya dengan amal usaha tersebutlah perdagangan dunia barat di balik layar semakin subur. Sampai kemudian di titik yang benar-benar akhir, ID menyimpulkan jika Muhammadiyah itu seperti anti-turats.

Baca juga:  Gagasan Fikih Perlindungan Anak Muhammmadiyah

Sebelum masuk pada tahapan kritik balik, saya teringat dengan ucapan luhur salah satu intelektual Muhammadiyah Djindar at-Tamimiy yang sempat dinukil oleh ustadz Anton Ismunanto dalam kajian rutin Adabnya tadi malam di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah. Djindar at-Tamimiy kurang lebih pernah berujar “Muhammadiyah itu adalah salah satu alat untuk berislam, jadi jika orang lain berislam dengan cara selain Muhammadiyah itu tidak papa yang penting sumbernya jelas. Bahkan jika nanti Islam telah maju dan bersatu sehingga Muhammadiyah menghilang pun tidaklah mengapa, karena orientasi kita adalah akhirat bukan yang lain”. Dalam sekali perkataan ini, dan saya yakin Amin Abdullah juga rekannya Hamim Ilyas pasti punya semangat kemajuan dan kebersatuan yang sama dengan Djindar. Atau jika mau jujur, dulu KH. Ahmad Dahlan pernah dianggap liberal karena spirit awal yang dibawanya adalah mengenai semangat persatuan tanpa melihat ras, suku dan agama.

Perpanjangan dari itu, maka salah besar jika ID memaknai amal usaha Muhammadiyah hanyalah alat perputaran uang semata atau ajang berbangga bangga dengan sesama organisasi keislaman lain. Dangkal benar jika begitu, amal usaha muhammadiyah jelas menjadi bukti konkret dan sulit terelakkan bagaimana Muhammadiyah berjuang keras menampik kolonialisasi dengan membentuk pribadi-pribadi muslim yang cerdas dan ideologis, belum lagi jika membahas aspek ekonomi berupa lapangan pekerjaan luas yang ditawarkan kepada seluruh muslim yang ada.

Amin Abdullah dan Hamim Ilyas bukan sedang kehilangan objek dan konteks pembahasan. Justru keduanya menawarkan objek formal berspektrum luas dalam menjangkau objek materiil yang dihadapkan, agar apa? Agar bisa berkaca kemudian mengevaluasi mana saja yang terus dilanjutkan dan mana yang harus dihentikan saat itu juga, karena di lapangan nanti tak seindah wacana kan? Jangan dulu buru-buru membahas upaya teknologi yang terbebas dari Barat, semuanya harus perlahan daripada tidak sama sekali. Bukan berarti ingin membanding-bandingkan dengan NU yang tidak memiliki rumah sakit tapi lebih kepada Muhammadiyah dan NU itu sesama muslim kenapa tidak saling menguatkan dan mendaya gunakan kemampuan yang ada alih-alih saling menghujat dan mempertontonkan khilafiyyah?

Baca juga:  Ramadhan 2020: Tuntunan dari Muhammadiyah (Sebuah Catatan dari Mark Woodward)

Belum lagi hitung-hitungan respon cepat Muhammadiyah terkait isu bangsa, misalnya NAPZA dan HOAX. Terhitung sudah sejak Din Syamsudin menjabat sebagai Ketum PP Muhammadiyah, perancangan penyuluhan NAPZA pada generasi muda mulai digalakkan melalui pelajaran-pelajaran ISMUBA di tiap amal usaha pendidikan Muhammadiyah, dengan harapan anak-anak terpaksa tidak tabu dengan barang haram tersebut. Menyentil HOAX, sudah sejak 2018 lalu Fikih Informasi Menurut Muhammadiyah siap dinikmati masyarakat, jika belum baca akan saya japri link nya atau datang saja ke kajian Santri Cendekia Kamis depan, temanya tentang Fikih Informasi dengan narasumber cerdas Niki Alma F. sebagai Ketua Pusat Tarjih UAD. Memang mesti ada SOP nya terlebih dahulu, itu kerangka khas Muhammadiyah dalam menyebar luaskan pemikirannya, ini tidak main-main dampak yang dihasilkan. Karena tahap sosialisasi menjadi muara terakhir dari semua upaya-upaya yang ada.

Yang terakhir, Muhammadiyah anti-turats karena visi misi khasnya yang tidak berafiliasi pada mazhab apapun. Khusus untuk yang satu ini, ada dua sisi mata pisau untuk menelaahnya. Pertama, Muhammadiyah tidak anti-turats saya pikir, nyatanya ia buat buku panduan warga Muhammadiyah dalam beribadah berjudul Himpunan Putusan Tarjih. Jika sudah pernah membaca Manhaj Tarjih Muhammadiyah pastilah mengerti skema penarjihan suatu nash syariat dengan menyemai segala pergumulan kitab-kitab yang ada dari mulai Tafsir, Hadits hingga Tasawuf sampai kemudian menjadi dasar istimbath hukum, bahkan teman saya sempat berceloteh menggelitik, katanya “Kata siapa Muhammadiyah anti turats, lihat saja 200 tahun mendatang, HPT adalah turats bagi anak cucu kita di masa depan, Muhammadiyah bukan anti turats tapi sedang berproses memiliki turats”, benar juga ya. Kedua, saya akui tradisi turats di Muhammadiyah lebih minim dengan tradisi turats di organisasi keislaman lain terutama NU, hanya minim bukan anti. Bahkan secara pribadi saya menangkap adanya keterputusan sanad keilmuan dari masa KH. Ahmad Dahlan kepada generasi Muhammadiyah saat ini. Dan kalau boleh jujur serta sedikit kritis, fatwa-fatwa Muhammadiyah yang bertebaran dalam buku TJA dan atau selainnya yang selalu saja tidak memuat pendapat-pendapat ulama’ itu jangan lagi diteruskan, meski saya berusaha memahami bahwa fatwa tarjih dibuat sesederhana mungkin karena akan menjadi konsumsi publik dari rentang awam hingga ilmuwan tapi warga Muhammadiyah berhak untuk berpikir, bukankah ini juga yang menjadi preliminary findingnya KH. Ahmad Dahlan ketika ingin membentuk Muhammadiyah?

Baca juga:  Syaithan dan "Ultimate Weapon"nya (Al-Baqarah : 169)

last but not least… al-Ustadz al-Mukarram Ayub el-Marhoum pernah berkata dan ini layak menjadi quote warga Muhammadiyah bersama:

“Bagi pecinta, Muhammadiyah itu sebuah keharusan sejarah. Namun bagi pengkritik, Muhammadiyah adalah kecelakaan sejarah. Faktanya harus diakui bahwa masa itu memang menghendaki dan memungkinkan atau bisa dibilang memang sedang musimnya muncul gerakan-gerakan pendobrak semacam Muhammadiyah. Zaman itu disebut dengan Takasyi Sirashi; Zaman Bergerak.”

Silahkan dikutip quote di atas dan mengganti objeknya sesuai preferensi masing-masing misal NU, HTI dan lain sebagainya.

Aabidah Ummu Aziizah

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan FAI UMY

2 comments

Tinggalkan komentar

  • Kok sepertinnya , ID spt mahasiswa baru kuliah ya???
    Tapi terimakasih kyai imam jazuli..karena gus baha saya tau nama antum.dan dari nama antum saya tau tulisan ini.untuk penulis .salam dari jember.ربنا ما خلقت هذا باطلا .سبحانك

%d blogger menyukai ini: