Santri Cendekia

Isyarat al-Qur’an Tentang Nasib Da’i; Dicekal, Dibunuh, atau Diusir

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka melakukan makar dan Allah juga membuat makar. Allah sebaik-baik pembuat makar. (AlAnfal : 30)

 

            Menurut Ibnu Abbas di dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir, ayat ini turun berkenaan dengan konsolidasi para dedengkot kafir Quraisy di Dar An-Nadwah menjelang hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mendiskusikan beberapa opsi agar keesokan harinya mengikat Rasulullah dengan tali dan menahannya, atau mengusir Rasulullah dari makkah, atau bahkan membunuh Rasulullah. Opsi terakhir ini yang akhirnya menjadi kesepakatan para dedengkot kafir Quraisy yang dipelopori oleh Abu Jahal. Namun Allah berkehandak menyelamatkan Rasul-Nya dan akhirnya Rasululah bisa hijrah dengan selamat dengan ditemani oleh Abu Bakar Ash-shiddiq ra.

            Adapun berkenaan dengan firman Allah, Mereka melakukan makar dan Allah juga membuat makar. Allah sebaik-baik pembuat makar”. Urwah bin Zubair dalam penjelasannya yang masih ada di dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir, maksudnya adalah, “Aku terapkan makar-Ku kepada mereka dengan tipu daya yang kokoh, sehingga aku menyelamatkan dirimu dari mereka.”

            “Al-‘ibroh bi umumil lafdzi, laa bi khususil sabab” (hikmah bersama dengan keumuman lafadz, bukan dengan kekhususan sebab). Meskipun menurut penjelasan Ibnu Abbas ayat ini turun berkenaan dengan konspirasi dedengkot kafir Quraisy untuk menghabisi nyawa Rasulullah sebelum hijrah. Namun hikmah dan sunnah yang berlaku pada ayat ini berlaku umum untuk seluruh muslimin dan mukminin.

           Dengan ayat ini Allah hendak memberikan isyarat dan peringatan-Nya kepaa kita. Bahwa 3 gangguan tertinggi yang sangat mungkin menimpa para da’i dan mereka yang berjuang di jalan Allah adalah berupa penangkapan (dipenjara, diikat, disekap, dipersekusi), pembunuhan (termasuk pula penyiksaan di dalamnya), dan juga pengusiran (diusir atau diasingkan). Bukankah 3 hal ini memang sering terjadi pula kepada para orang-orang besar islam di dalam sejarah??

  1. Penangkapan (Pencekalan)
Baca juga:  Memahami Relasi Agama dan Sains melalui Kisah Penyerbukan Kurma

Iyash bin Abi Rabi’ah ra, kawan karib Umar bin Khattab di tangkap dan dipenjara oleh Abu Jahal sepupunya. Abu jandal bin Suhail radhiyallahu ‘anhuma di sekap oleh ayahnya ketika ingin hijrah (saat itu Suhail bin ‘Amr masih kafir). Dari golongan tabi’ut tabi’in kita dapat Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dipenjara sekaligus disiksa oleh rezim mu’tazilah di bawah kepemimpinan Al-Ma’mun. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pun merasakan kerasnya penyiksaan di dalam penjara. Ibnu Taimiyah pun meninggal di dalam penjara benteng damaskus. Para Kiyai, termasuk Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pernah dipenjara karena menolak melakukan seikerei, menunduk ke arah matahari terbit. H. Fachrudin, murid KH. Ahmad Dahlan pernah dipenjara pula oleh rezim kolonialis belanda karena tulisannya yang begitu keras menyerang kebijakan-kebijakan zalim Belanda. Buya Hamka di penjara oleh Rezim orde baru. Para anggota ikhwanul muslimin pun masih mendekam di penjara di bawah kezaliman rezim As-sisi dan banyak kisah lainnya.

2. Pembunuhan

Nabi Yahya as, dipenggal kepalanya oleh rezim yang berkuasa di saat itu. Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir, menjadi syahidah pertama setelah dibunuh oleh Abu Jahal. 70 orang sahabat Qurro’ dijebak dan terbunuh pada peristiwa bi’r ma’unah. Sa’id bin Jubair dipenggal oleh Hajjaj bin Yusuf Ats-tsaqafi, pemimpin zalim dan sadis dari Dinasti Umayyah. Sayyid Quthub dan Hasan Al-Banna syahid terbunuh oleh tiang gantung dan timah panas. Syekh Ahmad Yasin dan Dr. Abdullah Azzam, pejuang hamas yang tewas di rudal oleh Israel zionis la’natullah ‘alaih. Para Ulama dan santri banjir darah di peristiwa pemberontakan PKI di madiun tahun 1948.

3. Pengusiran

Para muslimin di makkah harus berhijrah hingga 3 kali (2 kali ke habasyah dan 1 kali ke madinah) demi mendapatkan keselamatan dan kenyamanan untuk berislam. Panglima Dipenogor diasingkan ke Manado hingga akhir hayatnya setelah perlawanannya berhasil dipatahkan oleh Belanda, Tuanku Imam Bonjol pun diasingkan ke Cianjur, Ambon dan Minahasa, dan Para tokoh pejuang indonesa beberapa kali harus mendapatkan pengasingan dari belanda karena perjuangan dianggap mengancam kepentingan Belanda.

Baca juga:  "Aisyah", Musik, dan Hijrah Casing

            Lalu Allah tutup ayat ini dengan, “Mereka melakukan makar dan Allah juga membuat makar. Allah sebaik-baik pembuat makar”. Bukankah “terusir”nya muhajirin ke madinah justru menciptakan sebuah bibit peradaban besar yang kelak akan membebaskan makkah dan seluruh dunia dari kegelapan dan kebodohan? Bukankah Tafsir Al-Azhar milik Buya Hamka yang terkenal itu tercipta di dalam penjara? Bukankah syahidnya Sayyid Quthub di tiang gantungan membuat buku-buku tulisannya masih dicari dan dinikmati hingga kini? Tak terlupa tafisr “Fii Zhilalil Qur’an”nya yang fenomenal pun tercipta di penjara. Bukankah semangat dan jiwa Syaikh Ahmad Yassin masih kuat bersemayam pada perlawanan Hamas terhadap zionis la’natullah ‘alaih? Bukankah terbunuhnya Said bin Jubair menjadi akhir sepak terjang dari Hajjaj yang kejam dan durjana itu? Maka sesungguhnya Allah tak hanya menghancurkan makar-makar mereka, bahkan membalikan makar-makar itu sehingga membinasakan mereka semua. ‘Rencana’ Allah adalah rencana yang tak akan pernah gagal, karena Allah adalah Al-Aziz dan Al-Jabbar.

            Maka ada dua pelajaran penting bagi kita dalam ayat ini.

Pelajaran pertama, Ketika kita sudah bertekad bulat untuk menerjunkan diri berjihad fii sabilillah, maka di tingkat yang paling tinggi kita harus siap dengan tiga hal yang akan menanti kita, entah kita akan berusaha untuk ditangkap dan dipenjara, dibunuh dan disakiti secara fisik, atau mungkin diusir dan diasingkan. Karena hal ini sudah menjadi sunnatullah sepanjang masa.

Pelajaran kedua, tawakkal ‘alallah. Karena jika memang Allah Ridha terhadap perjuangan kita. Entah apapun yang akan terjadi kepada diri kita. Allah pasti akan memenangkan kita, atau Allah akan memenangkan dakwah dan perjuangan yang kita lakukan, entah kapan waktunya terserah kepada-Nya. Allah juga yang akan menghancurkan musuh-musuh dakwah, entah itu di dunia atau di akhirat. Karena kemenangan hakiki seorang mukmin adalah ketika, “faman zuhziha aninnari wa udhilal jannati faqod faaz! (Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah menang!)” Ali Imran 185.

Baca juga:  Datangkan Cahaya, agar Kegelapan Lenyap (Al-Israa 81)

 

Allahu a’lam bishshawab

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: