Santri Cendekia

Mentafakkuri punahnya Wabah di Masa ‘Amru bin Ash

Helmi Riskih Saputra

Corona dan Fenomena Masyarakat Kita

Virus corona yang dikenal dengan Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan Cina pada Desember 2019. Word Health Organization (WHO) menetapkan status pendemi global Covid-19 setelah virus berbahaya ini menyebar ke sebagian besar wilayah dunia.Jumlah yang tertular dan korban yang meninggal semakin bertambah sedangkan titik terang pengobatannya belum efektif dan obatnya belum ditemukan.

Menteri kesehatan Terawan Agus Putranto mengungkapkan bahwa Corona virus mulai masuk di Indonesia sebelum Maret, dan terdeteksi yang positif Covid-19 pada 1 Maret 2020. Sebenarnya, virus corona bisa teratasi dengan cepat dan tidak merambat kemana-mana, jika masyarakat lebih cepat mengambil tindakan, menyadari dan mematuhi protokol pemerintah.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat menganggap remeh akan hal tersebut dan masa bodoh, tidak mau tahu. Dari sinilah, pemerintah dan dokter berbagai wilayah mulai kebingungan dalam mengatasi hal ini, dikarenakan jumlah korban yang terinfeksi Covid-19 semakin bertambah setiap harinya.

Ikhtiar Amr bin Ash dalam Menghadapi Wabah

Demi mengurangi dampak tersebut, pemerintah mengambil kebijakan, yaitu melakukan lockdown berbagai tempat; restoran, cafe, kampus, mesjid dan akses jalan ditutup total demi kemaslahatan bersama.

Hal ini serupa dengan kisah yang pernah terjadi pada saat zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, dimana pada zaman pemerintahan beliau ini penah terjadi wabah yang bermula di daerah Awamas, sebuah kota sebelah barat Yerussalem, Palestina. Wabah tersebut dikenal dengan penyakit Tha’un, wabah Tha’un menjalar hingga ke Syam (Suriah), bahkan sampai ke Irak.

Wabah tersebut terjadi di akhir 17 Hijriah, membuat kepanikan massal saat itu. Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr  bin Ash ra memimpin Syam. dengan izin Allah Swt dan kecerdasan beliau, daerah Syam dan sekitarnya bisa terselamatkan.

Baca juga:  Tentang Berita yang Viral dan Teori Mutawatir

Amr bin Ash berkata : “wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!”. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan masyarakatnya bertahan dan mengungsi di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah meredah dan hilang. Itulah ikhtiar yang dilakukan Amr bin Ash.

Ikhtiar merupakan salah satu dasar dalam ajaran Islam. Firman Allah dalam surat Ar-rad, ayat 11 menyatakan,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-rad ayat :[ 11])

Merujuk dari ayat tersebut, virus corona bisa saja akan terus berlangsung sampai ada usaha-usaha  nyata untuk menanganinya. setidaknya, ada dua tindakan yang bisa diusahakan:  1) mencegah (to prevend) dan  2)mengobati (to cure).

Anjuran dokter dan ulama untuk berdiam diri dalam rumah selama empat belas hari dan tidak menunaikan sholat berjemaah di mesjid demi terhindarnya dari penularan virus merupakan bagian dari usaha mencegah. Sehingga, warga dan masyarakat yang mengikuti protokol para ahli kesehatan dan ulama yang ilmunya bisa dipertanggung jawabkan merupakan bagian dari  ikhtiar mencegah tersebut.

Ibrah Tindakan ‘Amr bin Ash yang Bisa ditakafakkuri

JIka hendak mentafakkuri kisah di atas, maka  ada beberapa teladan yang bisa dijadikan contoh,   sebagai berikut :

Pertama, karantina atau yang kita kenal dengan mengisolasi daerah yang terkena wabah. Upaya ini berkesesuaian dengan sabda Nabi Saw yang berbunyi: “ Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negri sedang kalian didalamnya, maka janganlah kalian lari keluar di negri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga:  Sebelum Membahas Agnez, Mari Mundur Alon-Alon

Kedua, bersabar dalam menghadapinya. Diceritakan dalam hadist riwayat Imam Bukhari, “…Allah menjadikan wabah sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. maka barangsiapa yang terjadi suatu wabah penyakit di negerinya, lalu memilih untuk menetap (agar tidak tersebar wabah itu -edt), ia bersabar dan hanya berharap balasan dari Allah Swt. serta yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan oleh Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid,”

Ketiga, berbaik sangka kepada Allah dan selalu ikhtiar. sangkaan ini dilandasi oleh keyakinan bahwa Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan obatnya. Dalam kisah Umar bin Khattab, diketahui bahwa Ia berikhtiar menghindarinya. begitu pula Amr bin Ash yang berikhtiar untuk menghentikan penyebaran wabahnya. Persis seperti apa kita lakukan saat ini, yaitu “social distancing”, menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar sesama demi terhindar dari penularan virus.

Keempat, memperbanyak berdo’a memohon keselamatan kepada Allah. salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk dibaca setiap pagi dan sore adalah berikut ini:

“Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwasamiul’alim”. (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan dilangit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengatahui.”

Semoga kejadian yang menimpa kita saat ini, kita bisa lebih bertafakkur atas hakikat kehidupan.

Apakah Wabah Azab?

Banyak yang menyebut bahwa wabah ini salah satu bentuk azab Allah kepada umat manusia. hampir sama dengan penilaian  yang salah kaprah oleh masyarakatbahwa  wabah ini adalah tentara Allah.

Perlu diketahui bahwa wabah yang kita alami sekarang ini, bukanlah azab dari Allah. Karena wabah corona melanda dunia tanpa pandang bulu, juga menyerang orang-orang baik dan orang-orang yang tak berdosa. Yang tepat adalah,  wabah corona ini merupakan  ujian dari Allah kepada umat manusia yang dewasa ini sering angkuh dan merasa mampu melakukan segala sesuatu.

Baca juga:  Pemerintah Kita dan Logika Islamophobia

Abdul Qodir al-jilani berpendapat, wabah tidak datang sebagai azab bagi orang mukmin, namun sebaliknya sebagai ujian dan cobaan. Dengan jelas  beliau berkata:

Ketahuilah bahwa cobaan tidak datang kepada seorang mukmin untuk merusaknya, namun datang untuk menguji keimanannya.

Banyak kita jumpai orang yang terkena bencana, ia frustasi, pesimis, menyalahkan pihak-pihak tertentu, bahkan cenderung menyalahkan Tuhan.

baiknya, fonemena bencana alam tidaklah menjadi ajang untuk mengintrospeksi amal orang lain atau mencari-cari kesalahannya. Apalagi mengambing-hitamkan terjadi bencana atas perbuatan pihak tertentu. Yang demikian itu  bukan ciri ideal seorang mukmin.

Bencana mengajarkan kepada manusia untuk menjadi pribadi mukmin yang lebih berkualitas. Menyadarkan manusia akan hakikat hidup dan menambah keyakinan atas kekuasaan Allah.

*Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: