Santri Cendekia

Pelajaran Berharga dari Madrasah Zoe’amaa dan Za’imaat Muhammadiyah

Ada dua lembaga kaderisasi ulama cum umara yang hilang dalam lintasan sejarah Muhammadiyah (dan ‘Aisyiyah). Dua lembaga itu bernama Madrasah Zoe’amaa dan Madrasah Za’imaat. Yang pertama merupakan lembaga kader khusus laki-laki yang tujuannya mencetak para ulama dan pemimpin (umara), baik pemimpin secara umum maupun pemimpin persyarikatan. Sebagian lulusan Madrasah Zoe’amaa ini bukan orang sembarangan. Konon ulama seperti Kyai Hasan Basri dan KH Ahmad Azhar Basyir (mantan ketua umum Muhammadiyah) adalah alumni madrasah ini. Adapun yang kedua, Madrasah Za’imaat, adalah lembaga kaderisasi ulama cum umara yang memang diperuntukkan khas untuk perempuan.

Dua lembaga pendidikan ini setingkat sekolah menengah pertama dan menengah atas. Madrasah Zoe’amaa masa studinya 6 tahun; Madrasah Za’imaat 5 tahun. Keduanya khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam tingkat lanjut (advanced Islamic studies). Bukan lagi sekadar ilmu agama Islam dasar (basic Islamic studies).

Gambar 1. Informasi mengenai sekolah-sekolah yang dikelola oleh Madjlis Pengajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah di wilayah Yogyakarta. Di antaranya ialah Madrasah Zoe’amaa dan Za’imaat Muhammadiyah. Sumber: Soeara Moehammadijah, tahun 1941.

Jika Madrasah Za’imaat dapat dilacak perkiraan tahun berdirinya, berbeda dengan Madrasah Zoe’amaa. Meskipun demikian tampaknya Madrasah Zoe’amaa berdiri lebih awal, jika melihat pada Gambar 2 di bawah ini. Di gambar tersebut sudah disebutkan ada semacam Commissie Madrasah Zoe’amaa Muhammadiyah. Commisie ini lalu membentuk Madrasah Za’imaat. Madrasah Za’imaat berdiri kurang lebih sekitar tahun 1937. Kesimpulan ini memang perlu dipastikan lebih jauh. Kesimpulan ini hanya berdasarkan perkiraan tahun pembukaan pertama masa pendidikan, yaitu Agustus 1937. Adapun tahun berakhirnya Madrasah Za’imaat belum terlacak. Sedangkan Madrasah Zoe’amaa tahun berdiri dan berakhirnya secara pasti sama-sama belum terlacak. Khususnya oleh penulis.

Gambar 2. Informasi mengenai pembukaan Madrasah Za’imaat pada tahun 1937. Sumber: Soeara Moehammadijah, tahun 1937.

Ada harapan sesungguhnya untuk melacak sejarah kedua lembaga pendidikan kader ulama sekaligus umara milik Muhammadiyah tersebut. Saat penulis menimba ilmu di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Pimpinan Pusat Muhamamdiyah di Yogyakarta, ada seorang dosen yang dalam kuliahnya sering kali menyinggung kedua madrasah ini. Beliau adalah ustaz Fahmi Muqoddas.  Kini beliau adalah ketua BPH PUTM dan salah satu wakil ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Paparannya waktu itu sangat rinci dan mendalam. Mungkin karena mudir atau direktur dari Madrasah Zoe’amaa itu pernah dijabat oleh ayah beliau, kyai Muqoddas Syuhada. Tapi daya ingat atas momen-momen historis memang salah satu kelebihan ustaz Fahmi Muqoddas. Pernah suatu ketika beliau menceritakan dengan fasih hubungan kakek beliau dengan sesepuh dan kyai di pondok pesantren MWI Kebarongan, Banyumas, di mana penulis juga merupakan alumninya.

Baca juga:  Empat Alasan Mengagumi Gus Mus

Kembali pada Madrasah Zoe’amaa dan Za’imaat. Menelusuri sejarah dua madrasah tersebut menurut penulis penting untuk dilakukan karena beberapa hal. Pertama, membangun kesadaran sejarah pentingnya kaderisasi ulama (dan umara) di Muhammadiyah. Seperti diketahui, oleh beberapa kalangan baik internal maupun eksternal, Muhammadiyah dianggap organisasi keagamaan yang minim – untuk tidak mengatakan tidak ada – ulama. Muhamamdiyah seolah tidak memikirkan bagaimana melahirkan generasi penerus yang mampu memiliki kapasitas kepribadian dan keilmuan agama yang mumpuni. Dengan adanya fakta dua madrasah ini, sekaligus fakta-fakta lain tentang lembaga kaderisasi ulama di Muhammadiyah, menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak tinggal diam dalam upayanya melahirkan generasi ulama.

Kedua,  merevitalisasi peran lembaga pendidikan ulama di Muhammadiyah. Hilangnya dua madrasah ini dalam lintasan sejarah persyarikatan Muhammadiyah adalah pelajaran berharga untuk generasi penerus agar lebih memusatkan perhatian dan fokus pada kaderisasi ulama. Jika dibandingkan antara lembaga pendidikan yg concern terhadap kaderisasi ulama, dengan sekolah dan atau perguruan tinggi milik Muhammadiyah, maka akan dijumpai ketimpangan yang cukup tajam.

Dari segi kuantitas, lembaga pendidikan yang berorientasi pada kaderisasi ulama bisa dihitung jari. Untuk menyebut permisalan adalah PUTM dan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran. Belum lagi jika kita berbicara soal kualitas sarana dan prasarana. Jika kita tidak memberikan perhatian pada lembaga pendidikan kader ulama Muhammadiyah yang masih eksis, tidak menutup kemungkinan nasib mereka akan menyusul seperti takdir dua madrasah yang telah disinggung di awal; Madrasah Zoe’amaa dan Madrasah Za’imaat.

“Jika kita tidak memberikan perhatian pada lembaga pendidikan kader ulama Muhammadiyah yang masih eksis, tidak menutup kemungkinan nasib mereka akan menyusul seperti takdir dua madrasah yang telah disinggung di awal; Madrasah Zoe’amaa dan Madrasah Za’imaat.”

Catatan: 

* Terimakasih kepada ustaz Adlan Ryan Habibie yang telah menyinggung soal Madrasah Zoe’amaa pada kolom komentar  di tulisan berjudul PUTM dan Kaderisasi Ulama: Menelusuri Latar Belakang Lahirnya Lembaga Kaderisasi Ulama Muhammadiyah.  Komentar tersebut telah menginsipasi penulis untuk menelusuri data-data terkait madrasah tersebut di dokumen-dokumen lawas. Dalam majalah Suara Muhammadiyah tahun-tahun awal, dua madrasah, yaitu Zoe’amaa dan Za’imaat beberapa kali disinggung di sana. Dua gambar di atas merupakan sebagian dari catatan yang ada dalam majalah Suara Muhammadiyah. 

**Artikel ini hanya sekadar pemantik, terutama untuk para pengkaji sejarah, agar dapat menindaklanjuti lebih jauh. Karenanya data dalam artikel ini masih sangat minim dan perlu elaborasi lebih lanjut.

Niki Alma Febriana Fauzi

Kepala Pusat Tarjih Muhammadiyah

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: