Santri Cendekia

Qurban dan Transformasi; Suatu Kajian Semiotik

Ibadah qurban memiliki makna semiotis yang dalam

Hari ini tepat tanggal 10 Dzulhijjah 1441 H, kita merayakan hari raya ‘Idul Qurban atau Hari Raya Idul Adha. Dzulhijjan merupakan salah satu bulan haram dalam ajaran Islam selain Muharam, Rajab, dan Dzulqa’dah. Makna haram di sini merujuk pada penghormatan atas kemuliaan bulan tersebut yang telah ditetapkan oleh Allah (QS. al-Taubah: 36). Dalam merayakan hari raya ini umat Islam diajarkan untuk menyembelih hewan qurban setelah pelaksanaan shalat ‘Id. Ritual kurban ini mengikuti Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurban) dengan menyembelih anaknya –Ismail yang pada akhirnya diganti dengan gibas (kambing yang besar).

Ritual ini bukan hanya sekedar melakukan prosesi “menyembelih” hewan sembelihan yang “meniscayakan darah yang mengalir keluar”, namun terdapat makna semiotis yang mendalam. Seluruh rangkaian itu menandai (signified) sebuah makna yang mendalam dalam konteks kemanusiaan. Ada spirit baru yang diintroduksi dalam tradisi kurban yang berada di balik tradisi atau pensyariatan qurban sejak dari Ibrahim. Berikut ini dijabarkan makna qurban dalam ajaran Islam.

Qurban: dari offering ke surrender

Qurban artinya “dekat dan mengabdi” (sacrifice, consecration) yang berbeda dengan istilah korban (victim). Ber-qurban berarti kita mendekat kepada Allah dengan berbagai ketundukan dan ketakwaan yang disimbolkan salah satunya dengan menyembelih hewan. Ini berarti bahwa ber-qurban bermakna menjadikan apa saja yang telah dianugerahkan oleh Allah untuk semata-mata mendekatkan diri (qurban) kepada Allah.

Jikalau qurban diartikan sebagai “korban” –yakni mengorbankan hewan sembelihan, maka dengan nikmat dan anugerah Allah yang sedemikian besar tidak cukup dikurangi satu ekor sapi atau kambing untuk mengimbanginya. Oleh karena itu, dalam ber-qurban Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan qurban melainkan niatnya ketakwaan, ketundukan, dan pengabdian kepada Allah (QS. Al-Hajj: 37).

Baca juga:  [Download] Buku Kepustakaan Medis-Pandemik di Dunia Islam

Penjelasan ini mengantarkan pada pemahaman bahwa qurban dalam Islam bukan persembahan darah dan daging binatang kepada Allah (kepper [Ibr.], offering). Namun, sebagai pernyataan iman dan ketundukan (surrender) kepada Allah dengan cara menyisihkan sebagian rezeki yang telah diberikan oleh Allah berupa binatang untuk disembelih.

Daging binatang yang telah disembelih dipersilahkan untuk dimasak, dimakan, disimpan, dan dibagikan kepada sanak saudara di sekeliling kita. Inilah hal yang membedakan sistem sacrifice dalam Islam dengan sistem keyakinan dan kepercayaan lainnya yang mempersembahkan (offer) seluruh darah dan daging kepada “zat yang dituju dalam kurban tersebut”.

Qurban: transformasi dari demonic ke humanity

Ibadah qurban yang kita lakukan merujuk pada syari’at nabi Ibrahaim ketika diperintahkan untuk ber-qurban dengan menyembelih Ismail. Peristiwa itu dimulai dari awal kehidupan Ibrahim sampai datangnya mimpi untuk menyembelih Ismail. Kemudian dilanjutkan dengan kisah pembangunan ka’bah dan kota Makah (QS. al-Shaffat [37]: 102). Keseluruhan episode kehidupan Ibrahim tersebut kemudian dijadikan tonggak ajaran haji (manasik haji).

Kisah Ibrahim dalam menunaikan “perintah” untuk menyembelih Ismail, yang kemudian ditukar dengan gibas yang besar (QS. Al-Shaffat [37]: 107) memberi pelajaran bahwa Islam memberikan transformasi pemikiran dan kesadaran akan pentingnya humanity, kemanusiaan, kepada seluruh umat manusia.

Sebelum datangnya agama tauhid, agama hanif, yakni Agama Islam, sebagian besar bangsa manusia melakukan “qurban” dengan cara menyembelih dan mempersembahkan darah manusia, yang rata-rata seorang gadis perawan, atau seorang lelaki perjaka, kepada sesuatu yang dipujanya. Tujuannya untuk menolak kesengsaraan atau wabah, atau tujuan-tujuan materiil lainnya. Sistem keyakinan dan keagamaan seperti ini adalah sistem demonic religion, keyakinan yang anti kemanusiaan.

Agama tauhid yang datang sejak nabi Adam mengajarkan ibadah qurban dengan binatang, bukan manusia! Kisah ini terekan dalam riwayat Qabil dan Habil. Makna pada kisah ini pun akhirnya bergeser menjadi keyakinan demonic kembali (James, 1935), maka Allah kemudian menyempurnakan qurban dengan memberikan gambaran pada kisah Ibrahim dan Ismail. Kisah itu diawali dengan diperintahkannya penyembelihan Ismail, anak lelaki perjaka, namun, ketika telah sempurna persiapan penyembelihan, Allah menggantinya dengan gibas yang besar. Penggantian ini bermakna transformasi dari sistem yang tidak manusiawi menjadi manusiawi.

Ini merupakan sebuah “transformasi” besar yang menyadarkan bahwa manusia adalah puncak kemuliaan makhluk, sehingga harus dimuliakan sebagaimana Allah telah memuliakannya QS. al-Isra`: 70). Peristiwa Ibrahim ini pun menjadi tonggak sistem keyakinan dan keberagamaan yang humanis, manusia adalah mulia bukan objek penghinaan.

Baca juga:  Mentafakkuri punahnya Wabah di Masa 'Amru bin Ash

Pesan yang dapat kita tangkap adalah bahwa humanity (kemanusiaan) dalam Islam adalah puncak kesadaran sebagai manusia. Kesadaran ini pada akhirnya harus melandasi sikap dan perilaku kita kepada manusia lainnya, yakni membangun relasi antar manusia secara humanis.

Qurban: dari transaction ke piety

Seluruh ibadah kepada Allah selalu diorientasikan menuju ketakwaan, seperti sholat, puasa, zakat, haji, pernikahan, pemerintahan, dan lain-lain serta yang hari ini kita rayakan adalah ibadah qurban. Semuanya berujung pada ketakwaan.

Takwa merupakan sebuah upaya untuk menciptakan pencerahan dan kemajuan. Kemajuan yang diiringi oleh kesadaran tertinggi (enlightenment) akan kehadiran Allah dalam keseharian kita, sendiri atau bersama-sama. Takwa adalah bentuk kesadaran tertinggi yang kita miliki yakni kesadaran bahwa Allah tidak jauh dari kita, Allah selalu menyertai kita, Allah dekat dengan kita, Allah melihat dan mendengar kita, Allah membimbing kita. Allah hadir dalam keseharian kita. Hadir dalam kesadaran kita, kita akan selalu sadar bahwa Allah melihat, mengawasi, mendengar seluruh perbuatan kita. Inilah esensi ketakwaan. Jadi ketika kita ber-qurban, kita berusaha mendekat sedekat-dekatnya kepada Allah supaya kita selalu ingat bahwa Allah selalu menyertai kita kapanpun di manapun.

Dengan kesadaran takwa yang dibangun melalui ibadah qurban ini, akan melahirkan sikap yang ihsan, sebuah sikap yang akan memberikan kedamaian dan kemashlahatan bagi semua makhluk. Karena Islam adalah rahmah bagi sekalian alam, maka misi itu harus kita usung dengan semangat ihsan. Ihsan merupakan puncak tertinggi kesalehan, buah dari ketakwaan.

Dengan ihsan, ketulusan dalam membangun relasi positif antar sesama dapat terwujud. Sebaliknya, tanpa ketulusan relasi yang dibangun selalu dilandasi oleh transaksi yang mempertimbangkan untung dan rugi secara materiil. Ibadah qurban mengubah orientasi transaksional menuju ketulusan dan kesalehan. Wallahu a’alm.

Penulis adalah dosen di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta serta anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah.

Ustadzi Hamzah

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: