Santri Cendekia

“Nyinyir” dan “Blind Spot” (Al-Hujurat 11 Part 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

 

Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Karena bisa jadi mereka (yang di olok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah para wanita (mengolok-ngolok) wanita lain. Karena bisa jadi wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan panggilan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasiq) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al-Hujurat : 11)

 

Secara garis besar, Surat Al hujurat yang dimulai dari ayat 9 sampai ayat 13 adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan penjagaan ukhuwah, pencegahan dan manajemen konflik antar orang beriman. Untuk Al-Hujurat ayat 11 ini merupakan peringatan dan tamparan bagi kita semua yang merasa beriman, atau bagi yang ingin meningkatkan dan terus berupaya menyempurnakan iman kita. Itulah mengapa Allah memulai ayat ini dengan panggilan dan seruan khusus untuk orang-orang beriman. “Wahai orang-orang yang beriman”.

Setelah itu Allah melanjutkan titah-Nya,” janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. Karena bisa jadi mereka (yang di olok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)”. Ini sungguh peringatan keras yang harusnya membuat kita makin berhati-hati ketika muncul pandangan, perkataan, ataupun tindakan yang sifatnya meremehkan, mengolok-ngolok, nyinyir, memicingkan mata terhadap saudara-saudara seiman.

Subhanallah, bukankah begitu mudah hari ini kita berkomentar miring soal saudara-saudara kita? Jangankan terhadap saudara seiman yang masih doyan maksiat, dengan saudara seiman yang sama-sama berjuang fii sabilillah saja, lidah kita tak bertulang tanpa pandang bulu dan tanpda adab berceletuk tentang mereka. Atau jangan-jangan kita tipe-tipe orang yang bisa begitu menjaga lisan dan toleran kepada orang-orang kafir tapi begitu pedas ketika berhadapan dengan orang-orang islam? Hanya karena berbeda harakah, kita anggap mereka menempuh jalan yang salah. Hanya karena berbeda manhaj, kita anggap mereka orang yang sesat. Hanya karena berbeda metode, kita anggap mereka orang yang jahil. Kita hanyalah orang-orang yang penuh dengan ‘blind spot’ yang selalu gagal melihat kelebihan dan sisi positif orang lain karena ego dan keangkuhan yang menggumpal di dalam diri kita.

Baca juga:  Benarkah Syaikhul Islam Sirajuddin Al-Bulqini Membolehkan Tahniah Atas Hari Raya Keagamaaan Non-Muslim?

Saudara seiman berdemo menuntut hak dan aspirasi, kita nyinyir. Padahal bisa jadi jiwa jihad mereka lebih membara daripada kita.

Saudara seiman menjadi kristolog mendunia, kita nyinyir. Padahal dia sudah mengislamkan banyak orang di mana kita ngajak 1 orang ngaji aja setengah modar.

Saudara seiman membuat training-training kepemimpinan dan sebagainya, kita nyinyir. Padahal sudah berapa banyak orang yang berhasil terinspirasi dan menjadi pribadi yang lebih baik, sedangkan kita sibuk menjatuhkan banyak orang.

Saudara seiman membuat kajian dan institusi parenting nabawiyah, kita nyinyir. Padahal sudah berapa banyak keluarga yang berubah haluan ke arah yang lebih baik berkat mereka, sedangkan kita berkeluarga aja gak berani-berani.

Saudara seiman membuat gerakan nahi mungkar, kita nyinyir. Padahal tanpa mereka, bisa jadi adzab Allah sudah turun ke tempat di mana kita cuma sibuk berakting sok intelek dan komentar sana-sini tanpa bisa berbuat apa-apa.

Saudara seiman membuat kegiatan dan audisi hafizh Qur’an, kita nyinyir juga. Padahal sudah ribuan atau bahkan jutaan keluarga terinspirasi untuk menjadikan anaknya penghafal Qur’an, sedangkan kita juz 30 aja gak tuntas-tuntas.

Ingatkah kita kisah Abdullah bin Amr bin Ash ra yang rela menginap selama 3 hari di rumah seseorang yang Rasulullah 3 kali menyebutnya sebagai ahli surga sedangkan orang itu bukan salah seseorang yang banyak dikenal para sahabat yang utama. Setelah 3 hari berlalu, Abdullah bin Amr ra masih saja belum menemukan amalan apa yang menjadikan orang ini bisa disebut ahli surga oleh Rasulullah. Amalan-amalannya “pas-pasan”, hanya mengerjakan yang wajib. Hingga hari ke-tiga Abdullah pun bercerita tentang ucapan Rasulullah kepada orang ini dan menyampaikan keheranannya apa amalan yang bisa membuat dia menjadi ahli surga. Ternyata orang itu bercerita, ada satu amalan yang selalu menjadi andalannya. Dia selalu memaafkan semua orang sebelum dia tidur. MasyaAllah, bahkan seorang Abdullan bin Amr pun memiliki ‘blind spot’ mengenai keutamaan orang ini. Bedanya, Abdullah bin Amr gak buru-buru nyinyir.

Baca juga:  Penjelasan Mukhassis Muttashil

Maka cukuplah ayat ini menjadi peringatan kepada kita. Agar kita lebih tawadhu’, mawas diri, dan hudznudzan kepada saudara-saudara kita. Jangan terlalu banyak menghisab dan menilai amalan orang lain tapi kita lupa menghisab dan menilai amalan diri kita. Bisa jadi orang-orang yang kita nyinyir-i ternyata lebih baik dari kita di mata Allah. Amal-amalnya pun lebih utama. Kan gak lucu bro, di dunia sibuk nyinyirin orang, eh pas di akhirat ternyata surga mereka jauh di atas kita. Allahu musta’an.

.

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: