Santri Cendekia

Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran (2)

Catatan: Ini merupakan tulisan serial mengenai Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran. 
Serial pertama: Merenungi Ayat Mutasyabihat dalam al-Quran (1)

_________

Dalam surat Al-Baqarah, Allah subhanahu wata’ala berfirman kepada Nabi Adam ‘alaihissalam:

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا  …

“Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka …” [QS Al-Baqarah (2): 38]

Yakni dengan kata kerja “tabi’a”.

Sedangkan di lain tempat, untuk momen yang sama, Allah berfirman:

فَمَنِ اتَّبِعَ هُدَايَ فَلَا

“Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka …” [QS Thaha (20): 123]

Yakni dengan kata kerja “ittaba’a”.

Apa hikmah pembedaan ini? Serta bagaimanakah trik untuk membedakannya saat menghafal?

Dipandang dari segi Sharaf, “ittaba’a” lebih mengandung makna sungguh-sungguh dalam mengikuti dibanding kata kerja “tabi’a”. Yang terakhir, lebih memberikan kesan perjuangan dalam mengikuti.

Demikian memang tipikal wazan “ifta’ala” dibandingkan dengan “fa’ala” yang mujarrad sebagaimana dikupas oleh Al-Imam At-Taftazani dalam Syarh Tashrif Al-‘Izzi.

Lagipula memang kaidah standarnya: “ziyadatul mabna tadullu ‘ala ziyadatil ma’na”, adanya tambahan huruf pada suatu kata memberikan tambahan makna. Nah, dari sini kita sudah dapat clue.

Di antara hikmah pembedaannya adalah:

Pertama: Di surat Thaha, Allah sudah lebih dulu menyebutkan: “Dan sungguh Kami telah mengambil perjanjian dari Adam.” [QS Thaha (20): 115].

Maka karena sudah disebutkan bahwa telah ada perjanjian dengan Nabi Adam sebelumnya, tentu lebih dituntut lagi untuk serius dan berjuang dalam mengikuti petunjuk-Nya. Dari sinilah di surat Thaha digunakan kata kerja “ittaba’a” berbeda dari surat Al-Baqarah yang tidak ada penyebutan soalan perjanjian ini.

Kedua: Di surat Thaha, Allah menghikayatkan bahwa Nabi Adam yang sudah diambil dari beliau perjanjian, malah lupa dan tidak didapati tekad kuat pada diri beliau [lihat QS Thaha (20): 115]. Suatu hal yang tak disebut di surat Al-Baqarah.

Baca juga:  Pergiliran Kejayaan dan Ujian Keimanan

Karena itulah di surat Thaha ini beliau ditekankan agar dalam mengikuti petunjuk Allah kelak, harus lebih serius dan berjuang lagi, dengan dipilihnya kata kerja “ittaba’a”.

Ketiga: Di surat Thaha, Allah katakana bahwa Nabi Adam telah berbuat kedurhakaan dan telah menyimpang [lihat QS Thaha (20): 121]. Hal yang tak ditemukan di surat Al-Baqarah.

Sebab itulah seolah beliau di surat Thaha lebih dimotivasi agar mengerahkan keseriusan dan perjuangan dalam mengikuti petunjuk-Nya sehingga tidak lagi melakukan kedurhakaan atau bahkan menyimpang.

Keempat: Berbeda dengan yang di surat Al-Baqarah, di surat Thaha, Allah sebutkan sebelumnya bahwa seluruh manusia di Mahsyar benar-benar serius dan berjuang untuk mengikuti (“yattabi’uuna”) panggilan malaikat tanpa melenceng sedikit pun apalagi membantah [QS Thaha (20): 108].

Maka Allah pilih diksi “ittaba’a” dalam rangka mengingatkan Nabi Adam, ayahanda segenap manusia ini, beserta keturunan beliau untuk melakukan hal itu pula di dunia. Serius dan berjuang mengikuti petunjuk Tuhan, tanpa melenceng apalagi membantah, agar beroleh keberuntungan di Mahsyar.

Kelima: Di surat Thaha, Allah rinci dan ungkap jelas bagaimana redaksi kata-kata godaan Iblis kepada Nabi Adam [lihat QS Thaha (20): 120]. Sementara di surat Al-Baqarah [lihat QS Al-Baqarah (2): 36], Allah tidak sebutkan teks godaan Iblis itu bagaimana kata-katanya. Hanya disebutkan bahwa Iblis berhasil menggelincirkan Nabi Adam dan menyebabkan beliau terusir dari surga.

Dari sinilah muncul kesan bahwa godaan Iblis di surat Thaha terlihat bagaimana beratnya, sehingga untuk mencegah berulangnya ketergodaan itu butuh keseriusan dan perjuangan ekstra dalam mengikuti petunjuk Allah, lantas dipilihlah diksi “ittaba’a”.

Fastabiqul khairaat.

***

 

Nur Fajri Romadhon

Ketua Majelis Tarjih PCIM Arab Saudi, Anggota Divisi Fatwa MUI Jakarta, dan Mahasiswa Pascasarjana King Abdulaziz University

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: