Santri Cendekia

Menilik Keterkaitan Arah Gerak dan Perkaderan Muhammadiyah di Abad Kedua

Oleh: Apriyady  – PK IMM FEB UMY

Pada tanggal 18 November 2021 nanti organisasi persyarikatan Muhammadiyah akan menjajaki usia 109 tahun berdirinya jika mengikuti tahun masehi berdirinya. Dalam perjalanannya menjajaki usia yang telah berada di fase kedua atau yang lebih sering disebut abad keduanya, Muhammadiyah berkonsisten sekaligus berkomitmen untuk tetap mengepakan sayap kebermanfaatan secara nyata didalam sendi kehidupan masyarakat walaupun dengan tantangan dalam bentuk problematika dan kedinamikaan yang ada baik dari tubuh Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri juga dari ruang lingkup bangsa secara luas. Barang tentu hal tersebut dapat terlaksana dengan sebuah peneguhan tekad gerak dari Persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri dari masa kemasa yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan tentunya berimbang dengan arah kaderisasi yang mempuni dari setiap warga Persyarikatan Muhammadiyah mulai dari akar rumput hingga pimpinan pusatnya terutama dalam agenda menjalani fase abad keduanya ini.

Menilik itu semua, untuk mengetahui bagaimana Muhammadiyah tetap berkomitmen dalam gerak abad kedua juga tetap konsisten dalam meiktiarkannya maka ada dua hal yang saling bersinambungan yang akan kita ulik disini yaitu pertama arah gerak persyarikatan muhammadiyah itu sendiri sebagai landasan acuan bagaimana muhammadiyah berjalan dalam segala tantangannya dan kedua bagaiman untuk menyukseskan arah geraknya tersebut muhammadiyah juga harus meniliki metode dan sistem perkaderan muhammadiyah yang dinamis dalam keadaan zaman untuk terciptanya kader yang dapat mewujudkan tekad Persyarikatan Muhammadiyah tersebut.

Arah Gerak Muhammadiyah Abad Kedua

Persyarikatan Muhammadiyah semenjak awal berdirinya meneguhkan gerakanya menjadi gerakan islam, gerakan dakwah, gerakan khairul ummah, gerakan moderat, dan gerakan tajdid sebagaimana yang pernah disampaikan Dr. Ari Anshori, M.Ag., selaku ketua MPK PP Muhammadiyah. Dengan berpegang teguh dengan cita-cita untuk terwujudnya masyarakat islam yang sebenar – benarnya dan menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin walaupun tentu dalam perjalannya terkini di fase abad keduanya Muhammadiyah menghadapi tantangan yang besar secara universal seperti di antaranya: 1). Krisis kemanusiaan modern, 2). Krisis pangan dan energi, 3). Krisis ekonomi global, 4). Krisis lingkungan dan perubahan iklim, 5). Islamofobia, 6). Migrasi global, 7). Konflik antar peradaban, 8). Hegemoni dan paradoks politik global, dan 9). Kemiskinan dunia. Dari pembacaan daftar infentaris tantangan pergerakan Muhammadiyah tersebutlah maka diabad kedua Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berdasarkan Al Qur’an dan as-sunnah mengusung keteguhan sebagai gerakan pencerahan (tanwir).

Baca juga:  Tafsir Ibn Katsir: Sejarah Penamaan dan Metodologi Penafsirannya

Gerakan tanwir Muhammadiyah dengan aktualisasi dari ideologi moderenisme-reformisme islam  menjadi perwujudan islam yang progresif untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan dari segala permasalahan primer dan sekunder yang ada. Gerakan ini secara berkelanjutan bergerak dalam menunaikan misi dakwah dan tajdid untuk menghadirkan islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasithiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat, mencerdaskan kehidupan berbangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia. Gerakan tersebut mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhu’afa dan mustadh’afin serta memperkut civil society. Pada gerakan ini, Muhammadiyah memaknai dan mengaktualisasi jihad sebagai ikhtiar mengerahkan segala usaha untuk mewujudkan kehidupan semua umat manusia yang maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat. Jihad dalam perspektif Muhammadiyah tidaklah perjuangan dengan kekerasan, konflik dan permusuhan.

Pada fase abad kedua ini, Muhammadiyah menghadapi perkembangan dunia  dan Muhammadiyah harus berperan sebagai bagian dari warga semesta dan dituntut komitmennya dalam menyebarluaskan gerakan pencerahan. Dengan spirit utamanya muhammadiyah menciptakan keunggulan-keunggulan baru dalam gerakan strategis Gerakan Pencerahan yang mengandung orientasi gerakan pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan demi terwujudnya wawasan kemanusiaan yang universal dan menjunjung tinggi perdamaian, toleransi, kemajemukan, kebajikan, peradaban, dan nilai nilai utama.

Arah Perkaderan Muhammadiyah Abad Kedua

Dalam suatu perkumpulan atau sebuah organisasi dapat disebut mereka sebagai sebuah perkumpulan atau organisasi adalah selain memiliki tujuan tetapi juga terdapat orang-orang yang menjalankan yang pada puncak harapan keberlanjutannya maka harus ada sebuah sistem yang didalamnya terdapat seperangkat hal yang bertujuan terlaksanakannya regenerasi. Begitupun pula pada tubuh persyarikatan Muhammadiyah. Dalam hal mencapai idealisme Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan maka diperlukan para pelaku gerakan yang terdiri dari anggota Muhammadiyah, kader dan pimpinan persyarikatan yang mana dari itu terhimpun menjadi empat pilar kaderisasi muhammadiyah yang mempengaruhi jalannya kaderisasi yang diantaranya ada keluarga, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) dan Organisasi Otonom (ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan pimpinan itu sendiri,  dengan tujuan dari perkaderan itu sendiri yaitu terbentuknya kader Muhammadiyah yang berjiwa Islam berkemajuan serta mempunyai integritas dan kompetensi untuk berperan dalam persyarikatan, kehidupan umat, dinamika bangsa dan konteks global.

Baca juga:  Mengapa Muhammadiyah Akhirnya "Kalah" dari Corona?

Dengan seperangkat pelaku perkaderan yang ada di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah dalam menjalani fase abad keduanya Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam hal ini melalui Majelis Perkaderan Muhammadiyah membawa revitalisasi perkaderan dengan rencana strategis untuk membangun kekuatan dan kualitas pelaku gerakan serta peran dan ideologi gerakan Muhammadiyah dengan mengoptimalkan sistem kaderisasi yang menyeluruh dan berorientasi ke masa depan. Adapun dalam usaha mewujudkan rencana strategis itu tertuangkan lagi dalam garis besar program yang diantaranya tentang 1). Meningkatkan kualitas perkaderan dalam segala aspek, 2). Meningkatkan kompetensi kader, 3). Transformasi kader secara terarah dan berkelanjutan, 4). Pemberdayaan AMM, 5). Penguatan sekolah-sekolah kader Muhammadiyah, 6). Pemantapan dan peningkatan pembinaan ideologi gerakan. Hal-hal tersebut disusun mengingat posisi kader Muhammadiyah paripurna  sebagai buah hasil dari perkaderan itu sendiri jika berjalan dengan baik dan sukses menjadi bagian inti dari anggota, yakni anggota yang utama dan berperan sebagai anak panah pergerakan Muhammadiyah.

Sebuah sistem perkaderan yang tetap, dinamis dan fleksibel baik itu perkaderan utama maupun perkaderan fungsional adalah sistem yang dikedepankan coba dimasifkan oleh Muhammadiyah menyongsong abad keduanya terlebih ketika membaca kondisi terkini seperti era digital yang di timpali dengan pandemi covid-19 yang menuntut MPK PP Muhammadiyah lebih dalam melaksanakan sistem kaderisasi agar tetap terwujudnya kader Muhammadiyah yang paripurna. Sebagai contohnya, Munawwar Khalil, Wakil Ketua MPK PP Muhammadiyah, bahkan pernah menuliskan menggagas konsep Perkaderan Muhammadiyah 4.0 dalam makalah ”Perkaderan Muhammadiyah 4.0 : Menjejakkan Perkaderan Kepada Generasi Milenial”. Topik bahasan dalam tulisan tersebut sesuai dengan kondisi perkaderan saat ini. Konsep perkaderan tersebut bisa diartikan sebagai pendekatan perkaderan yang memadukan interaksi daring dan interaksi luring. Dengan daring sebagai media penunjang atau alternatif untuk emjawab keadaan hari ini namun dengan catatan bahwasanya perkaderan luring sebagai perkaderan utama karena perkaderan  sejatinya bukanlah sekedar proses transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, perkaderan bukanlah sekadar ruang pengayaan kognisi tetapi yang terlampau penting daripada itu adalah peneguhan sikap keberagamaan dan pengamalannya secara konkret.

Baca juga:  Menimbang Manfaat dan Mudharat E-Cigarette/Vape (I)

Keterkaitan Arah Gerak dan Perkaderan Muhammadiyah Abad Kedua

Setelah menilik antara arah gerak dan arah perkaderan dari persyarikatan Muhammadiyah Abad Kedua maka akan terlihat keterkaitan antara kedua hal tersebut. Sederhananya, kesinambungan yang simaksud disini adalah arah gerak Muhammadiyah abad kedua yang mengusung gerak pencerahan akan dapat terwujud apabila anggota, kader, dan pimpinan yang menjadi motor persyarikatan Muhammadiyah itu dapat terkader dengan baik dan tepat dalam sistem perkaderan yang baik dan tepat pula. Juga arah dari perkaderan yang ingin dicapai tersebut dapat terlaksana apa bila menjadi satu kesatuan dari arah gerak persyarikatan Muhammadiyah di Abad Keduanya ini sebagai indikator tujuan besarnya. Dengan dapat dapat disimpulkan kesuksesan cita-cita Muhammadiyah Abad kedua yang meneguhkan arah menjadi Gerakan Pencerahan akan sejalan dan berbanding lurus dengan kesuksesan pelaksanaan Arah dari sistem perkaderan berkemajuan yang menjawab tantangan zaman.

Daftar Pustaka

Ari Anshori, penuturan online Youtube tvMu Jogta : https://www.youtube.com/watch?v=_d6Mj9qg4co

Prof. Dr. H. Haedar Nasir, M.Si., Muhammadiyah Abad Kedua, Suara Muhammadiyah, 2011, hlm. 135-141

Prof. Dr. H. Haedar Nasir, M.Si., Muhammadiyah Abad Kedua, Suara Muhammadiyah, 2011, hlm 212-213

MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, hlm. xiii

Prof. Dr. H. Haedar Nasir, M.Si., Memahami Ideologi Muhammadiyah, terbitan Suara Muhammadiyah (cet 4, 2017)

MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, hlm xviii

MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, hlm 41

PP Muhammadiyah, Tanfidz Satu Abad Muhammadiyah, hlm 50 bagian a

PP Muhammadiyah, Tanfidz Satu Abad Muhammadiyah, hlm 50 bagian b

MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah, hlm 34

Munawwar Khalil, ”Perkaderan Muhammadiyah 4.0 : Menjejakkan Perkaderan Kepada Generasi Milenial” (2018)

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: editor.santricendekia@gmail.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: