Santri Cendekia
gambar milik CBS News
Home » Penembakan Orlando, Mimpi Buruk Baru Muslim Amerika?

Penembakan Orlando, Mimpi Buruk Baru Muslim Amerika?

Di saat kita di tanah air sibuk berdebat ria soal puasa dan hormat menghormati (perdebatan bermutu tinggi itu) dunia tiba-tiba diguncang sebuah pembantaian mengerikan di Orlando, Amerika Serikat. Sebenarnya pembantaian ini tak berarti di depan keganasan perang Syiria. Hanya saja media memberitakannya cuma sebagai perpindahan pion-pion politisi di Timur Tengah, serta sederet statistik angka tewas di sela-selanya. Tak ada efek shock seperti peristiwa Orlando ini.

Jika saja pelakunya adalah seorang begundal  kulit putih seperti Robert Lewis Dear atau Dylann Storm Roof, tentu beritanya tidak akan sampai di televisi kita di Indonesia.  Peduli apa orang Indonesia pada kasus Robert Lewis Dear, ia hanyalah seorang Kristen ekstrimis yang menembaki klinik KB (planned parenthood) sebab menganggapnya tidak sesuai keinginan Tuhan. Apalagi Roof, pemuda rasis yang memberondong orang-orang kulit hitam di sebuah gereja. Mereka semua bukan teroris. Tapi kasus Orlando ini beda, pelakunya berwajah Arab bernama Omar Mateen, wah, pas sudah. Kasus teroris baru!

Sentimen semacam itu jualah yang tumbuh subur di Amerika saat ini. Imaji ketakutan pada Islam dan Muslim pun kembali diperbaharui. Donald Trump buru-buru merayakannya bahkan sampai meminta Obama mundur. Tapi sebesar apa ketakutan baru warga Amerika dan Barat secara umum, tidak akan lebih besar dari kekhawatiran yang dirasa oleh komunitas Muslim yang hidup di sana.

 Mimpi buruk baru sepertinya kembali dimulai. Apalagi peristiwa ini telah didaulat sebagai “insiden penembakan terburuk dalam sejarah Amerika” Entahlah, mungkin “todler shooting” dimana  23 orang meninggal karena tak sengaja ditembak oleh bayi akibat buruknya kontrol senpi di sana dianggap tidak buruk sama sekali. Bulan madu kemesraan komunitas Muslim dan warga secara umum dalam mengenang Muhammad Ali seperti sirna begitu saja. Bibit Islamofobia yang sempat tertekan itu perlahan menyeruak keluar.

Pundit-pundit konservatif dengan corong semacam Fox News mulai memainkan kartunya; blame the Muslims. Jika peristiwa Orlando dianggap insiden penembakan terburuk, tentu reaksi otoritas AS pun harusnya lebih tegas. Kemungkinan terburuk adalah kembalinya kebijakan-kebijakan diskriminatif yang dulu dipicu fitnah 11 September. Bukan cerita baru jika ada orang bertampang Arab (meski bukan Muslim) dipersulit di fasilitas umum. Bahkan beberapa waktu lalu pramugari menolak memberi seorang Muslimah minuman kaleng sebab ia merasa si Muslimah akan menjadikannya bom. Ketka ia proters, penumpang lain justru menyuruhkan diam.

Baca juga:  Akankah Kaligrafi Syahadat Senasib dengan Swastika?

Umat Islam selalu saja menjadi sasaran collective blame tiap kali ada aksi seperti ini, meski pelakunya terbukti sangat tidak Islami. Omar Matin si pelaku terbukti adalah pemabuk, suami yang kasar dan bahkan gay. Bukan Muslim yang baik dalam ukuran apapun. Tapi sepertinya hal-hal itu tidak akan dianggap, Muslim sedunia khususnya yang di Amerika tetap dipaksa ikut merasa bersalah dan beranggung jawab. Semoga peristiwa ini tidak melahirkan gelombang diskriminasi baru bagi komunitas Muslim Amerika.

Avatar photo

Ayub

Mengejar impian sederhana, menjadi pecinta semesta.

1 komentar

Tinggalkan komentar