Santri Cendekia

Observatorium Sekolah dan Pesantren

Dimaksud dengan Observatorium Sekolah dan Pesantren disini adalah observatorium yang dalam operasional kegiatannya (baik penelitian maupun edukasi astronomi) berada dibawah dua lembaga tersebut yaitu sekolah dan pesantren.

Selanjutnya dalam pelaksanaan aktivitasnya observatorium ini juga dominan dimanfaatkan oleh para siswa dan atau santri sebagai kegiatan ekstrakurikuler, pengabdian masyarakat, maupun motif kegiatan lainnya.

Dalam hierarki-klasifikasinya, Observatorium Sekolah dan Pesantren masuk dalam kategori observatorium pendidikan yang memokuskan pada pengenalan dan praktik observasi yang bersifat edukasi, disamping terdapat juga kegiatan-kegiatan yang bersifat penelitian, namun tidak dominan.

Di era modern, khususnya di Indonesia, sebuah lembaga pendidikan menengah (sekolah maupun pesantren) yang memiliki sarana observatorium menjadi salah satu indikasi bahwa lembaga pendidikan tersebut maju dan inovatif.

Keberadaan observatorium di sekolah dan pesantren juga berperan meningkatkan mutu pendidikan sebuah lembaga. Sebab dalam konteks sekolah dan pesantren, praktik observatorium berhubungan dengan banyak mata pelajaran, yang paling utama adalah matematika, fisika, geografi, dan agama.

Dalam mata pelajaran agama misalnya, observatorium berperan menunjang pendidikan karakter, dimana benda-benda langit yang beragam dan mengagumkan itu merupakan bukti kebesaran dan keagungan Tuhan sebagai sang Pencipta alam semesta. Selain itu, keberadaan observatorium juga merupakan pilot-project penerapan model pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Math (STEM).

Selain itu, dan merupakan hal yang cukup penting, keberadaan sebuah observatorium di tingkat sekolah dan pesantren akan sangat mendukung perhelatan Olimpiade Astronomi yang rutin dilaksanakan setiap tahun di Indonesia, baik dalam tingkat kabupaten/kota, propinsi, nasional, dan bahkan internasional.

Selanjutnya keberadaan observatorium di sekolah dan pesantren juga setidaknya sedikit mengikis paradoks keberadaan Olimpiade Astronomi yang tidak didukung oleh tersedianya mata pelajaran astronomi di tingkat sekolah dan pesantren.

Baca juga:  Observatorium Pra-Islam

Di Indonesia, observatorium sebagai berada di lingkungan sekolah dan atau pesantren tidaklah banyak. Setidaknya penulis mencatat masing-masing dari keduanya hanya ada satu, yaitu (1) Observatorium Winaya di Bandung, yang berada dibawah naungan Sekolah Menengah Atas Badan Perguruan Indonesia (SMA BPI) 1 Bandung (Jawa Barat), dan (2) Observatorium Assalaam di Sukoharjo (Solo) Jawa Tengah, yang berada dibawah naungan Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam (PPMI) yang merupakan amal usaha bidang pendidikan milik Yayasan Majelis Pengajian Islam Surakarta.

Tak ayal dua lembaga pendidikan menengah ini (sekolah dan pesantren) dapat dikatakan mewakili dua lembaga pendidikan umum (sekolah) dan lembaga pendidikan keagamaan (pesantren).

Keduanya juga sekaligus mencerminkan apresiasi terhadap kemajuan sains dan teknologi dan atau peradaban manusia. Selain itu juga keduanya berperan menghilangkan dikotomi antara sains dan syariat atau agama dan ilmu pengetahuan.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan observatorium kurang atau belum berkembang di lingkungan sekolah maupun pesantren. Antara lain: faktor ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki pemikiran dan konsentrasi di bidang astronomi dan observatorium, lalu faktor biaya membangun observatorium yang memang relatif besar, lalu penyediaan instrumen-instrumen astronomi (khususnya teleskop yang representatif dan alat-alat astronomi lainnya) dan fasilitas-fasilitas pendukung lainnya yang tentunya juga cukup mahal.

Selain itu, faktor pemahaman pimpinan sebuah lembaga pendidikan terhadap arti penting observatorium ini juga turut memengaruhi keberadaan observatorium di sekolah maupun di pesantren, dan faktor-faktor lainnya.

Observatorium Assalaam bersama para santriwati
Observatorium Assalaam bersama para santriwati

Observatorium Assalaam di Sukoharjo (Solo) tampaknya adalah observatorium pendidikan tingkat pesantren yang paling maju dan representatif. Dalam perjalanannya, sebagaimana terlihat dari rilis media sosialnya (website, facebook, instagram, dan lain-lain), berbagai kegiatan edukasi, pengamatan dan penelitian langit (khususnya untuk para santri) kerap dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Baca juga:  Syihabuddin al-Qalyubi: Ulama Fikih Ahli Astronomi, Medis, dan Sejarah

Dalam kegiatannya juga observatorium ini telah sepenuhnya melibatkan santri. Motto yang diangkat oleh observatorium ini adalah “Bringing Astronomy to the Students”. Salah satu faktor dibalik maju dan berjalannya observatorium ini tidak lain adalah karena dukungan pihak pimpinan.

Selain itu, tidak dipungkiri pula karena sosok penuh dedikasi yang diamanahi mengelola dan menjalankan observatorium ini yang memiliki wawasan dan keilmuan langit (astronomi) mumpuni yaitu Ustadz AR Sugeng Riyadi, atau yang lebih dikenal dengan Pak AR.

Sementara itu Observatorium Winaya di Bandung (Jawa Barat), observatorium ini relatif baru berdiri dan beroperasi yaitu pada tahun 2016 yang diresmikan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin.

Dalam konstruksinya, observatorium ini terdiri dari sebuah sliding-roof berukuran 3 x 12 meter persegi, yang di dalamnya terdapat instrumen astronomi teleskop yang bersifat permanen dan kelengkapan-kelengkapan lainnya. Selain itu juga terdapat instrumen teleskop yang dapat dibawa dan dipindah (portabel).

Observatorium Winaya” SMA BPI 1 Bandung (Jawa Barat)
Observatorium Winaya” SMA BPI 1 Bandung (Jawa Barat)

Sejauh ini, informasi mengenai kegiatan-kegiatan dan atau capaian-capaian praktik edukasi astronomi, pengamatan, maupun penelitian langit oleh observatorium ini belum banyak penulis ketahui. Disamping itu, melalui penelusuran online, observatorium ini belum memiliki situs (website), sehingga akses informasi tentangnya sulit diketahi.

Namun yang pasti kehadiran dan keberadaan observatorium ini merupakan terobosan dan warna baru dari sebuah lembaga pendidikan menengah yang layak diikuti oleh sekolah-sekolah lainnya di Indonesia.[]

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: