Santri Cendekia
Home » Menyibak Hipokrisi Barat, Media, dan Keterlibatan Gereja di dalam Krisis Gaza

Menyibak Hipokrisi Barat, Media, dan Keterlibatan Gereja di dalam Krisis Gaza

Tidak hanya memberikan dampak pada perayaan umat Islam saja. Namun, konflik Palestina-Israel juga telah memberikan dampak pada perayaan umat Kristen. Pada natal tahun 2023 yang lalu, tidak ada kemeriahan natal di daerah Gaza. Betlehem sebagai tempat peribadatan sentral umat Kristiani di daerah sekitar Gaza telah menunjukkan betapa muramnya perayaan natal pada tahun 2023.

Dilansir dari BBC News Indonesia, perayaan natal pada tahun ini sepi, tidak ada kemeriahan, tidak ada petasan, tidak ada kebahagiaan. Pohon cemara yang biasanya dijadikan ikon natal, tidak dipasang di kota ini. Justru, terdapat patung bayi Yesus yang diletakkan di tengah-tengah batu besar dan kawat sebagai lambang penghormatan terhadap anak-anak di Gaza yang tertindas.

Dalam kesempatan itu, Rev Munther Isaac, seorang pastor dari Betlehem memberikan pidato yang menyinggung tentang hipokrisi Barat dan keterlibatan gereja di dalam krisis gaza. Seluruh dunia menyaksikan betapanya krusialnya Palestina saat ini; pembunuhan yang menewaskan lebih dari 20.000 orang, hampir 9.000 anak terbunuh dengan cara yang sadis, ribuan runtuhan di mana-mana, bahkan hari demi hari ratusan ribu orang mengungsi. Zionis Israel telah menghancurkan Gaza seperti yang kita tahu, kota itu sudah tidak ada lagi, ini bukanlah sekadar konflik, melainkan genosida terhadap suatu bangsa.

“They if it takes killing 100 Palestinians to get one millitan Hamas, then so be it. Because in their eyes, we’re not humans”.Ungkap pastor Isaac dalam pidatonya.

Sebuah pembahasan yang unik tentang keterpihakan dunia Barat terhadap Israel yang diwakili oleh Amerika Serikat, serta pendiamannya terhadap serangan genosida yang dilakukan Israel. Karena hal ini menjadi bukti betapa hipokritnya dunia Barat terhadap hak asasi manusia. Padahal telah jelas, dunia Barat selalu mempropagandakan hak asasi manusia di depan masyarakat global. Meskipun telah terjadinya protes global yang menuntut sekaligus menegaskan kembali komitmen umum negara Barat terhadap demokrasi dan hak asasi manusia. Namun, hal ini tetap diabaikan oleh mereka, justru mereka lebih mendukung adanya penyerangan Israel terhadap Palestina (Edward Said, 1998).

Baca juga:  Gaza bukanlah Penjara dan Serbuan Israel bukanlah Tragedi: Palestina dan Politik Bahasa

Hipokrit negara Barat ini menghasilkan inkonsistensi dan standar ganda dalam mengemukakan hak pendapatnya. Satu sisi negara Barat mengecam keras segala bentuk penjajahan dan penindasan, di sisi lain negara Barat juga melegitimasi bentuk penjajahan dan penindasan. Hal ini bisa dilihat dari semua operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya; Irak telah menjadi saksi kekejaman Amerika dengan kasus 1 juta warga sipil terbunuh. Pada tahun 1999, di Yugoslovia sekitar 130.000-140.000 orang terbunuh akibat peperangan yang dilakukan NATO dengan menghancurkan rumah sakit, infratruktur, dan bangunan-bangunan lainnya, dan segala bentuk perang yang terjadi di timur.

Dalam konflik Rusia-Ukraina misalnya, Amerika Serikat menuduh Rusia telah melakukan kejahatan perang terhadap Ukraina. Bertolak belakang dengan kejadian Rusia-Ukraina. Dalam perang Israel-Palestina, Amerika justru mendukung Israel dalam menindas orang Palestina. Mungkin kerasisan Barat terhadap Timur dan Islamophobia menjadi sebab mengapa penindasan Palestina tetap berlanjut. Kemudian Barat mengambil alasan yang dirasa logis sebagai bentuk pembelaan diri di dalamnya; menyetujui legitimasi PBB terhadap Israel sebagai negara Yahudi di tanah Palestina. Adalah Dania Koleilat Khatib mengemukakan pendapat Boyle, yaitu berdasarkan pasal 3 ayat E dalam konvensi genosida, Amerika Serikat dapat terlibat dalam masalah genosida di Gaza sebab ikut membantu dan mendukung hal tersebut.

Salah satu kasusnya bisa ditemukan pada kasus penggunaan bom fosfor putih (White Phosphorus) oleh Israel dalam penyerangan kepada Palestina. Penggunaan bom fosfor putih telah dilarang dalam hukum humaniter internasional. Kesepakatan hukum tersebut disetujui oleh negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat sebagai negara yang menyetujui penyerangan Israel terhadap Palestina. Konsekuensi hukum jika mengacu pada komitmen umum Amerika Serikat, seharusnya Amerika mengambil tindakan melarang penggunaan bom yang dilakukan oleh Israel. Akan tetapi, kenyataannya Amerika lebih memilih diam dan menutup telinga. Respon ini sama seperti respon ketika sebuah misil yang menghancurkan sebuah rumah sakit di Gaza, yaitu menganggap hal tersebut bukan dilakukan oleh Israel melainkan dari pihak Hamas sebagai bentuk provokasi untuk menuduh Israel.

Baca juga:  Gaza: Bumi Ribath yang seharusnya Diprioritaskan

Isaac menyatakan dalam pidatonya,”they always take the word of Palestinians with suspicion and qualification. You know we’re not treated equally yet on the other side despite a clear track record of misinformation lies their words are almost always deemed infallible to our European friends” (Mereka selalu mengambil informasi dari Palestina dengan kecurigaan dan pengkualifikasian. Kamu tau, kami tidak diperlakukan setara dengan mereka meskipun informasi yang mereka ambil darinya bersifat misinformasi (hoax), tetapi meskipun demikian, teman kami (Eropa) menganggapnya valid dan kredibel”.

Pernyataan Isaac dalam pidatonya tersebut dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Maha Nassar, profesor dari universitas Arizona. Abu Zahrah, dalam artikelnya yang berjudul Digital apartheid: Palestinians being silenced on social media mengungkapkan, bahwa pada tahun 2020, Nassar telah melakukan penelitian selama 50 tahun, dari tahun 1970-2019 terhadap dua media terbesar di Barat, yaitu The New York City dan The Washington Post. Dalam penelitiannya, ia menemukan kedua media tersebut lebih suka membahas Palestina dalam bentuk sinisme dan rasisme. Selain itu, menghiraukan pernyataan-pernyataan dari Palestina sendiri (Zahrah, 2021). Hal ini menunjukkan betapa kejamnya media-media Barat dalam menyudutkan Palestina. Bahkan sempat terjadi berita yang memutarbalikkan fakta, sehingga seakan-akan Israel yang menjajah menjadi korban dan Palestina yang dijajah menjadi agresor. Sampai detik ini pun, The New York City masih melakukan hal tersebut.

Isaac juga menyindir kepasifan gereja dalam krisis Gaza, terutama umat kristen Barat, yaitu kaum Evangelis yang mendukung Israel; menjadikan al-Kitab sebagai senjata untuk membenarkan pembantaian tersebut; menjustifikasi penyerangan tersebut dilakukan atas dasar self-defense, bentuk perlindungan diri (Lihat lebih lanjut artikel: Why Do Evangelical Christians Support Israel’s Genocide against Palestinians? (2023, Novemer 10).

Ia memberikan sebuah sindiran:” I continue to ask how is the killing of 9,000 children self-defense? how is the displacement of 1.9 million Palestinians self-defense in the shadow of the Empire. They turn the colonizer into the victim and the colonized into the aggressor.”(Apakah membunuh 9000 anak adalah bentuk pertahan diri? Bagaimana bisa 1.9 Juta pengungsi Palestina yang terjajah, yang membela diri di bawah bayangan pemerintahan dianggap sebagai penjajah dan penjajah dianggap sebagai korban?)

Baca juga:  Rihlah Ilmiah Syaikh Yusuf al-Makassari dan Dedikasinya Terhadap Islam (2)

Dari pernyataan itu ia menegaskan kepada umat kristen Barat, bahwa apabila orang kristen membela penjajahan, penindasan, dan genosida suatu bangsa atas dasar penjustifikasian dari Bible, maka telah terjadi miskonsepsi dalam menafsirkan Bible dan itu diperlukan adanya dekontruksi tafsir. Selain itu, bentuk pasif dan diamnya gereja terhadap krisis di Gaza juga secara eksplisit menunjukkan keterlibatan atas persetujuan terhadap pemusnahan dan penjajahan di muka bumi. Setiap manusia pasti akan menyetujui pernyataan tersebut. Oleh karena itu, hal ini menunjukkan setiap manusia harus menggaungkan nama keadilan di dalam krisis Gaza. Sebab hal ini bukan masalah agama antara Islam, Kristen, dan Yahudi, melainkan perkara kemanusiaan dan moralitas.

Ia mengatakan:“if you are not appaled by what is happening in Gaza, if you are not shaken to your core, there is something wrong with your humanity”. (Jika kamu tidak kaget terhadap kejadian di Gaza, jika hatimu tidak terguncang, maka ada sesuatu yang salah dengan sikap kemanusiaanmu).

Referensi:

Karatas, Ibrahim. 2023. Why Do Evangelical Christians Support Israel’s Genocide against Palestinians?. https://politicstoday.org/why-do-evangelical-christians-support-israels-genocide-against-palestinians/

Koleliat, Dania. 2024. Odds stacked against Israel in genocide case. https://www.arabnews.com/node/2436381

Khalil, Shaima. 2023. Natal memilukan di Betlehem — tidak ada Sinterklas, tidak ada perayaan. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-67818695

Queency, G. (2017). “Penggunaan Senjata Kimia dalam Konflik Bersenjata antar Negara Ditinjau dari Hukum Humaniter International”. Dalam jurnal  Lex Privatum Vol. 6

Zahzah, O. (2021). Digital Apatheid: Palestinians being silenced on social media. https://www.aljazeera.com/opinions/2021/5/13/social-media-companies-are-trying-to-silence-palestinian-voices

Bethlehem Pastor Rev Munther Isaac criticises Western hypocrisy and Church complicity in Gaza crisis: https://www.youtube.com/watch?v=l75yhhAAPt0

 

Misbah Ardhi

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar