Santri Cendekia
Home » Muhammadiyah Salafi dan Kebutuhan Dasar dalam Dakwah

Muhammadiyah Salafi dan Kebutuhan Dasar dalam Dakwah

Oleh: Abdul Lathif Arridha, S.Ag, B.A

Anggota Majelis Tabligh PWM Kalimantan Timur (2022-2027)

Polarisasi dalam Muhammadiyah bukanlah hal yang baru. Dalam pandangan politik, tahun 1918 pernah ada dua pendapat antara KH. Dahlan dan H. Agus Salim tentang Muhammadiyah menjadi partai politik.[1] Dalam basis jamaah, pernah ada Muhammadiyah dan Tarbiyah[2]. Dalam pemikiran, Muhammadiyah pernah dihadapkan dengan Islam Liberal[3]. Hari ini, gelombang dakwah salafi adalah realita yang yang saat ini menguji dakwah Muhammadiyah.

Seperti varian yang lain di antara warga Muhammadiyah, Muhammadiyah rasa Salafi (Musa) adalah salah satu sasaran dakwah Muhammadiyah. Varian warga muncul karena adanya warga Muhammadiyah yang memiliki perbedaan paham agama dan paham gerakan yang berbeda dengan Muhammadiyah, tapi berada dalam tubuh Muhammadiyah, entah itu di masjidnya, amal usahanya, atau barisan jamaahnya. Dimana masalah muncul ketika kawan-kawan salafi dinilai mulai menggoyang sendi-sendi organisasi, mengajak tidak loyal kepada putusan-putusan organisasi[4], masjid-masjid diklaim secara sepihak, dsb.

Salafi yang dimaksud pada tulisan ini bukan salafi revivalis seperti yang pernah di gambarkan Muhammad Hilali Basya dalam membahas Muhammadiyah dan Salafisme.[5] Yang dimaksud kali ini adalah gerakan dakwah salafi yang berbasis keilmuan.

Dalam sebuah wawancara, Prof Amin Abdullah mengamini kesamaan Muhammadiyah dan salafi dalam aspek purifikasi.[6] Keduanya sama-sama bergerak dalam usaha pemurnian pada praktek keagamaan, memerangi takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC). Keduanya memiliki semangat ar-rujūʿ ila-l-Qurʿān wa-s-sunnah, kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Tetapi dalam menggali kandungan qur’an dan sunnah ada perbedaan dengan keilmuan ala gerakan salafi. Muhammadiyah memiliki pendekatan bayānī (tekstual-empirikal), burhānī (kontekstual-rasional), dan irfānī (spiritual-intuitif). Yang mana ketiga pendekatan itu tidak digunakan terpisah, melainkan dikaitkan satu sama lain.

Dalam memaknai tajdid sebagai pembaharuan dalam sarana dakwah atau dinamisasi dan modernisasi, Muhammadiyah lebih tampil di depan dalam pelaksanaan dakwah dan ibadah sosial.[7] Perbedaan lain dalam epistemologi, worldview, sikap dan perilaku antara Muhammadiyah dan Salafi juga telah dipaparkan oleh Dr Agung Danarto[8]. Khusus untuk masalah fikih, dua jilid buku telah dibahas oleh Dr Ali Trigiyatno dalam Titik Pisah Fikih Salafi-Muhammadiyah. Salah satu edisi majalah Suara Muhammadiyah juga pernah menegaskan diri ‘Bukan Pengikut Wahabi,[9] sebutan yang lebih awal untuk salafi.

Mubaligh Muhammadiyah

Untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang produktif di zaman ini dan solutif terhadap permasalahan sosial, pendekatan burhānī cenderung lebih memiliki peran di Muhammadiyah. Pemaknaan ‘mubaligh’ di Muhammadiyah pun meluas hingga mencakup para ahli secara burhani. Mubaligh-mubaligh di Muhammadiyah bisa saja ahli di bidang sains, kesehatan, ilmu sosial, dsb. Tetapi di akar rumput, kebutuhan dasar dakwah tetaplah mubaligh yang mumpuni secara bayānī. Mereka yang mungkin tidak terlalu ahli secara burhānī, tapi bisa membacakan ayat-ayat al-Quran dan kandungannya dengan baik kepada warga, senantiasa bisa memakmurkan masjid dan menjadi teladan dalam lima waktu.

Di saat yang sama kemunculan ustadz-ustadz salafi di masjid-masjid Muhammadiyah menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi mereka mampu tampil ke depan, lalu dipandang lebih otoritatif dalam menyampaikan agama karena kompetensi yang dimiliki atau ahli secara bayānī, mengisi kekosongan yang ada. Di sisi lain mereka memiliki semangat purifikasi yang kuat, namun cenderung abai terhadap semangat dinamisasi. Keadaan ini mirip dengan sikap Muhammadiyah pada masa-masa pasca pembentukan majelis tarjih yang inwardly, fokus melihat dan memperbaiki ke dalam saja.[10]

Membaca Peta Dakwah

Yaqeen Institute memberikan reportase tentang para pimpinan keagamaan Islam di Amerika Utara di tahun 2022. Mereka mengkaji latar belakang mereka dari pekerjaan, ras, usia, tingkat pendidikan, institusi formal dimana mereka mengambil kajian keislaman, hingga afiliasi madzhab fiqh sampai akidah mereka.[11]

Berkaca dengan itu, saat ini kita belum memiliki hasil survei terhhadap mubaligh-mubaligh kita. Berapa yang memiliki latar belakang pendidikan tafaqquh dengan ketarjihan Muhammadiyah? Berapa persen alumni sekolah, pesantren, MBS yang berkiprah di dunia tabligh Muhammadiyah?  Berapa yang melewati proses tafaqquh ala tradisional? Berapa yang ber-tafaqquh dengan latar salafi? Berapa yang pernah studi di timur tengah dengan lingkungan tafaqquh yang lebih variatif? Bagaimana persebarannya? Bagaimana penguasaan putusan, fatwa, manhaj, wawasan tarjih oleh para mubaligh? Seberapa efisien dan efektif proses sosialiasi dan penyampaian itu semua? Jujur saja, kita belum bisa mengukurnya.

Kita juga bisa berkaca pada Indonesia Moslem Report 2019. Dimana dikaji persentase muslim Indonesia yang menunaikan salat lima waktu, intensitas membaca al-qur’an, bentuk ritual dan tradisi keagamaan yang diamalkan, dsb.[12] Di saat yang sama, kita belum bisa mengukur berapa warga kita yang  memahami ketarjihan dengan level ittibā’ dan berapa yang taqlid? Berapa yang mengimplementasikan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dalam keseharian mereka? Kemana mereka merujuk jika mencari tahu hukum sesuatu? Pengajian dan kajian bagaimana yang suka mereka datangi? apakah pengajian Muhammadiyah menjadi pilihan utama mereka dalam belajar agama? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang bisa dilanjutkan.

Baca juga:  Wahai Muslim Beda Harakah, Menikahlah!

Sebagai contoh, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur (PWM Kaltim) telah menginisiasi pemetaan dengan menyusun Sistem Pembinaan Anggota (SPA)[13] dan juga Standar Kompetensi AIK Anggota[14]. Tetapi bagaimana mengukur keberhasilan sistem yang dibangun masih perlu evaluasi dan pengembangan lebih lanjut. Bagaimana kita bisa menentukan dan mengambil langkah strategis bila kita tidak punya analisis terhadap perkembangan dakwah kita? Setidaknya, kita tidak berdakwah tanpa panduan teknis, ataupun bergerak tanpa target pencapaian dakwah yang bisa diukur. Dalam hal ini, tentunya Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah diharapkan dapat bekerja sama dan membentuk divisi khusus dan berperan pro aktif untuk menghadapi isu internal ini.

Beradaptasi dengan kebutuhan zaman

Salah satu strategi dakwah salafi yang dinilai berhasil adalah dakwah digital mereka. Kalau dahulu media dakwah hanya buku, di awal 2000-an mulai dikembangkan situs-situs dakwah, mailing list dakwah, disusul kanal radio dan televisi. Beberapa tahun kemudian konten-konten dakwah salafi sudah mengisi dinding facebook, feed instagram, kanal-kanal Youtube, dst. Perkembangan yang bisa dipandang cepat untuk waktu yang singkat. Dibanding dengan mereka, Muhammad Utama Al Faruqi berpendapat bahwa dakwah digital persyarikatan masih perlu ditingkatkan.[15]

Instruksi pada Tanfidz Muktamar ke-48 sudah mulai menaruh perhatian kepada dakwah digital yang berbunyi, “..diperlukan gerakan budaya literasi antara lain menyediakan content creator ajaran dan nilai-nilai keadaban Islami di dunia digital.”[16] Ini menjadi amunisi untuk kebutuhan medan dakwah zaman ini.

Usaha dakwah digital juga telah dilakukan sebelumnya oleh kader-kader muda Muhammadiyah dalam men-syiar-kan pandangan agama Muhammadiyah. Seperti yang dilakukan Pusat Tarjih Muhammadiyah dalam ikut bermain di media sosial. Digitalisasi produk-produk tarjih, video, dan info grafis pada media sosial dari Pusat Tarjih Muhammadiyah[17] tidak bisa dipandang remeh.

Namun tetap disadari  bahwa pertumbuhan organisasi yang besar, menurut Haedar Nashir terkadang memperpanjang proses birokrasi dan cenderung lamban dalam menjawab masalah-masalah umat.[18] Termasuk persoalan dakwah di lapangan, boleh jadi kita kalah cepat dari gerakan lain yang lebih ramping dalam memberi jawaban kepada umat. Contohnya saja, hasil sidang tarjih untuk suatu fatwa tidak bisa langsung dinikmati khalayak ramai. Perlu beberapa lapis proses sebelum dipublikasikan dan memakan waktu yang tidak sebentar. Wajar saja jika kemudian fatwa-fatwa tarjih tidak selalu menjadi hasil teratas bagi kaum awam pada mesin pencarian internet.

Namun apabila ada individu yang berfatwa atau memberi penafsiran dan mengatasnamakan organisasi, tentunya juga memiliki konsekuensi yang berat. Sebab ada kesan legitimasi pendapat pribadi dengan nama Muhammadiyah. Dalam artikelnya, Niki Alma menyimpulkan hal ini sebagai hal yang tidak tepat.[19] Semisal dakwahnya Ustadz Zulkarnain El Madury dengan Syarah HPT-nya. Padahal model syiar yang organik itu lebih mudah tersebar. Ini juga menjadi tantangan untuk dakwah Muhammadiyah.

Memperhatikan data sensus penduduk[20], mayoritas warga kini bukanlah mereka yang pernah ‘menangi’ atau sezaman dengan Pak AR, atau tidak pernah mengikuti dan mengerti model kajian generasi zaman itu. Kalau tidak diberi tahu sesepuh, penulis tidak akan tahu kalau Pak AR adalah orang yang menyenangkan dan sangat lucu, yang saking lucunya bisa membuat orang tertawa dalam khutbah jum’at-nya. Sebuah kondisi yang jarang ditemukan hari ini. Sepengamatan penulis, hanya segelintir anak muda yang sukarela mengikuti pengajian Muhammadiyah zaman ini. Jauh kalah jumlah jika dibandingkan dengan model kajian yang lain.

Solikh Al Huda pernah merekomendasikan agar Majelis Tabligh merumuskan pola-pola dakwah supaya warga Muhammadiyah tidak mudah terpengaruh dengan gerakan dakwah yang lain.[21] Kurangnya adaptasi dalam metode dakwah memungkinkan lepasnya kader-kader terbaik. Berapa banyak tokoh yang kini terdepan dalam gerakan keislaman lain, ternyata lahir dari rahim orang tua Muhammadiyah. Maka mereka yang lahir di era disrupsi digital, disertai tingkat berpikir kritis yang berbeda, pergeseran perilaku masyarakat dalam tempo yang cepat, memerlukan pendekatan dakwah yang sesuai dengan zaman mereka.

Salafi sebagai potensi dalam taʿāwun

Muhammadiyah sudah sangat baik dalam melakukan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) terhadap perkembangannya. Analisa kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan itu merupakan rumusan kondisi objektif yang dihadapi di usia abad ke-dua.[22] Sayangnya, belum ada analisa semisal yang mengkaji kondisi ruh-nya gerakan Muhammadiyah: ‘pengajian’.

Seandainya kita menggambarkan potensi dakwah yang kita miliki, bagaimana bila para hafidz muda yang menjadi imam di masjid-masjid kita di-install di benak mereka worldview Muhammadiyah. Potensi apa yang kita miliki bila ustadz-ustadz salafi itu dipahamkan tentang pandangan agama dan gerakan dakwah Muhammadiyah. Sebaliknya, bahaya apa yang berpotensi bila mereka tidak paham Muhammadiyah, tidak pernah diajak dialog, disertai abainya kita terhadap pengkaderan mubaligh kita sendiri. Barangkali riak-riak itulah yang dirasakan saat ini.

Kelemahan kita di lapangan ini disadari oleh Prof Syafiq Mughni. Dalam artikel berjudul ‘Varian Muhammadiyah-Salafi, Jangan Biarkan Jadi Benalu’, ia menawarkan solusi:

“Di samping itu, untuk mengatasi itu semua perlu promosi yang sungguh-sungguh agar semakin banyak kader Muhammadiyah yang memasuki ma’had Muhammadiyah dan program tahfidh al-Quran, dan mau mengurus masjid dan mushala. Muhammadiyah perlu mengirim lebih banyak lagi calon mahasiswa untuk belajar di negara-negara yang berbahasa Arab, sehinga ketika pulang sudah siap mengajar Bahasa Arab di ma’had Muhammadiyah-AMCF.

Baca juga:  Ini Tema-tema yang Akan Digodog di Munas Tarjih 2020

Kader-kader Muhammadiyah harus tampil maju ke gelangang mengisi peluang, dan pada saat yang sama membina ideologi bagi mereka yang baru “muallaf.” Kalau tidak, orang lain akan memanfaatkan fasilitas Muhammadiyah untuk memperlemah Muhammadiyah.”[23]

Sikap jihad li-l-muʿāraḍah sudah lama ditinggal, berganti dengan jihad li-l-muwājahah.[24] Sikap dakwah pun mesti masuk dalam konsep jihad ini, dimanifestasikan dalam aksi-aksi nyata nan produktif, bukan reaksi-reaksi yang kontra-produktif. Muhammad Fikri Hidayatullah mengklaim bahwa Muhammadiyah sangat bisa berkerjasama dengan salafi jika ada tasāmuḥ (tolelan) dan tafāhum (saling memahami).[25]

Bukan manhajnya Muhammadiyah untuk menghukumi sesutu tanpa bukti dan argumentasi. Siapa pun bisa menjadi benalu sekaligus berpeluang untuk berkontribusi di Muhammadiyah. Penulis sangat menyetujui jika ‘salafi jangan dibiarkan menjadi benalu’. Tetapi sikap memusuhi dan memutus tali ukhuwwah, tanpa perbaikan internal, dan pengambilan langkah preventif lagi strategis, serta membuka ruang dialog dan peluang taʿāwun sehingga mereka mendengar kalam Muhammadiyah, rasanya bukanlah penyelesaian yang elegan.

Dimana manifestasi Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah (GJDJ) Muhammadiyah yang bersifat inklusif[26], jika sikap yang ditunjukkan adalah ekslusifitas warganya? Padahal Allah berfirman: “Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah.”[27] Kalau kita bisa bergembira dengan adanya varian ‘KrisMuha’ (Kristen Muhammadiyah) dengan harapan mereka merasakan syiar dan mendengar kalam Allah, mengapa kita tidak bisa tenang dengan adanya ‘MuSa’ dengan harapan mereka merasakan dan mendengar kalam Muhammadiyah? Kita resah ada yang salat dengan celana cingkrang, tapi abai dengan yang tidak salat. Kita sibuk mencurigai yang menggunakan cadar, tapi menenggang yang tidak menutup aurat. Kita cemburu masjid kita dimakmurkan orang lain, tapi kita sendiri tidak mengisi masjid kita.

Perbaikan Internal

Tidak boleh malu dan harus berani mengakui ketertinggalan agar bisa kita perbaiki. Mubaligh kita perlu ditingkatkan secara kualilas dan kuantitas. Kita tidak meragukan ke-ulama-an para ayahanda di puncak-puncak pimpinan, Majelis Tarjih, Majelis Tabligh. Tetapi bila ada yang mengatakan Muhammadiyah kekurangan ulama, barangkali yang dimaksud adalah mereka para mubaligh yang dibutuhkan di akar rumput, yang menjadi tempat bertanya secara langsung kala ada persoalan. Sikap apologis, optimisme tanpa rasa waspada, menyerah sebelum mencoba, minderwaardig dengan gerakan keislaman lain, tidak akan banyak membantu untuk memperbaiki keadaan.

Sebagaimana kita ingin memiliki profesional dalam mengelola guru-guru yang bisa fulltime di sekolah-sekolah kita, tentunya kita juga bisa lebih profesional dalam mengelola masjid-masjid kita. Di dunia olahraga, klub-klub NBA melakukan talent scouting hingga lapangan basket jalanan di Eropa. Di dunia hiburan, agensi-agensi Korea menyelenggarakan audisi sampai ke Indonesia demi memperluas pasar mereka. Seserius itu mereka. Adapun kita, berharap mubaligh yang handal dan kompeten itu tiba-tiba muncul, tapi tidak kita kader dengan program yang terencana dari ideal design seorang mubaligh Muhammadiyah.

Tidak salah bila kita bermimpi masjid-masjid kita level up seperti masjid Jogokariyan yang didirikan PRM Karangkajen dalam kebermanfaatan dan kualitas manusia-manusianya. Tidaklah salah bila kita menginginkan masjid-masjid kita diisi mubaligh-mubaligh setingkat ustadz Adi Hidayat dalam penguasaan al-quran dan hadits, atau ustadz Mujiman dalam ketarjihan. Kita perlu seribu seperti mereka. Kita butuh pasukan untuk memakmurkan masjid-masjid kita. Apa artinya kemajuan ibadah sosial kita bila masjid-masjid kita mengalami kemunduran.

Haruskah kita tetap merasa everthing’s gonna be okay di saat satu masjid Muhammadiyah di Sikabaluan Mentawai hanya diisi satu orang saat salat maghrib? Haruskah kita tetap santai saat masjid Muhammadiyah di tepian sungai Mahakam di Muara Muntai tidak memiliki guru yang bisa menetap mengajar mengaji? Haruskah kita diam saja ketika masjid Muhammadiyah Center PDM Kutai Barat harus menunggu mubaligh dari Samarinda untuk bisa mengadakan tabligh? Masjid-masjid di Jakarta yang sudah tidak lagi dibina persyarikatan. Persoalan ini semoga keluar dari blind spot kita.

Perbaikan masjid-masjid dan dakwah tabligh Muhammadiyah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR), LDK (Lembaga Dakwah Khusus), Majelis Pembinaan Kader, Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) dan Majelis Tabligh saja. Perlu semangat, kemauan, dan dukungan kolektif dari semua level. Butuh tenaga, dana, waktu yang tidak sedikit. Sebuah misi yang besar namun bukan mission yang impossible, demi sustainabilty (keberlangsungan) dari dakwah kita. Wa-Llāhu aʿlam bi-ṣ-ṣawāb.

 

Referensi:

Agus Sukaca, Et al, Standar Kompetensi AIK Anggota Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kalimantan Timur: PW Muhammadiyah Kaltim, 2023).

Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Jawa (Ciputat: Al-Wasat Publishing House, 2010).

Ahmad Syarif Syechbubakr, ‘Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah struggle with internal divisions in the post-Soeharto era’, 28 Mei 2018. https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/nahdlatul-ulama-and-muhammadiyah-struggle-with-internal-divisions-in-the-post-soeharto-era/

Baca juga:  Mengobati Luka Umat Akibat Lockdown Masjid

Amin Abdullah, ‘Semangat Puritanisme Perlu Bersinergi dengan Keilmuan Kontemporer’, Suara Muhammadiyah (15 Januari 2012).

Hadjid, Pelajaran KHA. Dahlan: 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2018).

Haedar Nashir, Memahamai Manhaj Gerakan Muhammadiyah dalam “Pengantar” Manhaj Gerakan Muhammadiyah: Ideologi, Khittah dan Langkah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), xlii.

Hasanuddin Ali, Et al, Indonesia Moslem Report 2019: The Challenges of Indonesia Moderate Moslems (Jakarta: Alvara Research Center, 2019).

Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Daerah Perkotaan/Perdesaan, dan Jenis Kelamin, INDONESIA, 2022. https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2022/142/1/0

Muhammad Fikri Hidayatullah, ‘Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru’, pwmjateng.com (2024). https://pwmjateng.com/muhammadiyah-dan-salafi-mengurai-titik-temu-dan-titik-seteru/#_ftn8

Muhammad Hilali Basya, Muhammadiyah Scholars and Democratic Transition: Respons on Radical Islam Movement Post-New Order Indonesia (Saarbrücken: VDM Verlag Dr Müller GmbH & Co. KG, 2011).

Muhammad Utama Al Faruqi, ‘Membedah Rahasia Strategi Dakwah Kelompok Salafi’, 10 Mei 2024. Membedah Rahasia Strategi Dakwah Kelompok Salafi, https://suaramuhammadiyah.id/read/membedah-rahasia-strategi-dakwah-kelompok-salafi’

Muhammadiyah.or.id, ‘Apa Saja Titik Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi?’, 2023. https://muhammadiyah.or.id/2023/03/apa-saja-titik-perbedaan-muhammadiyah-dan-salafi/

Muhammed AboTaleb, Et al, The Personal and Professional Lives of Muslim Religious Leaders in North America (Yaqeen Institute for Islamic Research, 2024).

Niki Alma Febriana Fauzi, ‘Zulkarnain EL Madury and the microcelebrity ustaz phenomenon’, Indonesia and the Malay World (13 Februari 2024), 51:151, 304-329, DOI: 10.1080/13639811.2023.2274708

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar Ke-48 Muhammadiyah Tahun 2022 (Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Yogyakarta, 2022).

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Yogyakarta, 2010).

Solikh Al Huda, ‘Muhammadiyah Rasa Salafi’, 9 Oktober 2020. https://pwmu.co/164529/10/09/muhammadiyah-rasa-salafi/

Suara Muhammadiyah, 15 Januari 2012.

Sukidi Mulyadi, ‘Muhammadiyah Liberal Dan Anti-Liberal’, Tempo, 17 July 2005.

Syafiq Mughni, ‘Varian Muhammadiyah-Salafi, Jangan Biarkan Jadi Benalu’, 21 Juni 2021. https://pwmu.co/196572/06/21/varian-muhammadiyah-salafi-jangan-biarkan-jadi-benalu/

Syamsul Anwar, Manhaj Tarjih Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018).

Tim Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2015, Sistem Pembinaan Anggota Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kalimantan Timur: PW Muhammadiyah Kaltim, 2016).

Footnote

[1] Hadjid, Pelajaran KHA. Dahlan: 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta: Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2018), 125.

[2] Ahmad Syarif Syechbubakr, ‘Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah struggle with internal divisions in the post-Soeharto era’, 28 Mei 2018. https://indonesiaatmelbourne.unimelb.edu.au/nahdlatul-ulama-and-muhammadiyah-struggle-with-internal-divisions-in-the-post-soeharto-era/

[3] Sukidi Mulyadi, ‘Muhammadiyah Liberal Dan Anti-Liberal’, Tempo, 17 July 2005.

[4] Syafiq Mughni, ‘Varian Muhammadiyah-Salafi, Jangan Biarkan Jadi Benalu’, 21 Juni 2021. https://pwmu.co/196572/06/21/varian-muhammadiyah-salafi-jangan-biarkan-jadi-benalu/

[5] Muhammad Hilali Basya, Muhammadiyah Scholars and Democratic Transition: Respons on Radical Islam Movement Post-New Order Indonesia (Saarbrücken: VDM Verlag Dr Müller GmbH & Co. KG, 2011).

[6] Amin Abdullah, ‘Semangat Puritanisme Perlu Bersinergi dengan Keilmuan Kontemporer’, Suara Muhammadiyah (15 Januari 2012).

[7] Syamsul Anwar, Manhaj Tarjih Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2018), 15-16.

[8] Muhammadiyah.or.id, ‘Apa Saja Titik Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi?’, 2023. https://muhammadiyah.or.id/2023/03/apa-saja-titik-perbedaan-muhammadiyah-dan-salafi/

[9] ‘Bukan Pengikut Wahabiy’, Suara Muhammadiyah, 15 Januari 2012.

[10] Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah Jawa (Ciputat: Al-Wasat Publishing House, 2010), 139.

[11] Muhammed AboTaleb, Et al, The Personal and Professional Lives of Muslim Religious Leaders in North America (Yaqeen Institute for Islamic Research, 2024).

[12] Hasanuddin Ali, Et al, Indonesia Moslem Report 2019: The Challenges of Indonesia Moderate Moslems (Jakarta: Alvara Research Center, 2019).

[13] Tim Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2015, Sistem Pembinaan Anggota Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kalimantan Timur: PW Muhammadiyah Kaltim, 2016).

[14] Agus Sukaca, Et al, Standar Kompetensi AIK Anggota Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kalimantan Timur: PW Muhammadiyah Kaltim, 2023).

[15] Muhammad Utama Al Faruqi, ‘Membedah Rahasia Strategi Dakwah Kelompok Salafi’, 10 Mei 2024. Membedah Rahasia Strategi Dakwah Kelompok Salafi, https://suaramuhammadiyah.id/read/membedah-rahasia-strategi-dakwah-kelompok-salafi’

[16] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar Ke-48 Muhammadiyah Tahun 2022 (Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Yogyakarta, 2022), 98.

[17] Niki Alma Febriana Fauzi, ‘Zulkarnain EL Madury and the microcelebrity ustaz phenomenon’, Indonesia and the Malay World (13 Februari 2024), 51:151, 304-329, DOI: 10.1080/13639811.2023.2274708

[18] Haedar Nashir, Mamahami Ideologi Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), 7.

[19] Niki Alma Febriana Fauzi, ‘Zulkarnain EL Madury and the microcelebrity ustaz phenomenon’, Indonesia and the Malay World (13 Februari 2024), 51:151, 304-329, DOI: 10.1080/13639811.2023.2274708

[20] Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Daerah Perkotaan/Perdesaan, dan Jenis Kelamin, INDONESIA, 2022. https://sensus.bps.go.id/topik/tabular/sp2022/142/1/0

[21] Solikh Al Huda, ‘Muhammadiyah Rasa Salafi’, 9 Oktober 2020. https://pwmu.co/164529/10/09/muhammadiyah-rasa-salafi/

[22] Haedar Nashir, Memahami Ideologi Muhammadiyah, 5.

[23] Syafiq Mughni, ‘Varian Muhammadiyah-Salafi, Jangan Biarkan Jadi Benalu’, 21 Juni 2021.

[24] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Yogyakarta, 2010), 31.

[25] Muhammad Fikri Hidayatullah, ‘Muhammadiyah dan Salafi: Mengurai Titik Temu dan Titik Seteru’, pwmjateng.com (2024). https://pwmjateng.com/muhammadiyah-dan-salafi-mengurai-titik-temu-dan-titik-seteru/#_ftn8

[26] Haedar Nashir, Memahamai Manhaj Gerakan Muhammadiyah dalam “Pengantar” Manhaj Gerakan Muhammadiyah: Ideologi, Khittah dan Langkah (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2017), xlii.

[27] Q.S. At-Tawbah: 6.

Avatar photo

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: [email protected]

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar