Santri Cendekia

Muhammadiyah dan Pembubaran Diskusi

Kiyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah memang bukan ‘man of talk’, melainkan ‘man of action’. Beliau dikenal sebagai ulama yang tidak banyak meninggalkan karya tulis, tapi jejak amalnya tidak bisa dinafikan siapapun. Meski begitu, bukan berarti beliau tak gemar bertukar pikiran. Mau itu debat, dialog, atau diskusi, beliau melakoninya. Beliau melayani tukar pikiran dengan yang sepaham maupun yang beda paham. Bahkan dengan yang beda paham ini,  beliau sangat menganjurkannya.

Salah satu wejangan yang dicatat oleh murid beliau, Kiyai Hadjid, menunjukan hal itu dengan sangat eksplisit. Dawuh beliau, “Kebanyakan diantara manusia berwatak angkuh dan takabbur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri”. Kiyai Hadjid mensyarah pernyataan gurunya ini dengan menghubungkannya dengan keengganan berdiskusi;

“Kiyai Ahmad Dahlan heran kenapa pemimpin agama dan yang tidak  beragama selalu mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan  pertemuan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar  dan yang salah. Hanya anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, dengan muridnya, dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masig-masing untuk membicarakan manakah yang sesungguhnya benar dan manakah yang salah.”

Kiyai Syujak, murid Kiyai Dahlan yang lain, meriwayatkan kepada kita bagaimana ulama keturunan salah satu Walisongo itu menjelaskan falsafahnya dalam bentuk laku.  Kiyai Syujak mencatat bahwa Kiyai Dahlan pernah mengundang beberapa tokoh untuk berdiskusi di markas Muhammadiyah.  Salah satu yang cukup berkesan bagi Syujak muda adalah kunjungan  tiga tokoh kunci ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging), organisasi yang dikenal sebagai cikal-bakal PKI itu. Di pertemuan itu, tanpa diawali al-Fatihah (tidak seperti pakem rapat umum biasanya), Semaun dan Darsono berapi-api memaparkan paham mereka di hadapan segenap HB (Pimpinan Pusat) dan warga Muhammadiyah, sementara Sneevlit sang mentor hanya duduk diam.

Baca juga:  Tiga Kali Tidak Shalat Jumat, Kafir?

Menurut Kiyai Syujak ada dua akibat penting dari pertemuan dengan ISDV itu. Beberapa hari setelah rapat umum tersebut, beberapa priyayi dan pamong praja mengirimkan surat pernyataan berhenti dari Persyarikatan. Mereka tidak suka sebab Muhammadiyah dipandang setuju dengan ISDV. Menanggapi ini, Kiyai Syujak berseloroh, “Tidak apalah, itu biasa”. Tapi apakah memang Muhammadiyah setuju dengan ISDV? Tentu tidak. Lalu untuk apa ISDV diundang? Ternyata rahasianya ada di akbiat kedua, yakni semakin menyala-nyalanya semangat dakwah para muballig Muhammadiyah.  Alasannya disebutkan Kiyai Syujak;

“Setelah mendengar propaganda ISDV, mereka bertambah giat dan bertambah tebal keyakinannya bahwa Islam akan dapat kemenangan dalam perjuangannya, karena menyadari dan menginsyafi idiologi ISDV remeh, yang kotor saja dapat laku dijual kepada umat manusia asal ditawarkan. Apalagi Agama Islam yang datang dari Allah dengan wahyu yang amat suci diturunkan kepada Nabi untuk disampaikan kepada ummatnya dari segala bangsa”.

Ditambah lagi, setelah itu, Kiyai Dahlan memberikan motivasi bagi murid-muridnya,

“Saudara-saudara para muballighin dan para muballigha yang mulia, dengan kemuliaan saudara-saudara itulah, saudara-saudara dititikberatkan menjadi pelopornya Agama Islam untuk menyampaikan wahyu Ilahi yang suci dan murni itu kepada ummat manusia segala bangsa. Dengan tidak adanya saudara-saudara sebagai muballighin dan muballighat yang aktif dan bersemangat itu, akan musnalah Agama Islam dari muka bumi saudara, yakni dari tanah air saudara.”

Jelaslah bahwa Kiyai Dahlan mau mengundang propogandis dari berabagai organisasi baik yang sepaham, agak sepaham, maupun tidak sepaham sebab beliau yakin benar dengan pendirian dan ajarannya. Meski begitu, beliau masih terbuka untuk mengambil manfaat dari kelompok manapun. Semisal belajar strategi dan semangat propoganda dari ISDV sebagai bahan ‘studi banding’ para pendakwah. Di kesempatan yang lain, beliau juga mengundang tokoh perempuan Syarekat Islam yang telah terpengaruh ideologi kiri untuk berceramah di depan jamaah Aisyiyah. Efeknya juga sama, setelah itu, para pemudi dan ibu-ibu Aisyiyah jadi tidak canggung lagi berorarsi di rapat-rapat umum.

Baca juga:  Awal Syakban 1441 H di Tengah Pandemi Corona

Jadi untuk apa saya memaparkan fakta-fakta sejarah ini? Tentu bagi saudara pembaca yang selama ini rajin mentadabburi headline-headline berita online paham betul konteks tulisan ini; Sebuah diskusi ilmiyah dibubarkan paksa dengan intimidasi dan teror ancaman pembunuhan. Penerornya mencatut nama Muhammadiyah. Bagi yang mengenal Perysrikatan ini tentu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ini sungguh bukan tipikal orang Muhammadiyah, seawam apapun dia.

Kemungkinannya ada dua; pertama nama ormas ini telah dicatut oleh seorang yang sangat lugu, sebab pilihan ormasnya kok ya sangat tidak nyambung dengan tujuannya. Mengintimidasi kok dengan nama Muhammadiyah. duh gusti. Kedua, jika memang yang bersangkutan adalah anggota Muhammadiyah, maka dia sungguh layak disebut Muhammadiyah KTA, ekuivalen dari Islam KTP. Kemuhammadiyahnnya hanya tersimpan di dompet, dipakai sekali-kali jika ada keperluan.   Keduanya tentu sangat tidak bisa dibenarkan dan sangat tidak Muhammadiyah banget. Kita tunggu saja hasil penyelidikan Polisi. Mas Ravio yang HPnya menyebarkan pesan anarko saja begitu cepat digeruduk, semoga yang ini juga cepat ketahuannya. Meski siapa pembajak wassap beliaupun ternyata tetap misteri ilahi.

Namun refleksinya jangan sampai di kasus ini saja. Toh selama ini, saya juga beberapa kali mengetahui adanya diskusi di lingkungan Muhammadiyah yang terpaksa gagal atau terkpaksa ganti pemateri sebab diprotes bertubi-tubi. Pada kejadian-kejadian itu, yang protes jelas orang Muhammadiyah sendiri.  Alasannya biasanya karena pematerinya kurang lurus pikirannya. Ya kita bisa melihat dari kisah Kiyai Dahlan dan ISDV di atas, bahkan gembong komunis pun beliau undang untuk berorasi di hadapan warga Kauman dan murid-murid kesayangannya. Jika kita yakin dengan garis perjuangan dan efektifitas kaderisasi kita, mengapa harus khawatir kader akan keder hanya karena diceramahi tokoh ‘sesat’ dalam satu sesi diskusi?

Baca juga:  Membangun Filsafat Sains Modern; Review Atas Tulisan Towards a Contemporary Philosophy of Islamic Sciene Karya Anwar Ibrahim (1)

Di sisi lain, jika hendak mengadakan diskusi sebaiknya memang bisa secermat Kiyai Dahlan; beliau sudah membekali murid-muridnya dengan prisma paradigma Islam yang kuat. Telah mampu menganalisis wacana dan mengambil yang emas, meninggalkan yang limbah. Beliau tidak menggelar diskusi hanya untuk heboh-hebohan saja. Bukan sekedar intellectual game, tapi memang ada misi yang terencana. Beliau ingin murid-muridnya belajar dari tokoh manapun sebab semua orang punya sesuatu untuk ditawarkan. Jadi, tujuannya sama sekali bukan untuk memberikan platform ke ide-ide eksentrik, hanya karena ingin dianggap nyentrik.

Wallahu a’lam ..

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

2 comments

Tinggalkan komentar

  • Bagus sebagai pencerahan bagi warga Muhammadiyah dan umat terutama Penguasa Negeri ini, untuk segera meringkus mereka yang berfalsafah pejah gesang nderek ……

  • Kiai Dahlan memang luar biasa seperti yang telah digambarkan oleh Kanda Ayub ini. Beliau sudah selesai dengan semua urusannya terhadap murid-muridnya, terhadap bangunan keislaman dan kaderisasi yang kuat. Namun melihat realitas sekarang sudahkah kaderisasi yang ada sekarang sudah seperti masa Kiai Dahlan?

%d blogger menyukai ini: