Santri Cendekia

Catatan Kritis Mantan Simpatisan HTI

Sekitar 7 tahun yang lalu itu, saat saya masih jadi seorang santri, jiwa saya seperti bergairah untuk tampil di front paling depan dalam kerja-kerja sejarah umat Islam. Perasaan saat itu pokoknya saya ingin berkontribusi nyata dalam membangun peradaban Islam sesuai dengan apa yang diinginkan HTI. Saya sering menghadiri perkumpulan mereka, bahkan semakin takjub ketika mengikuti seminar-seminar mereka yang dengan detail menghantam berbagai paham yang menyesatkan. Setelah mengkritik sana-sini kemudian mereka menawarkan solusi nyata: Khilafah.

Kupikir hanya saya seorang yang mau bekerja membangun peradaban besar ini, ternyata waktu itu ada seorang kawan, namanya Mohammad Fadli Hidayat, juga punya visi dan misi hidup yang sama. Bahkan teman saya lebih crazy gitu dari saya: bukan sekadar ingin menegakkan khilafah, tapi dia juga ingin jadi khalifah. Kupikir-pikir ini anak sudah gila apa gimana kok tetiba kepincut pengen jadi khalifah. Entah benda apa yang menimpa kepalanya sehingga memiliki angan-angan yang bahkan untuk dikhayalkan pun susah.

Tapi usahanya mengejar cita-cita mulia jadi khalifah tersebut membuatnya rajin beribadah dan tahan banting dalam belajar. Tidak lupa pula setiap sore hari dia sempatkan melakukan “aktivitas-aktivitas sunah” seperti berkuda-memanah-berenang. Untuk menambah asupan bacaan, dirinya rajin membaca buku-buku terjemahan karya Taqiyuddin an-Nabhani, tabloid Suara Islam dan Media Umat. Segala aktivitasnya itu ia upayakan agar kelak menjadi next Al Fatih.

***

Pada waktu saya sedang asyik menyantap indomie di sebuah warung pinggir asrama, tetiba mendapat sebuah telepon dari seseorang yang mengaku sebagai panitia acara Konsolidasi Umat Menyongsong Khilafah Islamiyah. Dia mengajak saya untuk ikut bergabung dalam barisan para mujahid. Hati saya menjerit-jerit mendengar kabar Khilafah akan tegak tidak lama lagi. Terlebih katanya banyak artis yang akan ikut terjun menyambut momen paling bersejarah umat manusia ini.

Mendapat undangan telepon secara eksklusif seperti itu juga membuat saya merasa dibutuhkan dalam kerja-kerja peradaban. Mimpi saya menyaksikan secara langsung berdirinya khilafah takan lama lagi. Saya lantas mengajak Fadli. Sesuai dengan minat bakatnya menjadi khalifah, tanpa pikir panjang Fadli langsung mengiyakan. Kita bergegas menuju masjid Agung Ciamis tempat acara itu berlangsung.

Saat berkendara motor menuju masjid Agung Ciamis saya mengimajinasikan diri saya sebagai pembela agama Allah, sementara yang tak ikut konsolidasi hanyalah pihak-pihak yang nantinya akan merasakan kenikmatan di bawah naungan khilafah ala HTI. Harga minyak akan terjangkau, biaya kesehatan gratis, pendidikan yang merata, dan menghapus kesenjangan sosial.

Sementara Fadli membayangkan setiap orang yang dilihatnya saat di tengah perjalanan menuju lokasi adalah rakyatnya. Dia benar-benar berimajinasi akan melakukan segala upaya untuk menyejahterakan masyarakat, menghapus sistem demokrasi, mengusir para kapitalis, dan memberdayakan penggunaan dinar dan dirham.

Tapiiiii… Setibanya di masjid Agung Ciamis, saya cukup heran, kok nggak ada tanda-tanda peradaban besar akan muncul. Tidak ada pasukan Panji Hitam, tidak bendera liwa dan rayah, tidak ada banner, atau pun buletin Al Islam yang biasa berserakan. Padahal saya telah siap jadi relawan kekhilafahan. Fadli juga telah siap dibaiat jadi khalifah. Di masjid itu yang ada hanya suara gema takmir tua yang sedang mengeja bacaan Quran, ditemani suara gemuruh angkot yang lalu-lalang.

***

Hati saya sungguh kecewa. Begitu pula dengan Fadli. Menyaksikan peradaban besar yang akan membangkitkan Islam dari penjajahan Barat akhirnya sirna seketika itu juga. Saya berspekulasi ada pihak-pihak tertentu yang tak menginginkan Islam berajaya kembali. Tentu saja ini pasti ulah mereka orang-orang sekular-liberal pesanan Amerika Serikat. Saya merasa terjebak dalam arus politik global yang rumit. Sementara Fadli menganggap keanehan ini adalah upaya mengkudeta dirinya, bahkan sebelum dilakukan pelantikan menjadi khalifah.

Setelah menebak-nebak siapa dalang di balik semua ini, saya menghubungi panitia acara konsolidasi umat menyongsong Khilafah itu. Satu kali tidak diangkat. Perasaan saya mengatakan telah ada sesuatu yang nggak beres dengan masalah ini. Kemudian saya telepon lagi. Beberapa detik saya menunggu, setelah itu diangkat. Terdengar suara yang cukup dalam dan bilang:

“Geura balik ka asrama! Geus dahar can kehed?”

Bajigurrrr tenan. Saya dan Fadli kena prank anak-anak seisi asrama. Saat pulang dan tiba di asrama, mereka terbahak-bahak kegirangan menyaksikan dua manusia bigot kena hoax. Kalau saja mereka merekam lalu mengupload ke yucub, besar kemungkinan akan fayreul. Sungguh pada waktu itu saya ingin sekali menutup muka dengan kain kafan.

Setelah kejadian itu saya tidak mau lagi jadi simpatisan HTI. Selamanya. Apa? Tulisan ini tidak ada kritis-kritisnya? Ya judul itu cuma gimmick sesaat. Maaf ya.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar