Santri Cendekia

Persiapan Menyambut Hari Kiamat!

Tenang, tulisan ini bukan bermaksud menjawab pertanyaan kapan datangnya hari kiamat. Sebab penulis yang bukan panitianya sehingga sangat tidak tahu kapan pelaksanaan hari yang mengerikan itu. Kengerian hari itu memang banyak tersebar dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Pada hari itu matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung dihancurkan (QS. 81: 1-3). Ketika sangkakala ditiup, maka diangkatlah bumi dan gunung-gunung dibenturkan (QS. 69: 13-14). Manusia seperti laron yang berterbangan dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan (QS. 4-5). Orang-orang yang mendengar kabar itu pasti merasa penasaran kapan waktunya. Hal itu misalnya direkam al-Qur’an dalam ayat berikut:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.  al-A’raf [7]: 187)

Tegas ayat ini menyatakan bahwa hari, tanggal, dan tahun terjadinya kiamat itu hanya Allah Swt. saja yang tahu. Bahkan Nabi Muhammad Saw. pun tidak tahu. Meramal waktu terjadinya serta mencocok-cocokkan dengan kondisi terkini juga bukan sesuatu yang diajarkan dalam Islam. Umat Islam hanya diperintahkan meyakini bahwa hari itu pasti terjadi. Meyakini hari akhir adalah salah satu dari enam rukun iman.

Perihal sebentar lagi atau masih lama hanya Allah saja yang tahu. Tidak etis rasanya manusia biasa dengan angkuh memastikan bahwa kiamat sebentar lagi atau kiamat masih lama. Lagipula sebentar atau lama itu sifatnya relatif. Allah Swt. berfirman:

Baca juga:  Gugurnya Narasi Tentang Kiamat di Tengah Wabah

Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (QS. al-Ahzab [33]: 63)

Kejadian orang bertanya tentang kiamat juga direkam dalam hadis. Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Sahih-nya menyebutkan sebuah hadis sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، أَخْبَرَنَا أَبِي، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْدِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَعْدَدْتَ لَهَا» قَالَ: مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

‘Abdan telah berkata kepada kami, Ayahku telah mengabarkan kepada kami, dari Syu’bah, dari Amr bin Murrah, dari Salim bin Abi al-Ja’d, dari Anas bin Malik, bahwasanya seseorang bertanya kepada Nabi Saw.: “Kapan waktunya kiamat, wahai Rasulullah?” Nabi Saw. bersabda: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk itu?” Ia menjawab: “Aku tidak memiliki persiapan berupa banyaknya pahala salat, puasa dan sedekah. Akan tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi Saw. bersabda: “Kamu akan bersama dengan siapa yang kamu cintai.”   (HR. al-Bukhari nomor 6171 di al-Maktabah al-Syamilah)

Hadis ini mengandung beberapa pelajaran. Pertama, merupakan sebuah realitas bahwa manusia merasa penasaran dengan waktu terjadinya kiamat. Mereka yang hidup pada masa Nabi dan berjumpa dengan beliau pun menanyakan hal itu, apalagi manusia yang hidup 14 abad lebih dari masa hidup Nabi. Rasa khawatir dan takut itu sangat manusiawi.

Setelah seseorang mendengar informasi dari al-Qur’an maupun Hadis tentang kengerian hari kiamat, maka sangat wajar apabila terbesit dalam pikirannya mengenai kapan kejadian itu berlangsung. Jadi, sah-sah saja ada orang bertanya kapan kiamat, itu sudah terjadi sejak zaman Nabi.

Baca juga:  Syihabuddin al-Qalyubi: Ulama Fikih Ahli Astronomi, Medis, dan Sejarah

Kedua, Nabi memberi petunjuk bagi Ustadz atau Da’i yang menyampaikan informasi mengenai kiamat. Hendaklah informasi itu disampaikan sebatas apa yang tercantum dalam al-Qur’an dan Hadis Sahih. Tidak perlu menerka-nerka apalagi terkesan meramal dan cocokologi dengan fenomena kekinian. Ketika ramalan itu meleset, maka akan terjadi fitnah terhadap agama.

Petunjuk Nabi sangat jelas ketika ada orang yang bertanya kapan kiamat. Tanyakan balik kepada si penanya itu, “Apa yang sudah kamu persiapkan?” Alih-alih membahas waktu, Nabi justru mengalihkan pembicaraan kepada persiapan untuk kiamat. Artinya membicarakan persiapan itu lebih penting daripada membahas kapan waktunya.

Ketiga, si penanya menjelaskan beberapa bentuk persiapan berupa salat, puasa, dan sedekah. Ketiganya merupakan bentuk amal saleh. Artinya yang dimaksud persiapan adalah persiapan pahala. Persiapan menghadapi kiamat hendaknya dilakukan dengan menguatkan iman dan taqwa, mendekatkan diri kepada Allah Swt. serta menjalin hubungan baik dengan sesama manusia.

Entah dalil mana yang memerintahkan persiapan berupa mengumpulkan emas, pergi ke gunung, hingga menggali sumur. Persiapan dengan iman dan amal saleh jauh lebih penting daripada persiapan yang sifatnya materil itu. Lagipula, tidak ada jaminan usia sampai kepada hari kiamat. Jika maut lebih dulu menjemput, persiapan pahala itu yang jelas bermanfaat.

Keempat, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi penting untuk persiapan kiamat. Nabi Saw. mengabarkan bahwa seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya. Artinya siapa yang mencintai ahli surga kelak akan bersama mereka di surga. Anas bin Malik merasa sangat gembira dengan sabda Rasululluh bahwa seseorang akan bersama dengan siapa yang dicintainya. Anas berkata, “Aku mencintai Nabi Saw., Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka karena kecintaanku, meskipun aku tidak beramal seperti amalan-amalan mereka.”

Baca juga:  Tentang Guru Agama Islam yang Miskin dan Intoleran

Cinta yang dimaksud tentunya bukan sekadar cinta di mulut saja. Cinta yang sebenarnya dibuktikan dengan perbuatan. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya berarti berusaha semaksimal mungkin menjalankan ajaran Islam. Cinta kepada orang saleh berarti sekuat tenaga mengikuti perbuatan baik mereka, meskipun tidak sama persis kualitas dan kuantitasnya. Itulah cinta yang mengantarkan pada kebersamaan di surga.

Kiamat pasti terjadi dan setiap muslim wajib meyakininya. Bukti keyakinan itu adalah dengan mempersiapkan bekal, salah satunya berupa mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kepastian terjadinya kiamat hanya Allah saja yang mengetahuinya. Titik ekstrem tertentu menyatakan bahwa “kiamat sebentar lagi” sembari mengesankan ketakutan yang menggelisahkan. Titik ekstrim lain mengatakan bahwa “kiamat masih lama” sembari menganggap enteng dan santai saja. Di tengah keduanya, silakan bertanya-tanya “kapan kiamat?” sembari memperkaya diri dengan persiapan iman dan amal saleh. Wallahu a’lam.

Hendriyan Rayhan

Pengajar di Ma’had Khairul Bariyyah Kota Bekasi

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: