Santri Cendekia
menulis
Home » Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis

Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis

Judul                     : Alirkan Jati Dirimu (Esai-Esai Ringan untuk Meruntuhkan Tembok-Kemalasan Menulis)

Penulis                 : Natalie Goldberg

Penerjemah       : Yuliani Liputro

Penerbit              : Mizan Learning Center

Cetakan ke         :  1

Tahun                   : 2005

Kadang kala ketika kita sedang berimajinasi namun begitu segar dan cemerlang, tetapi ketika sudah dituliskan terasa tidak bagus. Atau mengapa tidak seperti yang diharapkan? Itulah salahsatu permasalahan menulis tentang beban pikiran yang terdapat di dalam diri penulis. Atau, kita seperti memiliki sesuatu alasan saja untuk tidak menulis, entah waktu yang tidak luang, pikiran yang tidak tertata, ataupun yang lainnya. Namun sebenarnya itu hanyalah tembok penghalang untuk menulis.

Goldberg menceritakan menulis itu seperti berlari, menulis seperti memasak. Tak peduli berapa workshop yang kamu telah jalani, jika kamu tidak memerlakukan menulis perlu latihan, tetap saja tak akan pernah bisa menulis. Menulis juga bukan seperti membuat burger yang sekali jadi kemudian dilahap. Menulis adalah sebuah latihan perjalanan panjang untuk menyempurnakan karya-karya tulisan kita. Bayangkan saja jika seorang pelari tidak pernah dilatih untuk berlari lebih jauh secara cepat, pastinya ia akan mengalami sebuah kelesuan untuk berlari. Menulis pun ia memiliki latihan untuk bisa mencapai mahir.

Menulis memerlukan kesabaran, setidaknya ada lima tahun tulisan sampah yang dihasilkan untuk benar-benar menulis. Entah itu berupa catatan, diary, ia akan menjelma layaknya kebiasaan. Teknik atau metode yang digunakan pun belum masuk hitungan. Mengulang kembali bahwa menulis adalah sebuah keterampilan yang harus diasah. Ketekunan dalam menulis menjadikan hasil latihan tulisan kita benar-benar bermakna.

Melalui buku ini, Goldberg bercerita melalui esai-esainya yang menyegarkan untuk menghancurkan tembok-tembok penghalang dalam menulis. Dimulai dari peralatan yang digunakan untuk menulis. Sesungguhnya pikiran kita lebih cepat daripada gerakan tangan kita untuk menulis, jangan sampai tersendatnya pena dan kurangnya kertas menghalangi kecepatan kita untuk menyalin apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Memang, dunia luar terbentuk dari dalam, tapi pengaruh eksternal akan membentuk bagaimana pikiran di dalam tubuh.

Baca juga:  Mengenal Durrat al-Faraid, Kitab Akidah Karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri

Merambah kepada bagaimana seharusnya menulis isi buku, Goldberg menceritakan esai-esainya dengan mencampurkan antara realita yang terdapat di lapangan dan berbagai contoh –contoh yang ia hadirkan dalam sebentuk karya  Misalnya, ketika Goldberg membuat syair menggunakan benda-benda yang ada di sekelilingnya. Ia menggunakan Puisi William Charlos Wiliam sebagai berikut

Gerobak Merah

begitu banyak yang bergantung

pada

sebuah gerobak

warna merah

yang berkilau oleh

air hujan

di samping

ayam-ayam putih

 

Ada baiknya ketika menulis layaknya kita berada di lokasi kejadian. “Janganlah menjauh dari api dan kehangatannya dengan “membicarakannya”. Tetaplah dekat dengannya. Dengan begitu anda belajar menulis” (Goldberg, 2005:67). Membiarkan kata-kata itu mengalir dalam sebuah puisi.

Bisa ditarik garis dantara tema-tema yang disajikan di dalam buku adalah mengenai pikiran. Menata pikiran, ketakutan, dan kekacauan menjadi salah satu penghalang untuk menulis. Sebenarnya, ketika kita sudah menghancurkan satu dinding ini semuanya akan terbuka. Katakan saja “Saya bebas menulis apapun, sejelek apapun dunia”. Kita seharusnya memberi ruang tersendiri untuk menulis sebanyak-banyaknya tanpa harus terbebani dengan jeleknya tulisan kita.

Terkadang ada sesuatu yang seharusnya ditulis secara general, tetapi juga ada yang perlu ditulis secara detail. Detail akan menjadi menarik dan lebih memperjelas dan menghidupkan penggambaran. Berbeda rasanya ketika menulis “kota besar” dengan “Jakarta”. Kita juga setidaknya menuliskan nama dan nama-nama benda di sekitar kita seperti “Saya tinggal di Condongcatur, di Yogyakarta kurang lebih 300 meter dari musholla dan membawa tas-tas belanjaan buku hasil meminjam di perpustakaan kota.” Detail akan lebih terasa dibandingkan menulis “Saya tinggal di sudut kota Yogyakarta, dan repot dengan barang bawaan”.

Terakhir, akuilah tulisanmu. Akuilah segala kelebihan dan kekurangannya. Percaya pada dirimu dan percayailah komentar teman yang membaca karyamu. Seperti percaya kepada tanah yang menjadi sandaran pijakanmu, atau kepada langit yang menjadi naunganmu. Menulislah! Walaupun tulisan ini belum mencapai tulisan yang diharapkan. 😀

Baca juga:  Buya Hamka: Pribadi yang Berjiwa Besar dan Pemaaf

 

Ila Shalihah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar