Santri Cendekia

Penyesalan yang Terlambat (Al-Baqarah : 167)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

Dan orang-orang yang mengikuti berkata: “Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka yang menjadi penyesalan mereka, dan mereka tidak akan keluar dari api neraka.

(Al-Baqarah : 167)

 

Ayat ini adalah kisah penutup dari kesudahan orang-orang yang mengikuti berhala-berhalanya selama di dunia. Setelah dengan mata kepala para pemuja berhala dan tandingan-tandingan bagi Allah melihat para berhalanya berusaha berlepas diri dari mereka, timbul perasaan sesal yang sangat dalam. Perasaan sesal yang terlambat. Perasaan sesal yang tidak akan pernah bisa dilanjutkan jadi sebuah perbaikan. Telah banyak peringatan datang kepada mereka selama di dunia, tapi tak ada yang diindahkan. Hanya sibuk terus menyandarkan hidup pada berhala-berhala sembahannya. Hingga akhirnya, ketika semua sudah terlambat, kebiasaan klasik para pendosa muncul, “sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia)”. Banyak ayat yang bercerita tentang penyesalan para pendosa dan keinginannya untuk kembali ke dunia dan memperbaiki hidupnya. Semua itu Allah sajikan kepada kita, agar kita menjadi orang-orang yang banyak-banyak menyesal di dunia atas setiap dosa yang pernah kita perbuat. Menyesal tiada guna hanyalah ungkapan yang berlaku ketika di akhirat. Bahkan sekalipun kita bertaubat sesaat sebelum mati, Allah masih memberikan ruang taubatnya untuk kita. Jangan pernah merasa terlambat untuk menyesal dan memperbaiki diri di dunia, setelat apapun kelihatannya. Karena yakinlah, setelat-telatnya penyesalan dan taubat kita di dunia. Itu sangat jauh lebih baik dan lebih berharga dibanding penyesalan kita di akhirat kelak.

Baca juga:  Memahami Hal Ihwal Khilafiyyah

 

 

 

“tentu kami akan berlepas tangan dari mereka, sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami”.

 

Jangan ditunda-tunda lagi, bagi yang masih merasa banyak menggantungkan hidup pada selain Allah, tinggalkan sekarang juga, berlarilah menuju Allah. Berlarilah menuju ke tempat perlindungan paling kuat jaminan keamanannya. Manusia-manusia itu juga dho’if seperti kita. Keberadaan mereka pun butuh sebab. Segala sesuatu yang membutuhkan sebab, dan setiap sesuatu yang butuh sebab pasti lemah. Sedangkan Allah, lam yulad (tidak di peranakan), Allah tidak membutuhkan sebab atas kehadirannya, maka Dia yang Maha independen, dan Dialah yang terkuat. Tidak ada yang dapat menguasai-Nya, dan tidak ada Yang dapat mengatur-Nya. Dia tidak pernah terjebak dalam ruang dan waktu, dan Dia tidak pernah terjebak dalam keterlanjuran. Dalam genggaman-Nya lah segala sesuatu. Jika Allah sudah ridho untuk menjadi ‘backing’ kita, maka apakah lagi yang bisa menjegal kita barang sedikit. Berlarilah kepada Allah, karena Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.

 

Dan bagian yang terburuk pun dimulai, di saat semua sudah begitu takutnya ketika berhala-berhalanya berlepas diri dari mereka. Allah hadirkan vonis terakhir yang lebih membuat setiap jantung mereka seakan hilang dari tempatnya.

 

“Dan mereka tidak akan keluar dari api neraka”.

Ya Rabb, sayangi kami.

 

Allahu a’lam bishshawab

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: