Vitalitas Intelektual Muslim di Masa Kajayaan Islam

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com
Pilihan Redaksi

Penulis: Satria Rusydan*

Tugas micro teaching mengantarkan saya kepada pengetahuan akan perkembangan peradaban Islam pada abad keemasannya. Kalau boleh cerita, ini merupakan tugas untuk membuat sebuah RPP yang diambil dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Dari buku tersebut, kemudian saya mendapati judul yang memikat perhatian yang tertera pada pdf kelas dua belas semester akhir; Rahmat Islam bagi Alam Semesta.

Romantisme masa lalu kejayaan Islam di satu sisi membuat saya kagum, berbangga dengan Agama, karena pada saat itu, Islam sukses menjadi pusat perhatian peradaban. Akan tetapi, di sisi yang lain membuat saya malu dengan diri sendiri, yang masih hobi “rebahan” lagi malas mencari ilmu. Waktu kosong bukan saya manfaatkan untuk menggali lebih dalam ilmu yang sudah dicurahkan oleh para sarjana muslim, akan tetapi saya asyik baca firman-firman julid netijen, halahh. Padahal ilmu yang bisa digali dari epistemologi Islam itu anlimitit. Buanyak. Maka benar sebuah khabar mengatakan: “al-islām maḥjūb bi al-muslimīn”. Kemuliaan, kesempurnaan, rahmat Islam tertutupi oleh perilaku orang Muslim sendiri.

Investigasi dari Hossein Askari terkait di negara manakah yang paling banyak menerapkan nilai-nilai Islam, menjadi bukti konkret akan hilangnya nilai-nilai Islam dari pemeluknya. Dari 208 negara yang diteliti, ternyata tak satu pun negara Islam menduduki peringkat 25 besar. Lebih lanjut, guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washingto ini menjelaskan, negara yang paling islami adalah Irlandia, Denmark, Luksemburg dan Selandia Baru yang bukan negara berasaskan Islam. Sedangkan negara yang memiliki nilai-nilai keislaman, seperti Malaysia, hanya menempati peringkat 33, Kuwait peringkat 48, Arab Saudi di posisi 91 dan Qatar di strata 111.

Maka wajar jika Askari mengatakan: “Kami menggarisbawahi bahwa banyak negara yang mengakui diri Islami tetapi justru kerap berbuat tidak adil, korup, dan terbelakang. Faktanya mereka sama sekali tidak Islami. Jika sebuah negara memiliki ciri-ciri tak ada pemilihan, korup, opresif, memiliki pemimpin yang tak adil, tak ada kebebasan, kesenjangan sosial yang besar, tak mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, negara itu tidak menunjukkan ciri-ciri Islami,”. Komentar ini menjadi pukulan telak bagi kita; umat Islam di era sekarang ini.

Sungguh pada abad ke 8-14 M, sebagaimana pendapat Toby E. Huff dalam bukunya; The Rise of Early Modern Science, Islam menjadi agama yang super power. Dalam masa ini, prinsip-prinsip dasar Islam tegak, worldview Islam tertancap mantap, sehingga Islam menjadi obor peradaban, mata air pengetahuan dan tampuk intelektual. Perkataan dari Jacques C. Reister bisa dijadikan hujjah, bahwa selama 500 tahun, Islam menguasai dunia dengan kekuatan, ilmu pengetahuan, dan peradabannya yang tinggi. Bahkan, Montgomery Watt sampai berani mengakui, peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan dari peradaban Islam yang menjadi “dinamonya”, Barat bukan apa-apa. Keren tho?

Sejarah telah menggambarkan bagaimana kemajuan Islam pada masa tersebut, puncaknya ketika zaman dinasti. Yaitu era di mana para intelektual muslim bukan hanya menguasai bidang keilmuan yang mereka pakar di dalamnya, akan tetapi juga bidang keilmuan yang lain, sehingga karya mereka sukses menghiasai berbagai bidang keilmuan, baik dari bidang filsafat, kedokteran, astronomi, fisika, kimia, matematika, fikih dan lain sebagainya

Dalam bidang filsafat misalnya, sosok Ibnu Sina (980 M) membuat saya terkagum-kagum. Ia bukan hanya dikenal sebagai bapak kedokteran dunia, tetapi juga seorang filsuf yang banyak mengarang karya ilmiah. Seperti kitab al-Inṣāf, yang memuat 28.000 masalah filsafat yang ia tulis dalam waktu enam bulan saja. Jika kita bagi, Ibnu Sina dalam sehari mampu menulis kurang lebih 156 permasalahan, artikel, atau jurnal. Ini bukti kejeniusan seorang filsuf yang dikenal dengan nama Avicenna ini.

Kalau dibandingkan dengan saya, duh, merasa diri ini bahlul banget. Jangankan 156 artikel dalam sehari, lha wong satu artikel saja saya butuh waktu dua minggu untuk membuatnya. Satu hari cuman jadi judulnya tok paling. Kalau ditinjau dari perspektif gedget, Ibnu Sina ibarat iPhone 11 Pro Max yang sudah menggunakan Chip A13 Bionic Neural Engine, ditambah memori dengan kapasitas mencapai 512 GB yang tentu lancar jaya kalau dibuat main PUBG. Sedangkan saya hanya ibarat Nokia 3310, hanya bisa dibuat main game snake yang game over kalau kena tubuhnya sendiri itu.

Lanjut, dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol, Abu Bakar Muhammad ibnu as-Sayigh atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajjah (1085 M) menjadi tokoh utamanya. Cendekiawan yang lahir di Saragosa ini mengemukakan permasalahan-permasalahan yang bersifat etis dan eskatologis. Karya monumentalnya adalah Taḍbīr al-Mutawaḥḥid. Selain Ibnu Bajjah, Abu Bakar ibnu Thufail (1105 M) juga menjadi intelektual yang sukses memberikan sumbangsih khazanah keilmuan dalam bidang kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karya filsafatnya yang sangat terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan yang ditulis pada abad ke-12 M.

Itu dari bidang filsafat. Adapun dalam bidang kedokteran, lahir para intelektual muslim dengan karya-karya agung nan fenomenal. Ibnu Sina adalah tokoh yang paling terkemuka dalam bidang ini. Al-Qānūn fī at-Tibb menjadi magnum opus-nya di bidang kedokteran. Yang membuat kekaguman saya bertambah kepada Ibnu Sina adalah, ia menjadi dokter pada usia 17 tahun. Jika dilihat dari strata pendidikan di Indonesia, Ibnu Sina kala itu diibaratkan duduk di kelas 12 SMA. Warbyasah. Distingsi ini sangat juauh jika disandingkan dengan saya ketika kelas 12 yang masih lihat garapan teman kalau ada PR matematika, fisika atau biologi.

Selain Ibnu Sina, sosok yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averous juga ikut menyumbangkan goresan-goresan pengetahuannya. Dia adalah Ibnu Rusy (1126 M), seorang filsuf, dokter, sekaligus pakar fikih dari Andalusia. Buku berjudul al-Kulliyat menjadi salah satu buku saintifik pertama mengenai fungsi jaringan-jaringan kelopak mata yang berhasil ia karang. Bukan hanya dari kaum adam saja, nama Ummi al-Hasan binti Abi Ja’fat dan saudara perempuan al-Hafidz sukses menjadi ahli kedokteran dari kalangan hawa.

Di bidang astronomi, Ibrahim ibnu Yahya an-Naqqash (1029 M) yang dapat menentukan  terjadinya gerhana matahari dan berapa lamanya, membuat saya mlongo. Bagaimana tidak, mengingat kalkulator baru ditemukan oleh Pascal Blaise pada tahun 1642 M, mengharuskan an-Naqqash menghitung rumus yang super njelimet itu secara manual. Lha wong saya saja menghitung waktu shalat dalam mata kuliah Falak menggunkan microsoft exel masih sering salah input angka. Apa lagi kalau hitung manual, sudah syntax error kognisi saya. Tak berhenti sebagai pencipta rumus mengetahui gerhana, an-Naqqash juga berhasil membuat teropong modern astronomi yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang.

Kebencian saya dalam pelajaran matematika menjadi bukti kurangnya penghargaan yang saya berikan kepada ilmu ini. Padahal dalam bidang ini jutaan orang tidak menyadari, telah lahir seorang profesor muslim bernama al-Khawarizmi. Tokoh yang lahir tahun 770 M di Khwarizm, kota di selatan sungai Oxus ini merupakan penemu angka nol dan juga cabang ilmu matematika; algoritma. Tidak berhenti sampai di situ, kekerenan al-Khawarizmi juga dibuktikan dengan dipergunakannya risalah-risalah aritmatikanya, seperti kitab al-Jam’a wa at-Tafrīq bi al-Ḥisāb al-Hind, Algebra dan al-Maqāl fī Ḥisāb al-Jabr wa al-Muqābalah oleh universitas di Eropa hingga abad ke-16.

Dalam bidang fisika, saya berbangga dengan Abdul Rahman al-Khazini di mana pada tahun 1121 M ia menulis kitab Mizān al-Ḥikmah (The Scale of Wisdom). Di dalamnya membahas tentang tabel berat jenis benda cair dan padat dan berbagai teori tentang fisika. Nama Jabir ibnu Hayyan ikut serta dalam pengabadian namanya dalam buku-buku tokoh hebat muslim pada abad keemasan. Ia diakui dalam kepakarannya dalam ilmu kimia. Ide-ide brilian Jabir sekarang dikenal sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, non-metal, dan pegurian zat kimia.

Tak ketinggalan dalam bidang sejarah, muncul seorang pelancong bernama Ibnu Bathuthah (1304 M) dari Tangier yang berhasil mengelana sampai Samudra Pasai dan China. Kalau saya menyebutnya sebagai god father of traveler muslim. Dari tripnya tersebut, kemudian Ibnu Bathutha berhasil menciptakan kitab Rihla yang menjadi kitab babon mengenai politik, perang, perbudakan, perdagangan, budaya kuliner, seks, transportasi, ritual keagamaan, serta pelbagai hal remeh temeh lainnya yang menceritakan setiap daerah yang ia kunjungi.

Dalam ranah fikih tak mau ketinggalan mengalami kemajuan yang pesat, dengan ditandai dengan lahirnya ulama-ulama besar di bidang hukum Islam dan para imam mazhab. Di antara tokoh fikih yang terkenal adalah empat imam pendiri mazhab fikih; Abu Hanifah (699 M), Malik bin Anas (711 M), Imam Syafii (767 M), dan Ahmad bin Hambal (780 M) yang juga terkenal sebagai ahli Hadits. Kalau saya mah ahli hadats, hehe. Selain mereka, masih banyak tokoh-tokoh pakar fikih yang lain, seperti Abu Bakr ibnu al-Quthiyah, Munzir ibnu Said al-Baluthi, Ibnu Hazm, al-‘Auza’i dan lain-lain.

Di samping pada aspek hukum syariat, aspek spiritual juga mengalami kemajuan. Tasawuf merupakan bagian dari aspek keagamaan dalam Islam yang menyentuh sisi ruhiyah (spiritual). Lahir para sufi (bukan suka film ya) yang memiliki kharisma luarbiasa, di antaranya adalah; Rabiah al-Adawiyah (713  M), al-Hallaj atau Abdul Muqith al bin Mansyur al-Hallaj (858 M), Abdul Farid Zunun al-Misri (773 M), dan Abu Yazid al-Bustami (874 M). Tak ketinggalan Ḥujjatul Islām; imam al-Ghazali (1058), yang berhasil mengarang kitab babon tasawuf; Iḥyā ‘Ulūm ad-Dīn.

Tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan di atas merupakan para intelektual muslim yang sukses mengabadikan namanya dalam perbendaharaan kitab klasik maupun modern. Hal itu dikarenakan karya-karya mereka masih dikaji, diteliti, bahkan dijadikan pegangan sampai sekarang ini. Maka selayaknya kita patut berbangga, Islam telah melahirkan para sarjana yang berpengaruh bagi peradaban ini.

Akan tetapi, berbangga dan bernostalgia dengan meraka semua belum cukup. Selayaknya profesor-profesor tersebut dikenalkan kepada generasi muda sekarang. Langkah konkretnya, dalam mata pelajaran, bisa dengan memperkenalkan mereka kepada siswa sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Misalnya dalam pelajaran matematika, beritahukan kepada murid bahwa ada lho seorang intelektual muslim yang berjasa besar dalam ilmu ini; al-Khazarizmi. Atau dalam ilmu fisika, telah lahir intelektual muslim yang bernama al-Khazani, begitupun dalam pelajaran-pelajaran yang lain. Dengan begitu, menurut saya, murid akan termotivasi, oh ternyata ada ilmuan matematika, fisika, kimia yang beragama Islam di mana mereka memberikan sumbangsih pengetahuan bagi dunia. Ketika murid termotivasi, maka akan mendorong kembali “tradisi ilmiyah” yang sudah lama redup. Semoga dengan demikian akan lahir kembali intelektual-intelektual muslim yang mampu menjadi pusat perhatian dunia.

*Anggota Santri Merapi, Mahasiswa FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pilihan Redaksi

Kirim tulisan ke email: tholebinibrahim@gmail.com

Tinggalkan komentar