Santri Cendekia
Cairo, Egypt
Home » Pembaruan Kurikulum Pendidikan Tradisional al-Azhar Mesir (2)

Pembaruan Kurikulum Pendidikan Tradisional al-Azhar Mesir (2)

Di bagian sebelumnya, saya telah menceritakan berbagai dilema dalam kurikulum pendidikan, terutama terkait pengajaran materi turas. Saya juga telah menggambarkan berbagai proses pembaruan yang dilakukan di al-Azhar. Pada bagian ini saya akan menggambarkan faktor eksternal yang menyebabkan proyek pembaruan turas digencarkan di al-Azhar dan paradigma pembaruan yang dikembangkan oleh syaikh Ahmad Tayyib, pemimpin tertinggi al-Azhar hari ini.

Pandangan Sinis kepada Turas

Paska huru-hara politik di Mesir yang terjadi tahun 2011 sampai 2013, diskusi tentang pendidikan agama semakin intens diperbicangkan di publik. Al-Azhar dengan kurikulum pendidikan nya termasuk lembaga yang menjadi sorotan. Di antara yang menjadi pertanyaan banyak intelektual adalah apa yang menyebabkan meningginya tingkat kekerasan, ekstremisme, dan intoleransi di Mesir? Beberapa pihak ada yang langsung menunjuk hidung al-Azhar secara tendensius. Mereka menuduh bahwa konten pendidikan al-Azhar yang berasal dari pemikiran Islam abad pertengahanlah yang bertanggungjawab terhadap munculnya perilaku radikal. Kurikulum al-Azhar yang berdasarkan turas bagi mereka ini mengandung pokok-pokok ide yang merendahkan pengikut agama lain, termasuk mengandung pikiran-pikiran misoginis yang merendahkan perempuan.

Para aktivis dan jurnalis berbondong-bondong menulis opini di koran dan tampil di TV dengan satu tuduhan bahwa pendekatan pendidikan al-Azhar tidaklah moderat. Seorang komentator misalnya mengkritik buku fikih mazhab Syafii al-Azhar yang melarang muslim mengucapkan selamat kepada non muslim di hari raya mereka sebagai ajaran yang tidak lagi tepat. Ia menyalahkan al-Azhar karena telah mempromosikan konten pendidikan yang kental dengan nuansa sektarian nya. Secara khusus para komentator mengkritik konten turas tentang topik perbudakan, perang, jizyah, dan topik-topik mengenai hubungan lintas agama. Menariknya, kritik terhadap al-Azhar tidak hanya berasal dari kelompok pemikir liberal, tetapi langsung dari presiden Mesir sendiri, yaitu al-Sisi. Dalam sebuah kesempatan di pidatonya di tahun 2015, ia meminta agar otoritas al-Azhar mengubah diskursus keagamaan agar sesuai dengan kemajuan zaman dan tidak menyebabkan lahirnya ekstremisme di Mesir.

Hemat saya, diskusi publik di Mesir antar berbagai pihak tentang penyebab intoleransi dan ekstrimisme adalah sesuatu yang sehat sebenarnya. Tapi yang paling ironi adalah semua pihak yang berdiskusi, termasuk al-Azhar sendiri yang menjadi kambing hitam, tidak ada yang berani menyebut elephant in the room. Tidak ada satu pun yang membuat analisa bahwa ekstremisme lahir karena otoritarianisme penguasa, tingginya angka kemiskinian, ketimpangan ekonomi, dan korupsi pejabat negara. Saya merasa ini suatu analisa yang tidak fair. Semuanya bisa disalahkan, termasuk pemikiran dan lembaga keagamaan juga bisa salah. Hanya penguasa yang tidak bisa disalahkan.

Baca juga:  Jangan Jadi Mahasiswa Salah Orientasi!

Kritik-kritik kepada al-Azhar pada dasarnya juga sesuatu yang sehat. Kritik dapat menjadi momen bagi al-Azhar untuk berbenah diri. Toh perubahan bukan sesuatu yang asing dalam sejarah al-Azhar. Ia telah terjadi dari dulu dan dari masa ke masa. Tapi kesadaran untuk berbenah diri juga semestinya harus dimiliki pihak-pihak lain pula. Kelompok elit dari kelas ekonomi menengah ke atas juga harus mengkritik diri sendiri. Jangan-jangan gaya hidup yang lavish dan sekuler merekalah yang justru melahirkan perilaku ekstrem di kalangan akar rumput.

Menyalahkan al-Azhar semata-mata dan menuntutnya untuk mereformasi diri untuk isu radikalisme menurut saya sama artinya dengan membereskan masalah bukan dari hulunya dan tidak holistik. Pandangan keagamaan ekstrem bisa jadi lebih banyak ditentukan oleh kemarahan dan rasa frustasi masyarakat terhadap situasi sosial ekonomi politik yang tidak memberikan keadilan, ketimbang konten pendidikan dari masa lalu yang ada di kitab-kitab turas.

Kembali ke topik utama, bagaimana reaksi al-Azhar sendiri ketika diserang bertubi-tubi oleh para pemikir liberal bahkan presiden Mesir? Al-Azhar yang dipimpin oleh Syekh Tayyib melancarkan sejumlah agenda pembaruan kurikulum, di antaranya adalah dengan merumuskan ulang konten fikih dan menyusun mata pelajaran baru yang disebut dengan mata pelajarah Tsaqafah Islamiyyah yang esensinya terkait dengan doktrin wasatiyyah, keamanan negara, dan persatuan nasional. Ini terkait dengan pendidikan menengah. Sedangkan terkait pendidikan tinggi, syaikh al-Azhar menghidupkan kembali dan mendorong proliferasi halaqah-halaqah di masjid untuk mengkaji turas.

Tulisan ini hanya akan fokus terkait upaya memperbarui konten fikih pada jenjang pendidikan menengah, khususnya dari mazhab Syafii. Isu yang lain berada di luar perhatian dari tulisan ini. Hemat saya, riset utuh terkait dengan upaya tajdid turas di al-Azhar masih sangat diperlukan. Salah satu riset yang sudah ada dan dalam proses penerbitan adalah karya peneliti di Harvard yang mengkaji pemikiran syaikh Ali Jumah. Mudah-mudahan bisa segera terbit dan bisa kita baca bersama-sama.

Baca juga:  Ini Tema-tema yang Akan Digodog di Munas Tarjih 2020

Pembaruan di al-Azhar

Syaikh Tayyib di samping menerapkan dan membuat kebijakan teknis, juga meletakkan pondasi dasar tentang perlunya dilakukan pengembangan kurikulum. Ia menulis sejumlah karya terkait dengan isu tajdid. Secara umum dapat digambarkan bahwa bagi syaikh Tayyib, pembaruan itu adalah suatu kepastian dalam sejarah. Pembaruan dilakukan dengan memperhatikan aspek preservasi atau konservasi nilai-nilai lama dan penambahan nilai-nilai baru yang relevan. Oleh karena itu, pembaruan menurutnya harus memperhatikan pembedaan antara prinsip-prinsip yang tetap (tsawabit) dan yang hal-hal yang dapat berubah dalam agama (mutaghayyirāt). Dimensi yang tidak mungkin berubah baginya adalah dimensi akidah, ibadah, dan akhlak.

Ia juga menambahkan bahwa turas adalah fondasi penting bagi perjalanan sejarah manusia. Turas harus selalu menjadi pijakan dalam langkah ke depan. Dalam sebuah kesempatan konferensi tentang tajdid di tahun 2020, syaikh Tayyib pernah menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap gagasan rektor Universitas Kairo yang memahami tajdid sebagai tindakan membuat bangunan baru. Bagi syeikh Tayyib, tajdid harus berpijak pada bangunan lama, yaitu turas. Terkait dengan gagasan ini, syaikh Tayyib membuat upaya ril di lingkup al-Azhar, yaitu mendirikan pusat studi tersendiri yang ia namai Markaz al-Azhar li al-Turas wa al-Tajdid.

Namun ia juga mengingatkan bahwa berpijak pada masa lalu bukan berarti turas above criticism (tidak bisa dikritik). Ia bisa dikritik dan diperbarui, tetapi yang harus dicatat adalah memperbaruinya harus dilakukan oleh orang-orang yang berkualifikasi. Mereka harus orang-orang yang menguasai ilmu manqul (pengetahuan tekstual) dan ilmu ma’qul (pengetahuan rasional). Oleh karena itu, pembaruan turas harus terprogram dengan baik.

Terkait dengan ini, syaikh Tayyib mendirikan dua lembaga pengembangan kurikulum, yaitu: al-Lajinah al-Ulya li Islah al-Ta’lim (Komite Tertinggi Reformasi Pendidikan) dan Lajnah I’dad wa Tatwir al-Manāhij (Komite untuk Persiapan dan Pengembangan Kurikulum). Kedua komite ini diisi oleh para spesialis di bidang masing-masing dan ahli-ahli pendidikan.

Baca juga:  Media Barat Munafik, Piala Dunia Qatar 2022 Terbaik Sepanjang Sejarah!

Langkah teknis dalam memperbarui kurikulum al-Azhar, khususnya dalam pengajaran fikih, akan saya gambarkan di bagian selanjutnya.

Avatar photo

Muhamad Rofiq Muzakkir

Direktur Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar