Santri Cendekia

Observatorium Pra-Islam

Seperti diketahui, esensi sebuah observatorium adalah kegiatan observasi atau pengamatan benda-benda langit. Dalam genealogi awalnya, kegiatan observasi atau pengamatan benda-benda langit ini sejatinya telah ada dan dipraktikkan manusia zaman berzaman dengan tujuan beragam.

Seperti diketahui pula, pengamatan (observasi) sebagai dipraktikkan orang-orang kala itu hanya menggunakan sarana pengamatan visual, tanpa menggunakan alat atau instrumen astronomi tertentu.

Observatorium astronomi dengan pengertian tersedianya bangunan berupa gedung, instrumen-instrumen astronomi, para observer, bahkan ruang perpustakaan dan ruang diskusi ilmiah, tentu tidak ditemukan di zaman pra-Islam.

Klasifikasi, definisi, dan praktik observatorium seperti disebutkan baru ada dan muncul di peradaban Islam, tepatnya di era kekhalifahan al-Ma’mun.

Namun patut dicatat bahwa asal-usul dan atau cikal-bakal observatorium modern sejatinya telah ditemukan dan berakar dari observasi-observasi yang dilakukan orang-orang sejak pra-Islam ini. Hal ini dapat dimengerti oleh karena unsur integral dari sebuah observatoium adalah observasi (baca: pengamatan) itu sendiri.

Berdasarkan definisi observatorium sebagai telah disebutkan, baik secara etimologi maupun terminologi, tampak bahwa esensi observatorium adalah pengamatan (baca: observasi). Dalam konteks zaman lampau, pengamatan merupakan hal penting bahkan teramat penting, karena berkaitan dengan keseharian manusia.

Seperti dimaklumi, orang-orang di zaman pra Islam memiliki kebiasaan melakukan perjalanan, baik perjalanan siang hari maupun malam hari, untuk tujuan-tujuan tertentu seperti berdagang, berperang, bertani, dan lain-lain.

Untuk tujuan-tujuan itu mereka terbiasa membaca dan memahami gerak dan posisi benda-benda langit dan segenap fenomenanya di cakrawala sebagai pertanda dan pedoman di dalam kehidupan mereka.

Hal demikian ini rutin mereka lakukan sepanjang hari dan sepanjang tahun, dan pada akhirnya menjadi tradisi yang berlangsung secara turun temurun.

Disadari atau tidak, aktivitas yang pada awalnya bersifat sosial-praktis ini pada akhirnya menjadi unsur penting bagi lahirnya lembaga observatorium astronomi di dunia Islam.

Baca juga:  Rabbani ; Konsep Ilmuwan Ideal dalam Islam

Di zaman lampau, aktivitas pengamatan merupakan bagian integral kehidupan manusia, baik terkait rutinitas sosial, bisnis, maupun mitos-mitos.

Menurut Aidin Sayili dalam karyanya yang berjudul “al-Marāshad al-Falakiyyah fī al-‘Ālam al-Islāmy”, sejak zaman Yunani, sejatinya telah ada dan berdiri sebuah observatorium astronomi bernama “Observatorium Iskandariah”, yang berdiri pada abad ke-13 SM. Ptolemeus, sang ahli astronomi-astrologi dan pencetus teori geosentris, tercatat sebagai direkturnya.

Ptolemeus sendiri dalam karyanya “Almagest” banyak memuat catatan-catatan dan atau informasi-informasi observasi dan hasil-hasilnya. Dalam perkembangannya, hasil-hasil observasi tersebut menjadi data penting dan dikaji dan dipelajari oleh para astronom Muslim kemudian.

Ali Hasan Musa dalam karyanya “‘Ilm al-Falak fī at-Turāts al-‘Araby” menyatakan, sejarah telah mencatat bahwa orang-orang Yunani adalah yang pertama kali melakukan observasi (pengamatan) planet-planet dan bintang-bintang dengan menggunakan instrumen-instrumen astronomi yang ada dan tersedia ketika itu.

Hanya saja, kegiatan-kegiatan observasi dan peralatan-peralatan (instrumen-instrumen) astronomi yang tersedia dan digunakan ketika itu tidak diketahui secara jelas. Hal ini disebabkan tidak tersedianya catatan, dokumen, dan atau peninggalan konstruksi fisik observatorium tersebut.

Namun patut diduga bahwa instrumen astronomi astrolabe dan rubu mujayyab tampaknya telah ada dan dipraktikkan ketika itu oleh karena genealogi dua alat ini yang memang berakar dan berasal dari zaman pra Islam. Selanjutnya secara pasti pula sejarah mencatat bahwa di Iskandariah (Mesir) telah penah berdiri sebuah observatorium astronomi yang telah menggunakan beberapa instrumen astronomi, dan dalam perkembangannya menjadi embrio perkembangan observatorium dan secara umum astronomi di dunia Islam.

Patut dicatat, selain peradaban (bangsa) Yunani, sejatinya hampir semua peradaban (bangsa) silam (pra-Islam) memiliki telaah dan atau pengamatan benda-benda langit.

Baca juga:  Hukum 'Shaf Distancing' demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

Peradaban Babilonia misalnya, telah dilakukan berbagai observasi alam seperti observasi planet-planet dan bintang, disamping orang-orang di zaman itu juga telah memperkirakan terjadinya konjungsi Venus yang berlangsung selama 584 hari.

Sebagai aksesnya lagi muncul tabel-tabel peredaran benda-benda langit, penyiapan kalender pergantian musim dan perubahan wajah bulan, pemetaaan langit, dan lain-lain. Hal ini juga merupakan embrio astronomi modern.

Sebelum itu, peradaban Sumeria juga sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang-bintang. Orang-orang Sumeria menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan.

Bahkan nama rasi bintang Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa tersebut. Hal ini semua tentu dihasilkan dari pengamatan (observasi) alam atau langit.

Sementara itu di peradaban China juga telah ada kajian dan pengamatan terhadap Nova dan Supernova. Astronom China silam Shi Shen, konon sudah berhasil menyusun katalog bintang tertua yang terdiri 800 entri. []

 

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: