Santri Cendekia
Home » Peduli dengan Palestina, tapi tidak dengan Rohingya? Aneh!

Peduli dengan Palestina, tapi tidak dengan Rohingya? Aneh!

Dunia telah menyaksikan banyak contoh konflik dan krisis kemanusiaan yang seakan sulit memudar. Salah duanya ialah krisis Palestina di Timur Tengah dan Rohingya di Myanmar. Keduanya telah mendapat perhatian besar karena sifatnya yang berlarut-larut dan penderitaan masyarakat sipil yang tak kunjung berakhir. Di sinilah alasan mengapa empati terhadap Rohingya harus sekuat dengan perhatian kita terhadap Palestina.

Beberapa pengamat menyebut kondisi Rohingya saat ini sebagai “The Palestinianization of the Rohingya Crisis”. Istilah ini menggambarkan warga Rohingya telah menjadi sasaran penganiayaan, kekerasan, pogrom dan pembersihan etnis yang disponsori negara, serta genosida di tanah air mereka sendiri. Ada pula yang menyebut Rohingya sebagai “the new Palestinians” karena mereka terjebak dalam krisis yang berkepanjangan dan semakin terabaikan. Karena itulah, aneh rasanya bila berempati pada Palestina tapi malah abai terhadap Rohingya.

Baik Rohingya maupun Palestina memiliki sejarah yang cukup panjang. Keduanya hidup dalam bayang-bayang ketidakstabilan politik, diskriminasi, dan marginalisasi. Rohingya merupakan etnis minoritas yang tinggal di Rakhine, Myanmar. Mereka telah mengalami penindasan sistemik: pemerintah menolak status kewarganegaraan Rohingya sejak Undang-Undang Kewarganegaraan 1982. Begitu pula dengan Palestina yang telah mengalami pengusiran sejak pendirian negara Israel pada tahun 1948. Hal ini mengakibatkan ratusan ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggalnya.

Kesamaan mencolok antara Rohingya dan Palestina adalah pengusiran paksa yang mereka alami. Rohingya telah menghadapi beberapa gelombang eksodus massal akibat serangan militer kejam, seperti krisis tahun 2017 yang menyebabkan sekitar 1 juta Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Palestina juga telah mengalami beberapa gelombang pengusiran, dimulai dengan Nakba pada tahun 1948, yang mengakibatkan pengusiran ratusan ribu warga Palestina dari rumah mereka dan pendirian kamp pengungsi di negara-negara tetangga.

Saat ini, Rohingya dan Palestina menghadapi tantangan signifikan dalam upaya mereka untuk mendapatkan kemerdekaan dan penentuan nasib sendiri. Rohingya, meskipun telah lama hadir di Myanmar, telah ditolak kewarganegaraannya sehingga mereka tidak mendapatkan akses ke layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Demikian pula, Palestina telah berjuang untuk mendirikan negara yang independen, terutama karena pendudukan Israel atas tanah Palestina, pembangunan pemukiman Israel ilegal di tanah Palestina, dan ketidakmampuan komunitas internasional untuk turun tangan dan memediasi secara efektif resolusi akhir konflik.

Baca juga:  Wacana Mobilisasi Hamas: Mujahidin-Nasionalis

Menurut Azeem Ibrahim, kedua kelompok ini memiliki sejarah bersama dari pengucilan setelah runtuhnya pemerintahan kolonial dan rezim imperial. Di Myanmar dan Israel, pemerintah telah berupaya untuk mencabut paksa mereka dari tanah-tanah sendiri, menjadikan kedua bangsa manusia ini sebagai orang asing tanpa klaim sah. Dengan menulis ulang narasi sejarah mereka oleh pihak yang berkuasa, kedua kelompok yang teraniaya ini dianggap sebagai etnis yang tidak ada, pengganggu, dan bar-bar.

Justifikasi agama juga telah digunakan untuk mendukung penindasan kedua kelompok ini. Pemerintah Myanmar memberdayakan faksi nasionalis Buddha yang mempromosikan genosida terhadap Rohingya yang tak berdaya; sementara pemerintah Israel memberdayakan faksi nasionalis Yahudi yang mendukung pembersihan etnis terhadap Palestina.

Baik Rohingya maupun Palestina menghadapi pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Rohingya dilaporkan menjadi korban berbagai tindakan pembunuhan di luar hukum, kekerasan seksual, dan penghancuran rumah dan desa mereka. Palestina juga mengalami berbagai pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembatasan pergerakan, konfiskasi tanah, dan insiden kekerasan. Pelanggaran-pelanggaran ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan intervensi internasional dan perlindungan hak asasi manusia bagi kedua komunitas ini.

Rohingya dan Palestina memiliki beberapa kesamaan dalam konteks sejarah mereka, pengusiran paksa, dan perjuangan untuk hidup mandiri. Kedua komunitas ini telah menanggung konflik berkepanjangan, menghadapi pelanggaran hak asasi manusia yang serius, dan mencari pengakuan serta keadilan. Hanya melalui upaya bersama kita dapat berharap mengakhiri penderitaan mereka dan menjamin masa depan yang lebih damai dan adil bagi kedua komunitas yang paling terpinggirkan di dunia ini.

Sayangnya, perbedaan perlakuan terhadap kelompok Rohingya dan Palestina di media sosial terlihat begitu jelas. Meskipun mereka sepenuhnya mendukung perjuangan Palestina, ada ketidaksetaraan dalam bagaimana mereka berempati dan peduli dengan Rohingya. Lebih mengerikan lagi ialah adanya hasutan kebencian terhadap kelompok Rohingya dari para influencer di sosial media.

Baca juga:  Debat Karet Tentang Toleransi

Padahal kedua komunitas ini memiliki kesamaan yang mendasar, yakni keduanya adalah umat Islam. Meskipun perbedaan konteks dan latar belakang sejarah, solidaritas antara umat Islam seharusnya menjadi pilar utama dalam menanggapi krisis kemanusiaan yang mereka hadapi. Sebagai satu umat yang bersatu, Umat Islam di seluruh dunia memiliki tanggung jawab moral untuk bersatu dalam mendukung saudara-saudara seiman, terlepas dari asal usul atau latar belakang etnis.

Melalui solidaritas yang kuat, umat Islam dapat menunjukkan kepada dunia bahwa kemanusiaan lebih besar daripada perbedaan politik atau etnis. Dalam menghadapi ketidakadilan, diskriminasi, dan penderitaan, panggilan untuk persatuan umat Islam menjadi semakin mendesak. Seharusnya, sebagai satu umat, mereka berdiri bersama untuk mengakhiri krisis di Rohingya dan Palestina, menciptakan masa depan yang lebih adil dan damai bagi mereka yang telah lama menderita.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar