Santri Cendekia

Nilai al-Qur’an dan Logika Media Sosial

Banyak yang mengira bahwa link yang mereka klik, komentar yang mereka tulis, atau foto serta video yang mereka unggah di dunia digital tidak berimplikasi apa-apa di dunia nyata. Itulah masalah utamanya. Jika masih berpikir demikian, maka kita masih akan beringkah kurang waspada ketika sedang berada dalam jaringan (online). Padahal bagaikan pisau bermata dua, dunia maya menawarkan berbagai solusi menjanjikan, tapi juga menyimpan potensi konsekuensi berbahaya yang sangat nyata. Bukan hanya di level individu, tapi bahkan di level negara dan peradaban.

Dunia Maya yang Sangat Nyata

Para ahli komunikas sosial menyatakan bahwa perubahan yang dibawa oleh dunya maya, terutama media sosial telah mengubah pola komunikasi kita. Komunikasi tatap muka menjadi pelan-pelan kehilangan perannya. Bahkan ketika ada komunikasi yang tampak seperti tatap muka, pada hakikatnya ia adalah komunikasi yang ter-filter. Jadi tetap saja di situ ada semacam hijab yang menghalangi antara pihak yang berkomunikasi. Hasil paling buruknya adalah keadaan anonom ini membuat banyak orang menjadi mudam menyebarkan berita palsu. Maka era inforamsi ini, justru menjadi era disinformasi, era misinformasi dan era berita menyesatkan. Penelitian telah menunjukan bahwa hoax, bisa berakibat nyata, banyak sudah orang yang menjadi korbannya (Lee, 2014).  Di masa pandemi ini, dampak tersebut menjadi semakin terlihat. Banyak yang enggan divaksin, tidak taat prokes, semua karena terpengaruh berita dan narasi sesat di dunia maya.

Di level psikologis, banyak orang yang mencari hiburan di dunia maya, mencoba mengobati lara. Tapi sebenarnya, sudah banyak penelitain yang menunjukan bahwa penggunaan media sosial justru berpotensi meningkatkan depresi. Semakin lama di medsos, semakin tinggi kemungkinan depresi itu (Brooks, 2015). Selain itu, media sosial juga berpotensi membuka jalan bagi penyimpangan-penyimpangan psikologis, terutama yang terkait dengan masalah seksual. Terbukti, banyak pemuda – juga orang tua – yang kemudian terlibat eksperimetnasi seksual menyimpang setelah melihatnya di dunia maya. Sedangkan anak-anak menjadi korban cyberbully hingga menyebabkan bunuh diri (Kircaburun, 2018). Anonimitas yang disebutkan di atas punya peran di sini. Banyak yang mengira, karena di dunia maya mereka anonim, maka bebas berlaku sesukanya.

Baca juga:  Tetap Bertakwa Setelah Lebaran

Sosial media bahkan bisa mengguncang sebuah negara. Kasus Cambridge Analytica yang terbukti bisa memanipulasi pemilu di Amerika menjadi contoh nyata. Bahkan di negara yang membanggakan diri sebagai kampiun demokrasi sekalipun, dampak nyata dunia maya tetap menggucang mereka. Banyak revolusi yang terjadi belakangan ini dimulai dari pergolakan di dunia maya. Memang kita bisa berpartisipasi mendiskusikan politik, tapi belum tentu benar-benar menjadi melek literasi politik.

Fikih Informasi dan Logika Sosial Media

Terlepas dari berbagai efek di atas, sebenarnya ada pola yang sama yang terjadi di dunia maya. Peneliti ahli dunia maya, Jose Van Dijk, menyatakan bahwa sosial media diatur oleh “logika”  atau aturan mainnya nya sendiri. Di sini, kami akan menunjukan bagaimana kita bisa mengahdapi logika ini dengan berpedoman pada Fikih Informasi. Logika pertama adalah programmability; ini artinya, media sosial memiliki kemampuan untuk memancing penggunanya untuk terus-menerus membagikan informasi dan berkomunikasi. Terkadang dalam sehari, jika tidak melihat timeline atau tidak mengupload sebuah status kita merasa ada  yang kurang. Ini adalah akibat dari logika programmability ini.

Untuk menghadapi logika ini, maka kita pelru mengingat salah satu qiyam asasi atau nilai dasar Fikin Informasi, yakni fathonah atau kecerdasan. Salah satu tanda orang cerdas dalam al-Qur’an adalah sifat ulin nuha (QS Taha:45). Arti ulin nuha adalah mereka yang dapat menahan diri. Jadi dalam perspektif al-Qur’an, salah satu tanda kecerdasan adalah ketika kita mampu menahan diri dari sesuatu yang secara akal sehat, apalagi syariat tidak maslahat. Memang dari segi syariat, sharing di media sosial bisa jadi mubah. Tapi seorang ulin nuha akan melihat bahwa perbuatan demikian perlu ada batasnya.

Baca juga:  Cerita Koplak Tentang Pendidikan Barat dan Kita yang Mengikutinya

Logika berikutnya adalah  popularity, yakni kemampuan media sosial untuk membuat sesuatu menjadi populer, dan membuat semua penggunananya untuk ikut serta dalam hingar-bingar kepopuleran itu. Dari sinilah muncul istilah trending topic, dan berpengaruhnya influencer, karena sejak kita membuka sosmed, kita akan langsung ditawari “iniah yang populer hari ini”, agar kita ikut berpartisipasi. Padahal tidak semua yang trending topic itu important topic.  Logika ini sebenarnya sangat bertenangan dengan prinsip dasar bernalar dala al-Qur’an. Umat Islam diperingati oleh Allah bahwa jumlah banyak, popularitas, belum tentu berarti kebenaran (QS. Hud: 40). Maka hanya karena banyak yang follow, hanya karena sedang trending, bukan berarti kita juga harus ikut-ikutan.

Logika berikutnya adalah connectivity, yakni sifat dasar media sosial yang membuat semua orang terhubung. Ini tentu ada baiknya, sebab al-Qura’n dan hadis menganjurkan kita untuk saling menyapa dan berbagi kabar gembira. Maka Fikih Informasi menyatakan bahwa media sosial harusnya menjadi ajang untuk melakukan tabligh kebaikan. Namun ternyata ada sisi buruknya, yakni munculnya filter bubble; dimana kita terkoneksi hanya dengan kalangan tertentu yang sudah diatur oleh media sosial ini. Akhirnya kita menjadi terkotak-kotak dan penuh curiga kepada mereka yang berada di bubble (lingkarang pergaulan medsos) lain. Ini yang paling banyak merusak saat ini.

Menghadapi connectivity,  kita harus mengingat pesan al-Qur’an dalam al-Hujurat 10-13. Ada beberapa istilah penting yang sangat relevan di sini. Pertama adalah kita perlu mengingat bahwa pada dasarnya semua manusia itu dari pencipta yang satu, dan harus dihormati. Tidak boleh ada taskhir (menganggap rendah) dan harus ada ta’aruf atau saling mengenali. Lalu hindari banyak prasangka (zhan), mencari-cari cela kesalahan (tajassus) dan menyebarkan desas-desus tidak jelas tentang orang lain (ghibah). Nilai-nilai dasar ini, mungkin sudah banyak diketahui, tapi jika diamalkan dengan sungguh-sungguh, bisa menyelesaikan hampir semua masalah yang muncul akibat media sosial.

Baca juga:  Sebelum Membahas Agnez, Mari Mundur Alon-Alon

Lalu logika terakhir adalah datafication, yakni kemampuan media sosial untuk melacak semua gera-gerik kita dan menyimpannya menjadi data. Awalnya hanya gerak-gerik di dunia maya, lalu dari situ akan diinferensi ke kecenderungan di dunia nyata. Ini berawal dari kita sendiri yang gemar membagikan apapun di media sosial. Maka mengahadapinya, Fikih Inforamsi mengingatkan kita bahwa data itu memiliki nilai. Informasi tentang diri dan keluarga kita punya nilai penting. Jangan diobral dengan murah. Biasanya ini muncul dari keinginan untuk memamerkan, tapi bisa juga ingin tahditusuni’mah menyampaikan nikmat. Bagaimanapun, niat baik harus dijalankan dengan baik. Jangan sembarangan mengupload kegiatan di media sosial. Ada banyak hadis yang melarang kita menyebar rahasia diri. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kita harus memiliki iffah, yakni tidak sembarangan menyebarkan keluh kesah kita (al-Baqarah:273).

Penutup

Dari perspektif yang murni teknik, dunia saat ini sudah memasuki masa 4.0 dengan salah satu cirinya internet of things. Namun dari perspektif kejiwaan manusia, seperti layaknya dunia nyata dari dahulu hingga sekarang, dunia digital mulai dari awal munculnya hingga saat ini beroperasi dalam bingkai tarik menarik fujūr dan taqwa (QS al-Syams: 8-10). Hanya saja, ada sesuatu pada dunia maya yang membuat manusia lebih mudah tertipu, lebih mudah termanipulasi untuk mengikuti tarikan fujur-nya itu. Maka nilai-niali Qur’an di atas, masih sangat penting untuk kita ingat dan amalkan. Al-Qur’an tetap relevan, hanya kita yang perlu mawas diri untuk selalu mengamalkannya.

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: