Santri Cendekia
Home » Palestina Sebagai Hama Peradaban Manusia

Palestina Sebagai Hama Peradaban Manusia

Mengapa sebagian tanaman kita sebut gulma? Mengapa sebagian hewan kita panggil hama? Karena mereka menganggu kenyamanan konsumsi kita. Lebih menjengkelkan lagi, mereka tidak bisa ditunduk-taklukkan, tak mau (dan tak menguntungkan) untuk dibudidayakan. Mereka rata-rata sulit dibasmi. Dibakar tidak punah, diracun malah dimamah.

Manusia benar-benar membenci para hama ini. Itulah sebabnya, manusia-manusia penganggu ketenangan sering pula dijuluki hama. Disebut parasit. Poster-poster antisemitik Nazi menggambarkan Yahudi-Yahudi sebagai tikus penganggu ketenangan dan perusak kemakmuran bangsa Jerman. Imigran Muslim di abad ke-21 Eropa disebut “berkembang biak kayak tikus got” oleh para penjaga kemurnian dan keadaban Eropa.

Dalam hal dan makna ini, Palestina adalah hama dunia. Palestina sebagai rakyat dan cita-cita kemerdekaan mereka. Palestina dan teriakan-teriakan cengeng mereka. Palestina dan kekejaman-kekejaman irasional mereka. Palestina dengan terorisme mereka. Palestina dengan diplomasi gagal mereka.

Bagi “masyarakat internasional” dan elit tapi mungkin pula alit di Barat, Palestina jelas adalah hama pengganggu. Mereka adalah hama bagi citra dunia pasca kolonialisme, di mana “penjajahan” – dan keterlibatan pemerintahan negara Barat di dalamnya – adalah fakta sejarah yang dibenci bersama penuh mufakat. Namun disepakati pula bahwa tempatnya adalah di buku sejarah. Bukan di judul-judul berita harían. Terlebih lagi, masalah Palestina bermula dari solusi yang mereka pikir akan mengakhiri “the Jewish question”; permenungan orang Eropa selama berabad-abad lampau tentang hama Yahudi di tengah-tengah mereka.

Namun tampaknya, “Dunia Islam” dengan umara, ra’iyat, dan mungkin pula ulama yang membentuk ummat ini – juga mulai merasa terserang hama Palestina.

Apa mungkin, Palestina dan teriakan-teriakan cengeng mereka mulai menganggu telinga kita yang mau menghayati tilawah syahdu atau shalawat indah pada sang Nabi Rahmah? Belum lagi dentuman bom rakitan tidak efektif mereka merusak konsentrasi kita yang ingin mendalami filsafat Ibnu Sina, wujudiyyah Syaikh Akbar, kalam al-Ghazali dan debat-debat Ibnu Taimiyyah. Bagaimana kita bisa tenang bermujadalah tentang istiwa’ atau berbagai furu’ dari kitab fukaha kalau anak-anak kecil Gaza itu tidak mau berhenti menangis?!

Baca juga:  Diskursus Maslahat Dalam Teori Hukum Islam Kontemporer (Bagian 4)

Palestina dan kekejaman-kekejaman irasional mereka membuat kita tak nyaman sebab mereka dengan gegabahnya menyebut itu muqawamah Islamiyyah. Palestina dengan terorisme mereka membuat kita pening sebab harus menjelaskan ulang konsep jihad – dan kenapa fikih jihad Hamas jelas salah. Palestina dengan diplomasi gagal mereka membuat kita gregetan sebab itu artinya semua ini belum akan berakhir cepat dan kita akan terus terganggu.

Ketidaksabaran orang Palestina untuk berjuang dengan cara baik-baik, dengan rahmah, adalah hama bagi citra ummat pasca war on terror. Di mana konfrontasi fisik adalah haram mutlak sebab rahmah dan moderasi adalah jawaban bagi setiap masalah. Di mana kerja sama strategis untuk pengembangan sains, teknologi, ekonomi, dan tentu saja dialog antar umat beragama adalah prioritas. Di mana ‘tenda Ibrahim’ mulai dibuka sebagai tempat berteduh pemeluk tiga agama Abrahamik yang selama ini suka konflik – meskipun tenda itu memang dibuat tak muat untuk aspirasi Palestina yang dengan serakahnya ingin merdeka itu

Begini simpulan seorang ilmuwan siyasah Israel tentang `Perjanjian Ibrahimi` alias Abraham Accord, sebuah mufakat paling penting di Timur Tengah abad ini.

Palestina kalah besar. Jared Kushner tidak mengikutsertakan Mahmoud Abbas, presiden Otoritas Nasional Palestina, dalam perundingan Kesepakatan Abraham setelah ia menolak “Kesepakatan Abad Ini” yang diusulkan Trump. Selain itu, dua negara Arab yang penting menormalkan hubungan dengan Israel sementara hanya memberikan basa-basi tentang perlunya menemukan solusi untuk konflik Israel-Palestina. Bahkan Saudi yang beraliran garis keras pun mendukung perjanjian tersebut (meski memilih untuk tidak menandatanganinya). Perjanjian ini menandai penurunan yang signifikan dalam status internasional konflik Israel-Palestina.[1]

Akhirnya, kesepakatan ini membuat Palestina berhenti menjadi hama penganggu kedamaian dunia. Tapi dasar hama gulma, mereka susah dibasmi. Dibakar mereka tak punah, diracun malah dimamah. Maka mereka kembali berulah. Ketika mereka mengamalkan fikih jihad mereka yang salah itu, ketika mereka melakukan strategi perlawanan konyol mereka itu di akhir tahun lalu, mereka kembali menganggu ketenangan dunia. Para ilmuwan siyasah langsung paham maksud serangan bodoh Hamas dengan layangan mereka itu. Mereka ingin merusak tenda Ibrahimi yang didirikan tanpa mengajak mereka. Lagian salah sendiri, jadi bangsa kok ingin merdeka?

Baca juga:  Dampak Sosio-Ekonomi Arab-Palestina dari Kebijakan Pendidikan Negara Israel

Bisa ditebak, serangan dadakan itu dibalas dengan destruksi tanpa ampun. Orang-orang pun kembali  berdebat tentang siapa yang salah. Tokoh agama berargumen soal interpretasi kitab suci mana yang tepat. Sementara anak-anak, Perempuan, dan tentu saja para lelaki di Gaza habis dibasmi. Itulah nasib hama. Tapi mereka akan terus tumbuh kembali, mengganggu ketenangan kita, mengusik ketidak pedulian dunia.

Namun kali ini, umat Islam wa bil khusus mereka yang moderat tidak perlu gusar lagi. Afrika Selatan sudah membawa Israel ke pengadilan. Para kiyai dan santri boleh berdebat lagi soal istiwa’ dan music, sebab para professor dan mahasiswa di kampus-kampus Amerika dan Eropa sudah mengambil peran pembela hama. Entah tak gusar sebab tak lagi sendiri berjuang, atau tak gusar karena tak lagi direpoti. Entahlah.

[1] Lazin, Fred A. “President Donald Trump’s Abraham Accords initiative: Prospects for Israel, the Arab states, and Palestinians.” Politics & Policy 51, no. 3 (2023): 476-487.

Avatar photo

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar