Santri Cendekia
Fire
Home » Pecundang dan Pemenang Sejati (Al-Baqarah:165)

Pecundang dan Pemenang Sejati (Al-Baqarah:165)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

“Dan diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang zalim itu mengetahui ketika mereka melihat adzab (siksa), Sesungguhnya seluruh kekuatan milik Allah semuanya. Allah Maha Keras siksa-Nya.(Al-Baqarah : 165).

 

Ayat ini adalah sebuah ilmu pasti yang Allah kabarkan kepada kita tentang masa depan orang-orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah. Ini adalah sebuah kronologi yang pasti akan dijalani oleh mereka yang tidak berhasil menjalani hidup dalam nilai-nilai ketauhidan. Kesyirikan senantiasa berhasil beradaptasi dengan zaman. Itulah mengapa ayat-ayat tentang kesyirikan selalu relevan untuk didengungkan di fase zaman manapun untuk menjadi peringatan bagi manusia yang menghendaki kebahagiaan abadi di surga.

“Dan diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti mereka mencintai Allah”.

Rasulullah pernah berkata, bahwa kesyirikan itu sangat samar bagaikan semut hitam yang berada di atas batu yang hitam di tengah gelapnya malam. Salah satu faktor terbesar orang terjerumus dalam kesyirikan adalah, ketika cinta terhadap dunia melebihi cintanya kepada Allah. Karyawan yang begitu cinta kepada karirnya, akan lebih mudah menyandarkan diri terhadap atasannya. Berpikir bahwa ridho atasannya lah yang akan melancarkan rizqi dalam hidupnya.

Sampai-sampai ada sebuah kisah, seorang karyawan yang begitu rajin zahirnya dalam beribadah dan sering menjadi imam salat, suatu ketika menyuruh anak buahnya untuk meninggalkan salat Jum’at karena ada deadline pekerjaan yang harus disiapkan bagi presiden direkturnya yang notabene adalah seorang bangsa asing yang kafir. Dimana Allah? Dimana Allah ketika ridho presdirnya yang kafir itu ia kejar?

Baca juga:  Cara dan Syarat Melakukan Takhrij Hadis Online

Kisah ini bukanlah kisah hujatan untuk seseorang. Kisah ini adalah pukulan telak bagi kita, bahwa hubbuddunya (cinta dunia) adalah salah satu akar-akar kesyirikan. Karena tidak bisa dipungkiri, insan memiliki akar kata yang nisyan yang artinya adalah “lupa”. Kita mudah lupa dan tergiring oleh hiruk pikuk dunia. Lupa bahwa Allah lah yang selama ini menjamin hidup kita di dunia. Allah lah yang memberikan rizqi dan karunianya kepada kita meski kita tak meminta pada-Nya. Untuk apa buang tenaga untuk kejar ridho makhluk yang bahkan tak bisa menjamin dirinya sendiri.

Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah”,

Orang-orang beriman tidak pernah rela jika ada yang ingin menggantikan posisi Rabb-Nya dalam hidupnya. Tak terima ia julurkan lidah untuk mengemis manusia berpangkat tinggi, karena ia cinta dan hidup dalam candu ketauhidan. Kadang lebih suka ia hantarkan nyawa daripada harus hidup sebagai pecundang.

Lihat bagaimana Umayyah bin Khalaf bertekuk lutut dihadapan Bilal ra? Posisi tinggi di kaumnya, kebengisannya, siksaannya tak berhasil membuat lisan seorang sahabat mulia Bilal bin Rabah belok barang sedikit, “ahadun ahad!!”. Apakah Bilal menikmati siksaannya saat itu? Tidak, Bilal hanya sedang menikmati manisnya iman dan tidak ingin melepaskannya meski nyawanya yang harus terlepas dari jasadnya. Pecundang dan pemenang, ditentukan dari siapa yang paling teguh menempatkan Allah di hatinya.

 

Dan jika seandainya orang-orang zalim itu mengetahui ketika mereka melihat adzab (siksa), Sesungguhnya seluruh kekuatan milik Allah semuanya. Allah Maha Keras siksa-Nya”,

Dan orang-orang zalim itu, yang menyembah lagi disembah, kelak akan menggigit jari. Akhirnya mereka sadar bahwa seluruh kekuatan hanyalah milik Allah. Yang menyembah menyesal telah menghabiskan hidupnya untuk bersandar pada kayu yang lapuk dipinggir jurang. Yang disembah apatah lagi, pucat pasi tak berdaya ketika tahu bahwa kekuatan yang selama ini digunakannya untuk mencari banyak pengikut, ternyata hilang tak bersisa. Sungguh ayat ini, “Anna al quwwata lillahi jami’an” adalah jargon bagi mereka yang tertindas. Jargon bagi mereka yang konsisten memandang rendah terhadap para tiran yang hendak mengambil hak Allah di dunia. Jargon bagi mereka yang lehernya kaku tak dapat menunduk ketika bertatap wajah dengan para penguasa zalim. Jargon bagi mereka yang jiwanya dipenuhi oleh cahaya tauhid. Namun jargon tersebut juga ancaman dan peringatan bagi mereka yang merasa telah berhasil mengangkangi dunia dengan kuasanya. Ancaman bagi mereka yang candu akan ketundukan dan pemujaan manusia kepadanya. Lalu, Allah ‘azza wa jalla menutup ayat ini dengan sebuah ancaman, “Allah Maha Keras siksa-Nya”. Siksa Allah begitu keras dan kuat, tidak akan ada jeda, tidak ada ampun. “Masuklah kamu (ke dalam neraka), maka bersabar atau tidak itu sama saja bagi kamu” – At-Thur:16.

Baca juga:  Mengenal Pendekatan Kontekstualisme ala Abdullah Saeed (1)

 

Allahua’alam bishshawab.

 

 

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar