Merindukan Pembaharu Sekelas KH. Ahmad Dahlan

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com
Pilihan Redaksi

Penulis: Ahmad Jilul Qur’ani Farid*

Banyak diantara kita punya kesan tersendiri dan bangunan persepsi atas satu nama yang kita sebut sebagai pembaharu Islam di Indonesia: KH Ahmad Dahlan. Bagi saya, Ahmad Dahlan bukanlah sekadar melakukan aksi sosial semata. Gerakannya menyantuni mustadh’afin dan menginisiasi sekolah bukan gerakan sosial pendidikan an sich.

Kala itu, sejatinya Ahmad Dahlan sedang melakukan sebuah misi peradaban, yang semestinya harus terus dilanjutkan oleh muslim lintas zaman, yakni membuat Islam senantiasa relevan, tak berjarak bahkan terputus dari realitas. Bahkan Islam tak boleh menjadi tempurung yang mengungkung sehingga melahirkan pemikiran dan watak keberagamaan yang sempit. Dalam misi Dahlan, agama harus bisa menjawab berbagai persoalan, terlebih yang dihadapi umat.

Dari Jamaluddin Al Afghani, Ahmad Dahlan menjumput inspirasi bahwa ada kesalahpahaman akan qadha dan qadar, yang membuat umat Islam menerima begitu saja segala kemundurannya dibandingkan barat. Kala itu, tradisi Jawa yang mulai jauh terdeviasi dari konsep ideal wali songo, dimana yang tersisa hanya sekadar kulit terluar, kehilangan relevansinya dan makin menjauhkan umat dari kemajuan. Dan sebagai keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, bukannya Ahmad Dahlan tak paham tentang idealisme Islam dengan infrastruktur budaya yang digagas pendahulunya. Justru ia ingin menarik kembali agar Islam kembali relevan.

Pemisahan sektoral Clifford Geertz antara santri, abangan, priyayi mengungkung umat pada pikiran sempit kalangannya masing-masing. Bahwa santri haruslah tetap dalam lingkaran santri, sementara akses kemajuan bergelimang keningratan milik priyayi, dan abangan biarlah tetap terbelakang.

Ahmad Dahlan mendobrak itu semua, ia buat kabur sekat-sekat itu dengan cara-cara simbolik namun jitu khas cara para wali. Ia tak sungkan berbaur dengan para priyayi di Boedi Utomo bahkan menjadi anggotanya, mengadaptasi simbol pendidikan barat dalam madrasah diniyah-nya. Lalu kemudian menyantuni mustadh’afin yang kebanyakan abangan, mengajak anak-anaknya bersekolah di tempatnya. Atau bahkan sesederhana berpakaian ala sinyo Londo, bersepatu, namun tetap berjarik dan bersorban, sangat ampuh mengaburkan batas-batas yang menyempitkan ruang agama. Pada akhirnya agama juga menjadi hak para priyayi yang mulai haus akan spiritualitas dan keranjingan teosofi, ia juga jadi hak bagi abangan yang merasa urusan transendental tak berkaitan dengan perut yang lapar.

Dahlan hanya tak ingin, agama menjadi seperti yang disiratkan Muhammad Abduh: Al Islam Mahjubun bil Muslimin, Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam. Yang kemudian akan membuat generasi berikutnya kehilangan jejak akan Islam, yang tersisa ia mewarisi tradisi buruk yang justru menutupi Islam.

Hari ini, lebih dari 100 tahun pasca Muhammadiyah berdiri, Islam kembali kehilangan relevansinya atas realitas dan persoalan yang dihadapi umat maupun rakyat Indonesia. Agama rasa-rasanya makin jauh dari mereka yang termarjinalkan, dimana peran sosial tak lagi terinspirasi dari firman-Nya, sebagai Ahmad Dahlan yang melakukan pergerakan sosial dengan inspirasi Al Ma’un.

Atas lingkungan yang rusak, umat Islam lupa firman Tuhan bahwa kerusakan di darat dan laut karena ulah manusia, ia juga lupa bahwa amanat Tuhan memintanya menjadi wakil-Nya untuk memakmurkan bumi. Lalu negara yang seharusnya menjadi pengayom pun lupa bagaimana menjaga kelestarian bumi, dan kita pun diam saja saat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan akan dicabut demi melanggengkan keserakahan.

Atas miskinnya petani, yang mayoritas adalah muslim, umat Islam lupa akan sabda nabi bahwa yang tak peduli dengan urusan kaum muslimin bukanlah bagian darinya. Tak ada Ghiroh yang bergetar melihat petani harus hutang sana sini bahkan terjerat rentenir untuk membeli pupuk maupun benih yang disuplai industri. Lalu tak sedikit yang berpikiran bahwa kemiskinan itu soal ikhtiar, ia lupa bahwa sejatinya umat tengah dimiskinkan.

Atas kesewenang-wenangan negara, mengambil paksa tanah yang tak mau diberikan oleh pemiliknya, umat Islam lupa bahwa berat sanksi di akhirat bagi para perampas tanah. Ia juga lupa bahwa jihad paling besar adalah menyerukan kebenaran dihadapan penguasa. Belakangan munculnya aksi ibu-ibu yang bertelanjang dada demi mempertahankan tanahnya, harusnya membuat kita bergeming dan merenung, betapa kebijaksanaan agama berikut solusinya tak hadir, dalam menentang kedzaliman, sehingga memaksa para ibu melakukan aksi diluar nalar.

Atas keserakahan negara dan cukong berbalut investor, kita lupa betapa agama membenci keserakahan. Lalu kita percaya pada negara bahwa mereka menyebut hal itu ialah perbaikan, padahal mereka tengah melakukan kerusakan.

Tanpa beban, rasanya kita bisa rukuk dan sujud dengan khusyuk dalam bilik pribadi tanpa terpikirkan sama sekali persoalan-persoalan yang tengah dihadapi umat. Bahkan tanpa rasa dosa kita merasa menjadi orang yang religius sembari abai bahkan ikut-ikutan merampas hak mustadh’afin.

Kita pun marah saat Nabi, cadar, adzan, ayat Al Qur’an menurut kita dilecehkan. Namun bergeming saat Izzah Islam tak lagi tersisa, sebab Islam tak mampu memberi solusi bagi mereka yang kelaparan, dirampas haknya hingga dimiskinkan. Dan kita justru tenang-tenang saja, bahkan bersorak sorai bergembira melihat agama dihinakan dikomodifikasi untuk urusan politik dan keuntungan dagang semata.

Kita nampaknya telah sampai kepada titik Islam hanya urusan spiritual simbolik semata, dan telah hilang ia dari dimensi sosialnya. Dan kita membutuhkan lagi hadirnya para pembaharu.

Wallahu a’lam bisshowab

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com

Tinggalkan komentar