Santri Cendekia
Home » Pembaruan Kurikulum Pendidikan Tradisional al-Azhar Mesir (1)

Pembaruan Kurikulum Pendidikan Tradisional al-Azhar Mesir (1)

Dunia pendidikan kepesantrenan di Indonesia sering kali dihadapkan pada dilema yang tidak sederhana terkait dengan pengajaran materi keislaman. Saya menyebutnya sebagai dilema epistemik dan pedagogik sekaligus. Dilema tersebut mencakup pertanyaan semisal: dari sumber mana pengajaran keislaman kepada santri-santri diambil? Apakah pihak pesantren menggunakan karya-karya yang telah mapan dalam tradisi intelektual Islam klasik, yang sering disebut dengan turas, atau menggunakan buku-buku modern?

Sependek pengalaman dan pengamatan saya pribadi, ada empat model yang kemudian berkembang di tengah pesantren di Indonesia. Pertama, pesantren murni menggunakan kitab-kitab turas untuk semua mata pelajaran. Kedua, pesantren menyerap substansi turas dan kemudian membahasakan ulang dengan bahasa Arab yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Ketiga, pesantren menggunakan turas untuk mata pelajaran tertentu dan menggunakan buku modern untuk mata pelajaran yang lain. Keempat, pesantren menggunakan turas dan buku modern yang diajarkan secara kombinatif kepada para santri. Untuk yang disebutkan terakhir ini misalnya, untuk mata pelajaran fikih, pesantren mengajarkan fikih Syafii Fathul Qarib dan katakanlah kitab pengantar yang ditulis oleh ustaz pesantren sendiri.

Jika pilihan yang diambil pesantren adalah menggunakan kitab turas, maka dilema selanjutnya adalah bagaimana mengajarkan materi yang berasal dari masa lalu tersebut, mengingat banyak istilah yang sudah sangat asing dan konten yang sering kali juga tidak lagi kontekstual di zaman sekarang? Mengajar dengan turas mungkin bisa dilakukan, tetapi konsekuensinya mata pelajaran ilmu alat harus diperbanyak yang akhirnya mengurangi porsi mata pelajaran umum. Sebaliknya, jika pilihannya menggunakan buku pengantar keislaman modern, maka implikasinya adalah para santri akan teralienasi dari wawasan intelektual Islam masa lalu. Bagaimana menjembatani dan menavigasi problem ini? Ini bukan pertanyaan mudah yang bersifat tehnikal semata, tetapi juga epistemik.

Dilema yang sama juga sebenarnya bisa dijumpai pada tingkat perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam. Pertanyaan yang sering mengemuka di kalangan dosen adalah: di tengah membanjirnya sumber pengetahuan modern, seberapa pentingkah menggunakan turas untuk aktivitas pengajaran di universitas? Jika dunia kepesantrenan saja kesulitan menyampaikan konten turas kepada santri padahal sehari-hari mereka intens belajar bahasa Arab, bagaimana dengan perguruan tinggi, yang sering kali mahasiswanya berasal dari lembaga pendidikan menengah yang tidak mengajarkan bahasa Arab?

Pertanyaan yang lebih substantif terkait dengan dilema bahan ajar ini adalah: bagaimana membangun kurikulum yang bisa menjaga keseimbangan antara penguasaan terhadap teks-teks klasik dan pemahaman isu-isu kontemporer?

Baca juga:  Tanwir Aisyiyah; Bukan Soal Poligami!

Menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tentu tidak mudah. Lembaga pendidikan dan sosok pendidik dihadapkan pada dilema antara idealita dan realita. Jawaban terhadap pertanyaan di atas juga sangat bergantung kepada visi keilmuan dan filsafat pendidikan yang diyakini dan diikuti.

Satu hal yang ingin saya sampaikan terkait dengan ini adalah ternyata pertanyaan dilematis mengenai kurikulum dan bahan ajar tidak hanya isu yang dihadapi oleh dunia pendidikan Islam di Indonesia. Bahkan al-Azhar di Mesir, lembaga pendidikan yang dikenal sebagai bastion of islamic tradition (benteng pertahanan ilmu-ilmu keislaman), yang usianya sudah satu milenium lebih, juga berjibaku dengan dilema yang sama. Bagaimana al-Azhar menghadapi dilema ini? Apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman al-Azhar?

Tulisan ini disusun untuk menggambarkan bagaimana al-Azhar menjaga keseimbangan antara keberlanjutan tradisi intelektual Islam di satu sisi dan pembaruan atau penyesuaian dengan kemodernan di sisi  lain, khususnya pada bidang pengajaran. Tulisan ini menjelaskan tentang bagaimana lembaga pendidikan Islam tertua ini mempertahankan tradisi intelektual dari masa lalu, tetapi tetap bisa memasukkan unsur perubahan di dalamnya.

Dengan tulisan ini, saya tidak bermaksud menyatakan bahwa praktek al-Azhar sudah ideal atau sebaliknya, praktek yang buruk. Dengan tulisan ini, saya juga tidak bermaksud meletakkan praktek pesantren-pesantren di Indonesia dalam menegosiasikan kitab kuning dan ilmu modern kurang inspiratif dan kalah dari al-Azhar. Sama sekali tidak.

Tulisan ini semata-mata bersifat deskriptif dan informatif, ditulis agar kita memiliki referensi terkait dengan pengalaman di tempat lain yang mungkin berharga untuk menjadi bahan merefleksikan pengalaman kita masing-masing. Lebih dari itu, tulisan ini disusun untuk memberikan inspirasi terkait dengan bagaimana riset di dunia kepesantrenan dapat dilakukan.

Sudut pandang sosial humaniora dikaitkan dalam tulisan ini, terutama untuk melihat dialektika para aktor dari luar dan dalam khususnya terkait proses mempertahankan dan memperbarui tradisi masa lalu al-Azhar. Secara khusus, isu sosial politik yang terkait adalah: bagaimana tekanan dari penguasa dan stereotip dari intelektual liberal turut memotivasi proses pembaruan tradisi di al-Azhar ini?

Baca juga:  Mentafakkuri punahnya Wabah di Masa 'Amru bin Ash

Tulisan ini disusun dengan menggunakan data yang diajukan oleh penulis yang bernama Attia Omara yang berasal dari Mesir dan saat ini berdiaspora di Amerika Serikat. Tulisan nya tentang pembaruan kurikulum al-Azhar ini berasal dari proyek tesis master nya yang diajukan di the University of Texas di kota Austin. Karya ini sederhana, mengkaji topik pendidikan Islam dengan ruang lingkup yang terbatas, yaitu pembaruan kurikulum mata pelajaran fikih Syafii dan pengenalan mata pelajaran baru yaitu Tsaqafah Islamiyyah untuk tingkat Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA). Tapi sekalipun singkat, tulisan ini hemat saya cukup membuka mata tentang proses transformasi epistemik yang tengah terjadi di menara ilmu dan pusat tradisi Islam tersebut.

Sejarah Pembaruan Pendidikan al-Azhar

Dalam sejarah Mesir modern, pendidikan Islam disediakan utamanya oleh tiga institusi, yaitu: pendidikan swasta, Darul Ulum, dan al-Azhar. Ketiga jenis lembaga ini sama-sama mencetak guru agama dan bahasa Arab, penceramah, dan imam masjid. Al-Azhar dan Darul Ulum memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama lembaga pendidikan negeri. Bedanya adalah Darul Ulum berada di bawah kementerian pendidikan, sementara al-Azhar bersifat independen dan mengatur dirinya sendiri. Al-Azhar sudah berdiri sejak tahun 972 sementara Darul Ulum baru berdiri tahun 1871 sebagai upaya menstimulasi pembaruan al-Azhar dari luar.

Dalam sejarah al-Azhar di masa lalu, pengajaran mengandalkan sistem ruwaq (pojok-pojok masjid untuk halaqah). Dalam sistem ini para guru mendidik murid-muridnya sampai mereka berhak mendapatkan ijazah untuk mengajar (license). Setiap provinsi di Mesir dan setiap negara asal murid memiliki ruwaqnya sendiri-sendiri di kompleks masjid. Di ruwaq ini, mereka belajar, makan, sampai tinggal di situ. Sistem ruwaq ini terbukti mampu menampung banyak pelajar. Dalam catatan sejarah misalnya, pada tahun 1876 total ada 10.780 pelajar di al-Azhar. Pada tahun 1892, muncullah ketentuan bahwa masa belajar di ruwaq ini sampai mendapat ijazah adalah selama tiga belas tahun.

Sistem ruwaq pada awalnya adalah satu-satunya sistem yang ada dan dipakai di al-Azhar. Pada tahun 1930, Raja Fuad kemudian melakukan reformasi dengan mendirikan Universitas al-Azhar dan Ma’ahid Azhariyyah. Pembelajaran resmi al-Azhar dipindahkan dari masjid ke ruang-ruang kelas.

Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1961. Pada tahun ini terjadi modernisasi dan reformasi besar-besaran di al-Azhar yang diterapkan pemerintah secara top down. Pada tingkat perguruan tinggi, didirikan fakultas kedokteran, perdagangan, tehnik, dan pertanian. Pada tingkat pendidikan pra universitas, dibuat pembagian jenjang pendidikan menjadi pendidikan dasar, menengah, dan atas. Pendidikan dasar berlangsung selama enam tahun, pendidikan menengah pertama selama tiga tahun, dan pendidikan menengah ke atas selama lima tahun. Pada tahun 1998 masa studi di tingkat menengah atas ini kemudian dikurangi menjadi tiga tahun.

Baca juga:  Lagu Aisyah Katanya Kurang Sopan, Masa sih?

Kebijakan pemerintah lainnya untuk memodernisasi al-Azhar adalah memasukkan mata pelajaran umum pada tingkatan ma’ahid. Ini dilakukan agar pendidikan al-Azhar mendapatkan akreditasi dan alumni nya sejajar dengan keluaran lembaga pendidikan umum non al-Azhar. Sebagai konsekuensi dari kebijakan memasukkan mata pelajaran umum adalah pengurangan mata pelajaran islamic studies secara signifikan.

Hal yang unik dari pendidikan di al-Azhar adalah sejak awal berdiri nya, sekolah-sekolah al-Azhar terus menggunakan turas sebagai bahan ajar. Perubahan baru terjadi pada tahun 1996. Setelah naiknya Syaikh Tantawi sebagai syaikh Azhar, ia membuat kebijakan baru, yaitu mengganti bahan ajar turas dengan buku-buku modern yang disusun dengan bahasa yang lebih mudah untuk pendidikan tingkat menengah. Pada bidang fikih secara khusus, ia menghapuskan kebijakan pengajaran fikih empat mazhab. Sebagai gantinya, ia menulis buku sendiri untuk murid-murid al-Azhar. Untuk pengajaran fikih di tingkat menengah pertama, syaikh Tontowi mengarang buku berjudul al-Fiqh al-Muyassar. Untuk menengah atas, ia mengarang buku berjudul al-Wasit fi al-Fiqh.

Kurikulum fikih syaikh Ṭanṭāwī yang disederhanakan ini tidak diterima oleh banyak ulama senior, termasuk syaikh Aḥmad al-Ṭayyib. Oleh karena itu, ketika diangkat menjadi pemimpin tertinggi lembaga ini pada tahun 2010, di antara hal pertama yang ia lakukan adalah menganulir pengajaran kitab-kitab fikih baru Syaikh Tantawi dan kembali mengajarkan fikih empat mazhab dengan menggunakan kitab-kitab turas. Konon reformasi syaikh Tayyib ini berdampak positif pada ma’ahid al-Azhar, di mana terjadi peningkatan signifikan dalam jumlah siswa yang mendaftar di al-Azhar di tahun-tahun selanjutnya.

Demikianlah gambaran umum mengenai berbagai kebijakan reformasi pendidikan dan kurikulum di al-Azhar. Tulisan ini selanjutnya akan menjelaskan tentang kebijakan pembaruan kurikulm di zaman Syaikh Ahmad Tayyib secara spesifik.

Avatar photo

Muhamad Rofiq Muzakkir

Direktur Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar