Santri Cendekia
Home » Mungkinkah Putusan dan Fatwa Tarjih Bertentangan?

Mungkinkah Putusan dan Fatwa Tarjih Bertentangan?

Satu-satunya pemegang otoritas yang resmi dalam menjelaskan paham Tarjih Muhammadiyah hanyalah Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Maka selain dari itu, menurut kepala Pusat Tarjih, ustadz Budi Jaya Putra, S.Th.I., M.H., akan dianggap pendapat pribadi atau kelompok semata.¹

Meski Muhammadiyah sudah sejak lama menerbitkan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) sebagai pedoman umum bagi seluruh warga Muhammadiyah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah merasa perlu untuk memberikan “penjelasan tambahan” ² dari keterangan HPT yang sangat ringkas dan terbatas. Keperluan akan penjelasan tambahan ini semakin diperkuat oleh banyaknya pertanyaan warga persyarikatan kepada MTT, terutama terkait hal-hal yang masih sehubungan dengan pembahasan yang ada dalam HPT.

Oleh sebab itu, dalam mewujudkan upaya tersebut Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan buku-buku “Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama (FFT: TJA)” dari mulai jilid 1, jilid 2, jilid 3, bahkan sampai jilid 8 ditambah lagi dengan fatwa-fatwa tarjih lainnya yang termuat dalam Website FatwaTarjih.or.id dan Website SuaraMuhammadiyah.id.

FUNGSI FATWA MAJELIS TARJIH TERHADAP HIMPUNAN PUTUSAN TARJIH

Fungsi fatwa Majelis Tarjih terhadap Himpunan Putusan Tarjih, secara singkat saya klasifikasikan menjadi 3 macam:

(1) Sebagai bayan tafsir, yaitu fatwa Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah “menjelaskan” isi Himpunan Putusan Tarjih agar lebih jelas maksudnya. Untuk fungsi pertama ini dapat dilihat melalui tiga contoh berikut :

Pertama, di dalam buku HPT, pada kitab jenazah, halaman 230, Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat berkata dalam putusannya :

وكفنوا الميـت كفنـا حسـنا فـي ثيـاب بـيض ساترة لجميـع بدنه وإذا أجمرتموه فأجمروه ثلاثا

“Kafan (bungkus)lah mayat itu dengan baik-baik dalam kain putih yang menutup seluruh tubuhnya. Dan bila kami hendak mengukupnya, maka ukuplah ia tiga kali,” [Lihat Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Halaman 230].

Putusan ini kemudian ditafsirkan (diperjelas) lagi oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Fatwa-Fatwa Tarjih : Tanya Jawab Agama, jilid 5, halaman 155. Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat berkata dalam fatwanya :

“Mengukup berasal dari kata kukup, artinya antara lain: wangi wangian, atau wangi-wangian yang dibakar untuk mengasapi pakaian supaya harum baunya. Mengukup artinya antara lain mengasapi pakaian supaya harum baunya, dengan wangi-wangian. Dengan demikian mengukup kafan mayat, maksudnya mengasapi kain kafan dengan wangi-wangian atau kain kafan mayat diberi wangi-wangian seperti dengan minyak kayu cendana, minyak wangi, kapur barus dan lain-lain.” [Lihat Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama, Jilid 5, Halaman 155].

Kedua, di dalam buku HPT, pada kitab beberapa masalah, halaman 293, Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat berkata dalam putusannya :

إذا أثبت الحاسب عدم وجود الهلال أو وجوده مع عدم إمكان الرؤية ورأى المرء إياه في الليلة نفسها، فايهما المعتبر؟ قرر مجلس الترجيح أن المعتبر هـو الرؤية

“Apabila Ahli Hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak (tanggal) atau sudah wujud tetapi tidak kelihatan, padahal kenyataannya ada orang yang melihat pada malam itu juga; manakah yang mu’tabar? Majelis Tarjih memutuskan bahwa ru’yahlah yang mu’tabar.” [Lihat Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Halaman 293].

Baca juga:  (DOWNLOAD GRATIS) Fatwa-Fatwa Seputar Qurban dan Haji

Putusan ini kemudian ditafsirkan (diperjelas) lagi oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Fatwa-Fatwa Tarjih : Tanya Jawab Agama, jilid 3, halaman 130. Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkata dalam fatwanya :

“Untuk lebih jelasnya kami kutipkan kembali pernyataan tersebut. “Apabila Ahli Hisab menetapkan bahwa bulan belum tampak (tanggal) atau sudah and tetapi tidak kelihatan padahal kenyataannya ada orang yang melihat pada malam itu juga: manakah yang mu’tabar? Majelis Tarjih memutuskan bahwa ru’yahlah yang mu’tabar”. Pernyataan ini menegaskan bahwa apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan sudah wujud di atas ufuk dengan ketinggian tertentu, tetapi menurut hisab wujud bulan di atas ufuk dengan ketinggian tertentu itu tidak mungkin dapat dilihat (tidak mungkin ru’yah), namun kemudian kenyataannya ada orang yang dapat melihat bulan (berhasil ru’yah) pada malam itu juga, maka ru’yah yang demikian itulah yang mu’tabar. Sebaliknya, apabila ahli hisab menetapkan bahwa bulan belum wujud, atau positif berada di bawah ufuk, lalu ada orang yang mengatakan dapat melihat bulan (berhasil ru’yah), maka ru’yah itu bukanlah ru’yah yang mu’tabar. Jadi jelaslah bahwa ru’yah yang dianggap mu’tabar itu adalah bila bulan menurut perhitungan hisab telah wujud, yakni positif di atas ufuk dengan tidak ditentukan berapa derajat positifnya itu.” [Lihat Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama, Jilid 3, Halaman 130].

Ketiga, Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkata dalam putusannya :

ولاَ يُشْبِهُهُ شَيئٌ مِنَ الكَائِنَاتِ

“Dan Tiada sesuatu yang menyamai-Nya.” [Lihat Himpuan Putusan Tarjih, Jilid 1, Halaman 14 ].

Putusan ini kemudian ditafsirkan (diperjelas) lagi oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam fatwa Majelis Tarjih, yakni dalam artikel bertajuk “Maksud Al-Ka’inat Dan Al-Ikhtiar Dalam HPT” yang dapat diakses melalui website FatwaTarjih.or.id. Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkata dalam fatwanya :

“makna al-ka’inat, yang terdapat dalam HPT halaman 14. Kata al-ka’inat adalah bentuk jamak dari kata al-ka’inah, yang berarti segala yang ada atau semua makhluk Allah SWT. Maka yang dimaksudkan dengan pernyataan: لاَ يُشْبِهُهُ شَيْئٌ مِنَ الْكَائِنَاتِ , ialah: tiada suatu pun dari makhluk Allah yang menyamai Allah. Jika dikatakan bahwa Allah mempunyai tangan, maka tangan Allah berbeda dengan tangan manusia atau makhluk lainnya. Jika dia mempunyai wajah, maka wajah Allah berbeda dengan wajah manusia atau makhluk lainnya, dan seterusnya” [Lihat https://fatwatarjih.or.id/maksud-al-kainat-dan-al-ikhtiar-dalam-hpt-muhammadiyah/ ].

Baca juga:  Tsarid Idaman Nabi

(2) Sebagai bayan taukid, yaitu fatwa Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah “menegaskan ulang” isi Himpunan Putusan Tarjih. Untuk fungsi kedua ini dapat dilihat dalam contoh berikut :

Dalam buku HPT, Kitab Thaharah, halaman 49. Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkata dalam fatwanya, menerangkan di antara hal-hal yang perlu dilakukan agar wudhu’ tidak batal, salah satunya:

ولم تلامس المرأة

“Dan selama kamu tidak menyentuh wanita (setubuh)” [Lihat Himpunan Putusan Tarjih, Jilid 1, Halaman 49].

Putusan ini kemudian dipertegas kembali oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam buku Fatwa-Fatwa Tarjih : Tanya Jawab Agama, Jilid 5, Halaman 2. Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkata dalam fatwanya, “Dalam memahami firman Allah surat al-Maidah ayat 6 yang berbunyi:

{اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ}

“atau menyentuh perempuan” [QS: Al-Maidah: 6].

Di kalangan para sahabat terdapat perbedaan pendapat. Pendapat pertama, antara lain pendapatnya ‘Ali dan Ibn ‘Abbas yang mengartikan firman di atas dengan setubuh. Pendapat kedua, antara lain pendapatnya ‘Umar ibn al-Khattab dan Ibn Mas’ud, yang mengartikan dengan persentuhan kulit laki-laki dan perempuan. Perbedaan pemahaman ini mengakibatkan perbedaan pendapat tentang batal atau tidaknya wudhu karena persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Menurut pendapat yang pertama, persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini juga dipegangi oleh ulama Hanafiyah. Menurut pendapat yang kedua, persentuhan antara kulit laki-laki dan kulit wanita membatalkan wudhu. Pendapat ini dipegangi oleh ulama Syafi’iyah dan ulama Hanbaliyah. Sedangkan menurut ulama Malikiyah, persentuhan kulit antara laki-laki dan kulit wanita membatalkan wudhu apabila menimbulkan syahwat.

Muhammadiyah mentarjih pendapat yang pertama, bahwa persentuhan kulit antara laki-laki dan kulit wanita tidak membatalkan wudhu”. [Lihat Fatwa-Fatwa Tarjih: Tanya Jawab Agama, Jilid 5, Halaman 2 Sampai Halaman 3].

(3) Menetapkan hukum-hukum keagamaan yang tidak ditetapkan di dalam HPT, di mana Fatwa Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan perkara keagamaan yang sebelumnya tidak dibahas di dalam HPT.

Contoh fungsi ketiga ini sangatlah banyak, diantaranya, masalah kepercayaan akan kedatangan Dajjal (Lihat FFT:TJA, jilid 7, halaman 170 sampai halaman 172), perincian tentang masalah warisan (lihat fft:tja, jilid 8, halaman 91 sampai 109), penolakan terhadap aqidah wahdatul wujud (lihat fft:tja, jilid 2, halaman 14 sampai halaman 16), masalah jabat tangan selesai shalat (lihat fft:tja, jilid 4, halaman 71 sampai halaman 73), dan lain-lain yang sangat banyak untuk disebutkan.

Baca juga:  Download Aplikasi Kamus Bahasa Arab

Melalui tiga upaya yang dilakukan oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah terhadap Himpunan Putusan Tarjih tersebut, maka dapat disimpulkan dengan jelas dan tegas bahwa:

(1) Fatwa-fatwa Tarjih merupakan syarah yang resmi terhadap Himpunan Putusan Tarjih, yang dikeluarkan langsung oleh Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah; (2) Fatwa tarjih menjelaskan, menegaskan kembali, dan menambahkan penjelasan terhadap penjelasan-penjelasan singkat yang ada dalam Himpunan Putusan Tarjih; (3) Nyaris mustahil dan sangat kecil kemungkinan fatwa yang dikeluarkan Majelis Tarjih bertentangan dengan Himpunan Putusan Tarjih.

Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah pemegang otoritas tarjih dan yang paling paham serta paling mengerti tentang isi Himpunan Putusan Tarjih, maka anggapan-anggapan ataupun narasi yang mengatakan bahwa fatwa Tarjih bertentangan dengan Himpunan Putusan Tarjih hanyalah upaya untuk menjatuhkan atau menciderai otoritas (Deligitimasi) fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Majlis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Jika putusan Tarjih itu kedudukannya jauh lebih tinggi daripada fatwa Tarjih, Itu memang benar, dan tentu saja demikian, namun mengambil kesimpulan bahwa ada putusan Tarjih dan fatwa Tarjih yang bertentangan, itu kesimpulan “sangat sulit”, apalagi untuk mengatakan  “jika saling bertentangan, maka fatwa harus ditolak”.

Kalaupun dianggap adanya pertentangan antara putusan Tarjih Dan fatwa Tarjih, pertanyaannya bertentangan menurut siapa? Benarkah bertentangan? Ataukah justru hanya sekedar asumsi belaka (yang ternyata keliru)?

Toh jikalau pun ternyata benar ada putusan Tarjih yang bertentangan dengan putusan Tarjih yang lain, atau ada putusan Tarjih yang bertentangan dengan fatwa Tarjih yang lain, maka mekanisme penyelesaiannya adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada Majelis Tarjih agar dijawab, atau diupayakan dibahas dari halaqah Tarjih hingga sampai ke Munas Tarjih.

Kebutuhan kepada syarah HPT tidak perlu mengambil buku lain selain buku-buku Tarjih, cukuplah dengan FFT:TJA dan fatwa-fatwa lain di SuaraMuhammadiyah.id serta FatwaTarjih.or.id sebagai syarah resmi terhadap HPT. Hal ini sejalan dengan pernyatan ustadz Budi Jaya Putra sebagai kepala Pusat Tarjih.

Kemudian kalau ada pertanyaan tentang maksud HPT yang tidak jelas, silahkan tanya saja kepada Majelis Tarjih Dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bukan sebagai individu, melainkan dijawab sesuai dengan mekanisme yang ada sebagaimana mekanisme dikeluarkannya fatwa-fatwa yang sudah diterbitkan menjadi 8 jilid buku FFT:TJA tersebut.

Demikianlah adanya, wallahu a’lam.

_____________

  1. Penyataan tersebut adalah jawaban langsung ustadz Budi Jaya Putra kepada saya via WhatsApp
  2. Lihat Sambutan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam TJA  jilid 1

Rolan Al Fatih

Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhamamdiyah PP Muhamamdiyah

1 komentar

Tinggalkan komentar