Santri Cendekia

Obsesi Viral Bukan Ciri Khas Muhammadiyah!

Obsesi viral di dunia maya sekarang ini telah menjadi candu. Pada era teknologi yang semakin canggih dan keterbukaan yang semakin mudah diakses, menyuarakan apapun saat ini rasanya mudah sekali. Siapa pun yang menulis curhat di facebook, membuat hastag di twitter, atau narsis di tiktok, dalam kepalanya mengharapkan apa yang mereka bagi akan tersebar dengan cepat sehingga membuatnya menjadi populer dan menjadi perbincangan khalayak umum. Viral mungkin telah menjadi salah satu “maqashid” di era persebaran informasi ini.

Sebagai warga Muhammadiyah, saya agak minder dengan gerakan Islam lain yang suaranya di dunia maya begitu bergemuruh, ramai, dan menjadi pembicaraan mainstream. Walau dianggap sebagai salah satu raksasa organisasi Islam di Indonesia, persyarikatan yang didirikan tahun 1912 ini belum cukup mampu bertengger di pucuk trending topik di twitter, dibicarakan secara luas di facebook, atau ditonton jutaan views di youtube. Harus diakui fakta ini membuatMuhammadiyah pada abad kedua mengalami kepanikan luar biasa karena merasa tertinggal jauh dengan pergerakan Islam yang lain dalam pertarungan wacana di dunia internet.

Ada banyak faktor yang membuat Muhammadiyah tidak menjadi pemain utama dalam pertarungan wacana di dunia maya. Mulai dari rigidnya sistem birokrasi di tubuh persyarikatan, hilangnya sosok yang ditokohkan, sampai nihilnya kreativitas membungkus wacana dengan rasa milenial di belantara sosial media. Telah lama Muhammadiyah menyadari hal tersebut, pun telah banyak seminar dan rapat membahas persoalan ini, namun langkah konkret belum juga menemui kata maksimal. Sekarang Muhammadiyah telah sedikit bergeser memperbaiki kekurangan itu, namun ke-viral-an belum juga datang.

Jadi apa sesungguhnya yang salah dengan Muhammadiyah sehingga sering “kalah” dengan pergerakan Islam yang lain? Mengapa nama “Muhammadiyah” terkesan jarang terpampang di berbagai paltform sosial media? Jawabannya adalah nama Muhammadiyah kurang menjual untuk dijadikan objek viral. Percayalah, saat Anda membicarakan pergerakan Islam lain, secara tidak langsung mereka menjanjikan jutaan views di youtube, ribuan like di instagram, dan ratusan retweet di twitter.

Baca juga:  Kalender Islam Global dan Kriteria Waktu Subuh Jadi Fokus Bahasan Munas Tarjih ke-31

Saat teman saya menulis status facebook yang lumayan panjang tentang betapa tidak pentingnya sistem khilafah di Indonesia, statusnya disambut dengan taburan like, komen, dan share. Pun demikian saat teman saya yang lain menulis di website tentang sekelompok Islam yang mengharamkan musik, mewajibkan jenggot, dan membidahkan Maulid Nabi, link artikelnya tersebar di grup-grup whatsapp. Seorang ustaz yang tidak setuju dengan pernyataan salah satu tokoh ormas terbesar di Indonesia yang mengatakan masa kecil Nabi Muhammad sama dengan anak kecil lainnya, videonya menghasilkan angka views yang lumayan tinggi di youtube.

Namun sebaliknya, orang tidak begitu tertarik membahas Muhammadiyah telah membangun rumah sakit yang menopang pasien kurang mampu, mengadakan panti asuhan yang menampung anak-anak broken home, atau mendirikan sekolah di tempat paling udik sekali pun. Mungkin karena apa yang telah dilakukan Muhammadiyah tersebut tidak terlalu gurih untuk ditertawakan, tidak terlalu bagus untuk dikritik, dan tidak terlalu lezat untuk dipujii. Siapapun tahu, tak ada yang menarik untuk dibahas terhadap sesuatu yang telah benar. Dan harus diakui memang Muhammadiyah tidak terlalu pandai melakukan kegenitan intelektual, akrobat pemikiran, atau sensasi pemberitaan.

Watak Muhammadiyah yang seperti ini sebetulnya terpelihara dengan baik sejak KH. Ahmad Dahlan masih hidup. Dalam catatan Alwi Shihab yang termuat dalam buku Membendung Arus, informasi mengenai Muhammadiyah dan KH. Ahmad Dahlan pada tahun-tahun awal begitu minim, atau dapat dikatakan pada masa pemerintahan Kolonial, hampir tidak ada catatan kesarjanaan yang serius tentang organisasi terbesar di Indonesia ini. Alwi Shihab berasumsi bahwa ketika KH. Ahmad Dahlan masih hidup, gerakan Muhammadiyah tidak dipandang sebagai ancaman potensial terhadap rezim kolonial Belanda, sehingga menjadikan mereka kurang diminati para penulis berita yang menghamba pada kekuatan “click bait”.

Baca juga:  Imam Nawawi dan Penguasa yang Meminta Rakyat Patungan Hadapi Krisis

Sumber informasi yang dapat digali tentang Muhammadiyah di awal berdirinya dan kiprah KH. Ahmad Dahlan pada masyarakat, kalau bukan dari Majalah Suara Muhammadiyah yang memang telah berdiri sejak 1915, dapat dilacak dari catatan-catatan murid angkatan pertama KH. Ahmad Dahlan. Tentunya para jurnalis Belanda ketika itu lebih tertarik mengupas Pangeran Diponegoro, karena mungkin lebih menjanjikan secara trafik penjualan, daripada membahas KH. Ahmad Dahlan yang hanya fokus pada pengajiaan al-Ma’un bersama murid-muridnya. Para peneliti ketika itu lebih memilih bahasan semacam penyerangan Pangeran Antasari ke tambang batu bara Belanda di Pengaron, daripada mengupas KH. Ahmad Dahlan dalam usahanya membenarkan arah kiblat salat.

Bukan berarti Pangeran Diponegoro atau Pangeran Antasari sosok yang haus akan ketenaran, sebagaimana politisi kita sekarang. Mereka itu “sengaja” diviralkan Belanda untuk tujuan agensi politik dan militer. Semua pahlawan kita pada zaman pra kemerdekaan memiliki perannya masing-masing. Tidak seperti Pangeran Dipenegoro dan Pangeran Antasari, ekspresi politik KH. Ahmad Dahlan yang lebih memilih untuk tidak konfrontasi langsung dengan kolonial Belanda bertujuan agar pengembangan mutu pendidikan dapat dengan leluasa digalakkan, serta misi pembaharuan dapat disebar secara bebas. Karena strategi inilah Muhammadiyah telah berhasil menjadi lokomotif modernisasi Islam sehingga berjalan mulus di atas tanah Nusantara.

Karena itulah, justifikasi historis di atas telah menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah pergerakan Islam yang haus akan pemberitaan, latah dengan tren zaman, dan selalu ingin dibicarakan khalayak umum. Karena itu tidak perlu bersedih Muhammadiyah jarang jadi tema utama pembicaraan netizen di twitter atau facebook. Karena biarpun kerja-kerja sosial Muhammadiyah tidak viral di dunia maya, namun tentu akan selalu viral di lingkungan-lingkungan korban bencana, bersama orang-orang mustadl’afin, dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

Baca juga:  Mewaspadai Klitih Digital 4.0

Terakhir, semoga tulisan ini viral. Hehehe.

*Pertama kali bangedd tulisan ini tayang di Muhammadiyah.or.id

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: