Santri Cendekia

Mindset Messiahisme yang Kontraproduktif

Messiahisme berasal dari kata ‘messiah’ yang artinya adalah juru selamat. Sebuah mindset yang menyandarkan kemenangan, keselamatan, dan kebangkitan suatu umat dan komunitas terhadap lahirnya atau munculnya sesosok tokoh yang dipercaya kesakralannya dan kemampuannya untuk mengangkat berbagai kesulitan atau penindasan dari kaum tersebut.

Lalu apakah mindset ini benar benar produktif? Al Qur’an yang akan menjawabnya.

Sepertiga isi Al Qur’an adalah kisah. Baik itu kisah tentang Nabi, orang orang soleh, hingga kaum durhaka. Padahal seperti yang kita yakini bahwa Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia (2:185), khususnya untuk muslimin yang bertaqwa (2:2).

Itu berarti kisah kisah di dalamnya juga merupakan petunjuk peri hidup bagi orang orang yang beriman. Jika ia adalah kisah para Nabi dan orang orang soleh, maka kita patut mengambil keteladanan darinya. Jika itu kisah kaum kaum yang durhaka, maka kita patut mengambil pelajaran darinya.

Salah satu kisah kaum durhaka yang cukup banyak dihadirkan adalah kisah Bani Israil. Bagian yang hendak dipotret dalam tulisan ini adalah mindset Messiahisme Bani Israil.

Pada surat Al Baqarah ayat 246, Bani Israil meminta kepada Nabi mereka-dalam beberapa riwayat disebutkan Nabi tersebut adalah Nabi Samuel-agar diutus seorang pemimpin bagi mereka untuk memimpin mereka untuk berperang melawan Jalut dan pasukannya.

Nabi Samuel yang tahu tabiat buruk Bani Israil mengkonfirmasi sekali lagi, jangan jangan jika sudah diutus seorang pemimpin kepada mereka yang mengajak mereka berperang, mereka akan menolak untuk berperang. Ternyata benar, di ayat yang sama, Allah ‘Azza wa Jalla menyampaikan bahwa setelah Bani Israil diperintahkan untuk berperang, hanya sedikit dari mereka yang akhirnya ikut berperang.

Baca juga:  Hikmah Penolakan Tha'if dan Penerimaan Madinah

Di ayat selanjutnya (2:247), akhirnya dipilihlah seorang pemimpin bernama Thalut. Namun para pemuka Bani Israil protes, mengapa Tholut? Bukankah mereka lebih pantas dari Tholut karena mereka memiliki kekayaan dan sumber daya yang lebih banyak. Dalam Tafsir Ibju Katsir, dikatakan bahwa Tholut adalah seorang pengangkut air atau penyamak kulit.

Singkat cerita, pada ayat 249, jadilah mereka berangkat berperang. Di tengah perjalanan Tholut berpesan kepada mereka bahwa Allah akan menguji mereka dengan sebuah sungai. Barang siapa minum banyak dari sungai itu maka ia bukan pengikut Tholut, kecuali hanya minum sebanyak apa yang mampu diciduk oleh kedua tangan mereka.

Ternyata hanya sedikit dari mereka yang berhasil menjalankan pesan dari Tholut. Dan orang orang yang minum banyak banyak dari sungai itupun akhirnya mundur dan menyatakan ketidak-sanggupannya untuk mengikut perang melawan jalut.

Di lain ayat (2:89), bercerita tentang kaum yahudi madinah yang senantiasa menyebut nyebut kedatangan Nabi mereka yang terakhir yang akan membangkitkan dan membantu mereka untuk mengalahkan kaum musyrik Arab seperti kaum ‘ad dan ‘iram dikalahkan.

Namun setelah Nabi terakhit diutus dan mereka tahu Nabi tersebut berasal dari Arab, mereka pun menjadi kaum pertama yang kafir terhadap Nabi itu.

Dari beberapa kisah ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa logika messiahisme itu kontraproduktif terhadap upaya pembangkitan dan perbaikan umat secara kolektif.

Karena sepanjang sejarah peradaban islam, sunnatullah yang terjadi adalah, setiap kebangkitan umat dimulai dari kesadaran level individu hingga komunitas umat muslim untuk memperbaiki diri dan kembali ke manhaj islam. Yang mau tidak mau dimulai dari perbaikan ilmu, baik ilmu untuk perbaikan jiwa dan perbaikan amal.

Baca juga:  Antara Umar bin Khattab dan Amr bin Hisyam

Kita bisa melihat, Bani Israil yang terfokus untuk selalu menunggu juru selamat untuk kaum mereka, namun membuat mereka lupa memantaskan dan memperbaiki diri, justru membuat mereka mengkhianati bahkan memusuhi perjuangan dari juru selamat yang mereka tunggu tunggu.

Ini ibarat rakyat indonesia yang selalu menunggu pemilu untuk mendapatkan messiah (juru selamat) bagi mereka, tapi mereka enggan menyiapkan dan memperbaiki diri untuk merubah keadaan.

Alhasil, jika tidak yang terpilih adalah pemimpin dan pejabat yang salah karena kebodohan pilihan kita sendiri, atau yang terpilih adalah pemimpin yang baik namun mental dan kelakuan bobrok kita membuat kita tidak mampu mendukung visi visi baik pemimpin tersebut baik karena sengaja atau tidak sengaja.

Akhirnya sama saja, keadaan berubah lebih buruk, atau tidak berubah sama sekali, semua karena kita.

Mulai kurang kurangi mindset kontraproduktif seperti ini, khususnya teruntuk umat islam. Bahkan seorang Shalahuddin Al Ayyubi yang kamu elu elukan itu, adalah seorang yang muncul dari proses tarbiyah dan perbaikan generasi yang panjang yang dilakukan para Ulama sebelumnya, misalnya oleh Imam Al Ghazzali dan Syekh Abdul Qadir Al Jillani (baca hakadzaa zhahara jill shalahuddin wa hakadzaa ‘adatul quds).

Mau dikasih 10 Shalahuddin juga, kalau mental kita macem sekarang, ya tetap saja indonesia akan terus blangsak seperti ini.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan apa yang ada pada diri mereka.”

(Ar-Ra’d: 11)

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: