Santri Cendekia
Ilustrasi belaka ini mah

Tuntunan al-Ghazali untuk Menemukan Tuhan di Tiap Ciptaan

Kebesarannya menjadi kebanggaan intelektual Islam dan mampu menggetarkan dunia penulisan. Dia adalah Imam Abu Hamid Muhammad bin Ahmad al-Ghazali yang dijuluki Hujjatul Islam, Argumentasi Islam.

Rasa-rasanya amat jarang sarjana Islam maupun santri tak mengenal al-Ghazali. Sejumlah kitab buah tangan al-Ghazali menjadi obyek kajian di berbagai lembaga pendidikan Islam, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. Alhasil tulisan-tulisan al-Ghazali serasa awet muda saat dipandang oleh manusia lintas peradaban.

Kitab-kitab al-Ghazali di kalangan pesantren, misalnya, memiliki hirarkinya tersendiri. Jika kitab Bidayah al-Hidayah untuk santri junior, kitab Minhaj al-Abidin menjadi bahan kajian santri semi-senior, maka kitab Ihya ‘Ulumuddin mendapat perhatian khusus di kalangan santri senior.

Akan tetapi kitab al-Hikmatu fi Makhluqatillah kurang popular di kalangan sarjana maupun santri, walau pun bahasa yang digunakan dalam kitab ini tergolong agak berat tapi masih dapat dibaca semua kalangan terutama santri dibandingkan dengan kitab-kitab al-Ghazali lainnya yang harus didampingi pakar. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena peran Muhammad Rasyid Ridha Qabbaniy yang telah mengedit naskah abad pertengahan ini, menjadikan kitab al-Hikmatu fi Makhluqatillah begitu ramah dengan pembaca.

Membaca teks dari Imam al-Ghazali ini, kita seperti berhadapan dengan sesuatu yang karismatis. Karisma itu bisa kita rasakan dari setiap kalimat yang ada di dalamnya. Kita seolah terpelajar dan mendapat pengalaman spiritual yang luarbiasa. Teks semacam ini, bagi saya, bukanlah sembarangan. Yang mengesankannya lagi adalah kitab ini ditulis bukan dengan bahasa yang dingin, kaku, dan kering. Nilainya tak bisa kita samakan dengan teks artikel di Bangor.in.

Saya berhadapan dengan al-Hikmatu fi Makhluqatillah dengan perasaan gentar dan tertegun-tegun. Sebab di sana, saya membaca sebuah teks yang lahir dari intensitas iman yang berdarah-darah, iman yang memantik gejala demam “spiritual” yang akut.

Kita tahu al-Ghazali pernah dalam masa ultimate skeptic yang meragukan segala sesuatu hingga dirinya terkena penyakit “syak”. Postulat-postulat dan doktrin agama dipertanyakan kembali validitasnya oleh al-Ghazali. Karenanya, teks dalam kitab al-Hikmatu fi Makhluqatillah ini nyaris mustahil lahir dari orang dengan iman yang mentah.

Al-Ghazali melalui kitabnya ini seolah mengajak kita untuk memandang ke seluruh mata angin, merenungi setiap hikmah yang terhampar luas di semua gugusan semesta. Ketika memandang ke atas, al-Ghazali menemukan langit bertaburan bintang-gemintang serta rembulan. Melihat ke bawah, al-Ghazali mendapati dirinya berpijak di hamparan tanah yang luas. Dan ketika melihat ke sekelilingnya, al-Ghazali sadar bahwa bumi dipagari berjuta-juta mil lautan yang tanpa batas, dikokohkan oleh gunung pencakar langit, dihiasi hutan-hutan indah penghuni ragam binatang.

Terlintas dalam benak saya, kitab ini hampir mirip dengan video-video menakjubkan Harun Yahya tentang fakta penciptaan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana al-Ghazali mengajak akal untuk bertamasya menyaksikan keajaiban-keajaiban Allah yang terhampar dari kedalaman samudra hingga angkasa.

Dengan piawai, al-Ghazali menuntun akal menyelam di kedalaman laut dan sungai, lalu mengaduk-aduk isinya untuk menemukan dan mempersaksikan keajaiban-keajaiban makhluk air, dari mulai ikan paling lemah dengan benteng yang kokoh seperti siput, sampai ikan buas yang gesit menangkap makanan.

Keterpesonaan saya pada kitab ini kian bertambah saat al-Ghazali mengajak kita terbang ke udara, singgah sebentar di langit dan benda-benda semesta, mengambil hikmah dari mentari dan rembulan yang gentian tugas mengawal siang dan malam, lalu turun ratusan mil menemui burung-burung yang sayapnya dengan izin Allah tak pernah basah oleh hujan.

Puas menyaksikan kebesaran Allah di langit, al-Ghazali menukik turun ke bawah, mendarat di ketinggian bukit, dilihatnya lukisan Sang Pencipta Langit dan Bumi yang kaya akan warna-warna pemuas mata. Kemudian akalnya terpaku saat turun lagi merambah hutan-hutan dan gurun-gurun. Dari sana semua alegori tercipta.

Manusia memang miniatur alam semesta, dengan akalnya dibaiat Allah menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Tugas hidupnya menyembah dan menemukan Allah dalam kesadaran ma’rifatullah.

Dalam kitab ini, al-Ghazali seolah-olah menjadi juru kemudi yang menggerakkan otak untuk meneliti, merenungkan, dan mengambil hikmah rahasia-rahasia dari ciptaan Allah. Dengan seperangkat otak yang dipadu oleh hati yang jujur, dan petunjuk Qur’an, mahaguru sufi dari Thus ini mencoba menggali alam untuk menemukan bukti-bukti kebenaran tentang adanya entitas Yang Maha Kuasa, sekaligus sebagai penegas bahwa Allah mengetahui hal-hal yang partikular.

Di bab-bab terakhir dalam kitab al-Hikmatu fi Makhluqatillah ini al-Ghazali menekankan untuk selalu bertafakur terhadap segala realitas yang terhampar di dunia ini. Kata al-Ghazali, alam semesta ini perlu dibaca, sebab kata “Iqra” dalam QS. Al-‘Alaq mengandung makna mempelajari dan berpikir, sehingga baginya, bertafakkur dijadikan media bersyukur.

***

Sebagaimana pengakuan sang editor, saat pertama berjumpa dengan kitab al-Ghazali ini, keadaannya masih berupa naskah mentah; belum tertata dalam sistematika penulisan buku yang baik, lembaran-lembarannya saling menyambung tanpa pembagian paragraf, bahkan, menurutnya, belum ada tanda baca yang menunjukan bentuk-bentuk kalimat apakah kalimat tanya, perintah atau berita. Alhamdulilah, berkat usaha Muhammad Rasyid Ridha Qabbaniy kitab  al-Hikmatu fi Makhluqatillah menjadi teks utuh yang siap disantap para pecinta ilmu.

Perjumpaan saya dengan kitab ini seperti skema perjodohan, datang tak terduga. Saat saya duduk bosan mematung di perpustakaan sekolah tempat saya melaksanakan tugas PPL, saya mendapati kitab ini lusuh penuh dengan debu tak tersentuh oleh keringat manusia, yang menjadikannya lapuk tak terurus.

Dan, walaupun kitab ini tipis, tapi karena kekurangan saya dalam penguasaan nahwu-sharaf sehingga sulit memahami setiap bait kalimatnya, juga kadang saya bolak-balik buka kamus karena memuat kosa-kata asing yang sulit diterjemahkan, ditambah niatan saya yang salah ketika membuka kitab ini hanya sebagai pengisi waktu luang semata, alhasil saya hanya mampu mengkhatamkan kitab ini dalam durasi yang sangat lama untuk ukuran kitab tipis: dua puluh dua belas hari, delapan belas malam, hampir satu bulan.

Membaca teks kuno yang melintasi segala cuaca peradaban memang menjadi pengalaman yang senilai dengan pergi ke puncak Mahameru. Membutuhkan ketepatan waktu, energy serta usaha keras agar semuanya berbuah manis.

Mungkin agak lebay tapi tak mengapa, bagi saya membaca teks-teks klasik membuat saya merasa menjadi bagian dari atrium raksasa sejarah manusia. Teks-teks ini, termasuk kitab  al-Hikmatu fi Makhluqatillah, membuat saya merasa bukan sekedar insiden kecil yang cuma-cuma dalam hamparan sejarah spesies manusia.

Wassalam…

Kitabnya bisa didownload di sini.

Ilham Ibrahim

Warga Muhammadiyah yang kebetulan tinggal di Indonesia

3 comments

Tinggalkan komentar