Santri Cendekia

Pandemi dan Wabah Menurut al-Imam Jalaluddin as-Suyuthy

Al-Imam Jalal ad-Din as-Suyuthy adalah tokoh terkenal di dunia Islam yang memiliki banyak karya. Karya-karyanya meliputi berbagai bidang keislaman. Namun ternyata As-Suyuthy juga punya karya dalam bidang medis berjudul “Ma Rawahu al-Wa’un fi Akhbar ath-Tha’un”.

Karyanya ini menguraikan tentang sejarah penyakit Tha’un (sejenis penyakit menular) yang banyak menimpa bangsa-bangsa di zaman silam serta sebab-sebab terjadinya menurut tinjauan hadis dan medis.

Dalam buku ini juga diterakan historiografi perkembangan penyakit Tha’un dari masa ke masa. Buku ini juga memberi pesan bahwa penyakit Tha’un dapat menimpa siapa saja, sesuai dikehendaki Allah.

Bagian mukadimah (pengantar) buku ini menjelaskan tentang latar belakang As-Suyuthy menulis buku ini yang merupakan repetisi atas buku “Badzl al-Ma’un” karya Ibn Hajar al-Asqallany.

Berikutnya As-Suyuthy mengurai hakikat dan terminologi Tha’un. Di bagian ini As-Suyuthy banyak mengutip riwayat-riwayat (hadis) dan pendapat-pendapat ulama sebelumnya. Selanjutnya As-Suyuthy menjelaskan tentang perbedaan antara wabah dengan Tha’un.

Menurutnya, Tha’un lebih spesifik dari wabah, wabah adalah penyakit (pandemik) yang bersifat umum yang adakalanya dalam bentuk Tha’un dan adakalanya bukan Tha’un. Setiap Tha’un adalah wabah, namun tidak semua wabah adalah Tha’un.

Adapun sebab-sebab terjadinya pandemik Tha’un, diantaranya adalah karena merebaknya maksiat secara terang-terangan. As-Suyuthy mengutip riwayat Aisyah yang menyebutkan bahwa Tha’un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah menjadikannya rahmat kepada orang-orang beriman.

As-Suyuthy menjelaskan bahwa manakala seseorang berada di suatu negeri (desa/kota) maka ia tidak diperbolehkan keluar, demikian juga sebaliknya. Hal ini adalah apa yang hari ini dikenal dengan social distancing atau lockdown.

Terkait wabah yang terjadi, dianjurkan agar segera bertaubat atas segenap dosa dan kesalahan. Demikian lagi dianjurkan berobat, dan berhati-hatai tatkala wabah merebak di masyarakat.

Baca juga:  Haruskah Nikita Mirzani Dibui dalam Pandangan Hukum Positif Islam?

As-Suyuthy menjelaskan betapa pentingnya sikap sabar manakala seseorang atau sekelompok orang ditimpa wabah. Juga dijelaskan balasan bagi orang-orang yang sabar terhadap musibah ini.

As-Suyuthy mengutip hadis Nabi Saw yang diriwayatkan Abu Hurairah yang menjelaskan bahwa disediakan balasan berupa Surga dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersabar manakala orang-orang yang dicintai dicabut nyawanya oleh Allah.

As-Suyuthy juga menjelaskan pentingnya bersyukur dan berserah diri kepada Allah (istirja’) saat tertimpa mushibah.

Di bagian akhir dari karyanya ini As-Suyuthy menampilkan informasi (fenomena) Tha’un yang terjadi di berbagai negeri Islam dan negeri-negeri lainnya, dimana menurutnya pandemik Tha’un pertama kali terjadi pada tahunj ke-6 H di Mada’in (di zaman Nabi Saw).

Lalu tahun 17 H atau tahun 18 H di Syam, yang merenggut 25 ribu orang (ada yang mengatakan 30 ribu orang), dimana pada pandemi ini juga banyak menewaskan sejumlah sahabat seperti Abu Ubaidah, Mu’adz bin Jabal, Abu Malik al-‘Asy’ary, Yazid bin Abi Sufyan, al-Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, dan lain-lain.

Lalu pandemi di Kufah tahun 49 H. Lalu di Hasanah tahun 53 H. Lalu di Mesir tahun 66 H. Lalu di Basrah tahun 69 H. Lalu di Mesir lagi tahun 85 H. Lalu di Basrah tahun 87 H. Lalu tahun 100 H. Lalu  tahun 115 H di Syam. Lalu tahun 131 H di Syam lagi. Lalu tahun 134 H di Rayy.

Tahun 146 H di Bagdad. Tahun 221 H dan tahun 249 H di Irak. Lalu tahun 228 H di Azerbaijan. Lalu tahun 229 H di Persia. Tahun 301 di Bagdad. Tahun 324 H di Isfahan. Tahun 346 H di Irak. Tahun 406 H di Basrah. Tahun 423 H di India. Tahun 425 H di Syiraz. Tahun 439 H di Mousil, Jazirah Arab, dan Bagdad. Tahun tahun 455 H di Mesir.

Baca juga:  Tanggapan untuk Artikel IBTimes: Perempuan Jadi Imam Shalat Tarawih, Bagaimana Hukumnya?

Tahun 499 H di Damaskus. Tahun 478 H di Irak. Tahun 556 H di Hijaz dan Yaman. Tahun 575 H di Bagdad. Tahun 630 H di Mesir.

Tahun 781 H, 791 H, 821 H, 833 H, 841 H di Mesir. Lalu tahun 853 H, 864 H (di Mesir dan Syam). Tahun 896 H di Romawi. Tahun 897 H di Aleppo, dan seterusnya.[]

*Artikel ini telah dimuat di Harian Medan Pos (5 April 2020)

 

Baca artikel menarik lainnya tentang corona:

  1. Tinjauan Fikih: Lebih Baik Tidak Salat Jumat Selama Wabah Corona
  2. Tidak ke Masjid di Masa Wabah Corona Bukan Pembangkangan atas Syariat Islam
  3. Pandemi ‘Fitnah’ Netizen atas Fatwa tentang Corona
  4. Hadis Kontradiktif, Kausalitas, dan Coronavirus
  5. 14 Rekomendasi Muhammadiyah Amerika Serikat terkait Wabah Corona
  6. Mengenal Aliran Teologi Islam Melalui Virus Corona
  7. Tanya Jawab soal Corona, Azab, dan Masjid (1)
  8. Tanya Jawab soal Masjid dan Corona (2)
  9. Surat Terbuka bagi Mereka yang Bilang jangan Takut Corona Takutlah kepada Allah

  10. Hukum ‘Shaf Distancing’ demi Meminimalisir Penyebaran Virus Covid-19

  11. Syahidkah orang yang Meninggal Karena Virus Corona? 

  12. Hukum Salat Jamaah via Video Call atau Sejenisnya

  13. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (1)
  14. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (2)
  15. Fikih Thaharah dan Shalat bagi Tenaga Kesehatan di Tengah Wabah Covid-19 (3)
  16. Bantahan atas Cocokologi ‘Arti Corona dalam al-Quran’

  17. Tata Cara Adzan Saat Darurat Covid-19

  18. Doa dan Tata Cara Qunut Nazilah dalam Kondisi Darurat Covid-19

  19. Pandemi Corona sebagai Titik Konflik Agama dan Sains

  20. Alokasi Zakat untuk Jihad Medis Melawan Covid-19

 

Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar

Dosen FAI UMSU dan Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: