Santri Cendekia

Mereka Yang Sesat dan Mereka Yang Dimurkai (Al-Fatihah : 6-7)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

“tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang Engkau beri nikmat di dalamnya, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan jalan orang-orang yang sesat. (Al-Fatihah : 6-7)

 

Dalam sehari, minimal wajib kita salat sebanyak 17 rakaat. Otomatis, kita pasti membaca al-fatihah minimal sehari sebanyak 17 kali. 17 kali pula kita berdoa meminta petunjuk kepada Allah setiap harinya, melalui ayat ke-6 dari surat al-fatihah. Sungguh tidak ada langkah kita yang selamat tanpa ada petunjuk dari Allah ‘azza wa jalla. Kita mesti sadar, bahwa hidayah bukanlah hak prerogatif kita. Hingga tak boleh kita lupa bahwa keselamatan hanyalah ada di tangan-Nya. Dengan segala kerendahan dan kefakiran kita memohon hidayah kepada-Nya setiap saat. Dalam al-fatihah  ayat 6 ini pula kita wajib mengambil pelajaran, bahwa sudah hakikatnya, seorang manusia akan lebih mudah untuk menjaga konsistensinya di jalan yang lurus jika senantiasa berjamaah dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Itulah mengapa bunyi ayat ini bukanlah “tunjukilah aku”, melainkan “tunjukilah kami”. Semoga tangan kita senantiasa bergandengan dengan kawan-kawan yang salih hingga akhir hayat nanti.

 

Jalan yang lurus? Jalan seperti apa yang dimaksud Allah dalam ayat ini? Maka Al-fatihah ayat 7 yang hadir sebagai mubayyan (penjelas). Jalan yang lurus adalah jalan dari orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dan bukan jalan orang-orang yang diberi murka maupun jalan orang-orang yang sesat. Ibnu ‘abbas ra menafsirkan bahwa, orang-orang yang dimurkai oleh dalam al fatihah ayat 7 ini adalah orang-orang yahudi, dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang nasrani. Ada apa dengan mereka berdua? Yahudi dimurkai karena pembangkangan nyata mereka terhadap Allah akibat penyakit hati di dalam diri-diri mereka. Sedangkan orang-orang nasrani tersesat karena kebodohan mereka. MasyaAllah! Benarlah al-fatihah ini merupakan sebuah surat yang merangkum isi Qur’an. Jika kita mau mendalami, sungguh Penyakit hati dan kebodohan adalah dua sumber utama yang menyebabkan manusia sulit atau bahkan terhalang dari hidayah. Penyakit hati bisa berupa dengki, sombong, dendam, persis seperti karakter iblis la’natullah ‘alaih pada episode penciptaan adam. Iblis, kurang dekat apa lagi dia dengan Allah? Kedudukan iblis hampir setara dengan malaikat. Bahkan iblis dapat berbicara langsung dengan Allah. Begitu nyata kehadiran Allah dihadapan iblis. Namun sayang, semua keistimewaan itu tak berhasil menghalangi iblis dari kekufuran. Hanya karena sebuah ego yang terlaknat, iblis enggan bersujud kepada Adam dan sukses melakukan pembangkangan langsung terhadap Allah. Vonis Allah pun tak menjadikannya sadar, hanya menambah kelancangannya kepada Allah. Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia hingga hari kiamat tiba. Semua hanya karena penyakit hati.

 

Kaum nasrani, karena kebodohan mereka, mereka tersesat. Mereka gagal memaknai mukjizat yang ada pada Isa as. Berbagai mukjizat yang luar biasa yang harusnya membuat mereka semakin merendahkan diri di hadapan Allah, malah menjadikan mereka durhaka menganggap Isa as adalah seorang anak Tuhan. Dari sini pun kita belajar, bahwa mukjizat-mukjizat ataupun berbagai bukti kebesaran Alah yang bahkan tampak nyata dan tertangkap langsung oleh indra manusia, teryata tidak akan berguna ketika mereka hadir di hadapan orang-orang yang bodoh. Dan begitu pun sebaliknya, tanda dan ayat kauniyah sekecil apapun, bagi manusia yang memiliki bashirah yang jernih dan akal yang tajam, tentu akan mengantarkannya kepada Allah. Begitupun di jaman kita hidup ini, umat islam semakin jauh dari keilmuan islam itu sendiri. Sehingga seperti yang kita lihat sekarang ini, jumlah kita sangat banyak tapi bagaikan buih. Tanpa ilmu, keislaman kita begitu rapuh dan mudah diruntuhkan. Tanpa ilmu, ibadah kita bisa berbuah dosa karena beribadah tanpa tuntunan. Tanpa ilmu, keislaman kita menjadi kerdil dan mudah berperang dengan saudara seiman hanya karena berbeda pendapat untuk hal yang furu’. Tanpa ilmu, mudah sekali kita ikut berbagai macam cara hidup yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Kehadiran ilmu dalam hidup kita, hendaknya menjadi standar dan tolak ukur dalam tindakan kita sehari-hari. Jika standar nya saya kita tidak tahu, lalu darimana kita tahu tepat tidaknya semua tindakan kita selama kita hidup? Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan ilmu-Nya.

 

Penyakit hati dan kebodohan, mari kita hindari 2 hal ini agar kita tidak menjadi orang-orang yang jauh dari hidayah.

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar