Santri Cendekia

Refleksi Nuzul Quran: Sudahkah Kita Memfungsikan al-Quran?

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad di tengah kodisi keruntuhan moral dan etika masyarakat Arab jahiliyah. Di saat kerusakan masyarakat semakin nyata, Muhammad muda melakukan khalwat ke Gua Hira, sesuai ritus penganut agama hanif ketika itu. Sosok al-amin diliputi resah gelisah.

Ketika sedang merenungkan kerusakan masyarakatnya, malaikat Jibril datang. Iqra! Perintah itu diulang sampai tiga kali. Turunlah Qs. Al-Alaq: 1-5. Ayat ini menjadi penanda bahwa wahyu telah diturunkan dan Muhmmad diangkat menjadi Nabi. Ia menerima perkataan yang berat (Qs Al-Muzammil: 5), dan memulai perjuangan mengubah sejarah. Muhammad diberi bekal kitab suci untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Wahyu pertama itu membuat jiwa Muhammad guncang. Ia segera pulang dari Gua Hira. Sesampai di rumah, sang istri tercinta Khadijah berusaha menenangkan hatinya dengan perkataan, “Sungguh, Allah tidak akan menghinakanmu. Sebab, engkau senantiasa menjalin silaturahim dan persaudaraan, berbicara jujur, bersedia menanggung beban, menolong orang yang papa, menjamu tamu, dan membantu orang yang membawa kebenaran.” (Mukhtashar Shahih Muslim, Juz I, hlm 25).

Wahyu, menurut Nasr Hamid Abu Zayd (1993), pada awalnya turun untuk menjawab pertanyaan yang menjadi kegelisahan nurani Nabi Muhammad. Islam sangat menghargai suara hati nurani dari dalam diri. Surat Al-‘Alaq [96]: 1-5 dan Al-Mudatsir [74]: 1-7 memperkenalkan pengirim pesan, menjelaskan relasi pengirim pesan dengan penerima pertama (Muhammad), dan relasi dengan manusia sebagai objek yang dituju oleh wahyu. Di kemudian hari, wahyu turun untuk menjawab pertanyaan masyarakat.

Wahyu berikutnya, Al-Muzammil [73]: 1-4 berisi bimbingan dan pelatihan khusus bagi Nabi supaya mampu mengemban tugas yang tidak ringan. Ada juga Qs. 26: 214-216 yang memerintahkan Nabi untuk memberi peringatan kepada keluarga terdekat, bersikap rendah hati dan tidak sombong. Perintah memberi peringatan dengan akhlak mulia tersebut adalah dalam rangka menawarkan jawaban atas permasalahan dan kegelisahan manusia. Kata Abdul Kalam Azad: Al-Qur’an berbicara kepada emosi terdalam manusia.

Setiap menerima wahyu, Nabi membaca dan menjelaskan maknanya. Membaca berulang seperti perintah wahyu pertama, membuat masyarakat menjiwai nilai-nilai Qur’an untuk melakukan perubahan. Al-Qur’an meruntuhkan paham dan keyakinan jahiliyah yang sangat mendewakan suku (sektarianisme) dan tradisi leluhur (romantisme). Meskipun mengakui tentang Allah, mereka tidak mau meninggalkan ritual dan adat memuja berhala. Termasuk Paman Nabi, Abu Thalib, yang senantiasa membela Nabi.

Nabi bertugas untuk menyampaikan dan menjelaskan pesan Al-Qur’an (Qs 16: 44). Nabi membawa kabar gembira (basyir) dan memberi peringatan (nazir). Nabi senantiasa menyampaikan, memberi penyadaran dan keteladanan. Nabi menjalankan prinsip dakwah: bil hikmah, wal mauidhah hasanah, wa jadilhum billati hiya ahsan (Qs An-Nahl: 125). Ia menjadi rahmat bagi sekalian alam. Lakunya diibaratkan sebagai al-Qur’an berjalan.

Meski pribadi teladan ini menyampai pesan kebaikan, masyarakat mulanya tidak mau menyambut petunjuk. Masyarakat jahiliyah enggan menerima ajaran tauhid. Bahkan, orang yang mula-mula masuk Islam diusir dari Mekkah. Ja’far bin Abi Thalib, ketua rombongan kaum Muslimin yang hijrah ke Habsyah (Etiopia atau Abyssinia) untuk meminta perlindungan Raja Negus, menjabarkan dampak perubahan yang dibawa Muhammad:

Baca juga:  Antropologi Mimpi: Studi Amira Mittermaier tentang Mimpi Masyarakat Mesir

“Wahai Raja, mulanya kami adalah bangsa yang tidak beradab, menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kezaliman, merusak hubungan keluarga, berburuk sangka terhadap tamu. Pihak yang kuat di antara kami memakan pihak yang lemah. Seperti itulah kondisi kami hingga Tuhan mengutus kepada kami seorang rasul yang keturunan, kebenaran, kejujuran, dan kebaikannya telah kami kenal […] Ia memerintahkan kami untuk berbicara benar, menepati janji, memelihara hubungan kekerabatan, menghormati tamu, serta menjauhi kejahatan dan pertumpahan darah. Ia melarang kami melakukan kezaliman, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan memfitnah wanita baik-baik.”

Al-Qur’an datang sebagai pedoman moral untuk kebaikan dan kelestarian semesta. Al-Qur’an menyadarkan bahwa kehadiran manusia di dunia ini punya maksud dan peran yang harus dijalankan. Sebagai khalifah Allah di muka bumi. Bahwa manusia diberi tugas untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan kemanusiaan, yang termuat dalam pesan universal al-Qur’an, kitab petunjuk dari Tuhan untuk manusia. Ia bukan kitab hukum atau sejarah.

Ayat-ayat Al-Qur’an banyak yang turun karena merespons keadaan masyarakat. Nabi menyampaikan wahyu dalam konteks itu, namun pesan universal wahyu berlaku sepanjang zaman. Nabi Muhammad dengan bimbingan Al-Qur’an berhasil membangun tatanan masyarakat madani. Nabi berhasil meletakkan landasan kehidupan bersama yang disinari Al-Qur’an. Robert N. Bellah dalam artikel “Islamic Traditions and Problems of Modernization” (1976) memberi kesaksian:

“Tidak lagi dapat dipersoalkan bahwa di bawah (Nabi) Muhammad, masyarakat Arab telah membuat lompatan jauh ke depan dalam kecanggihan sosial dan kapasitas politik. Ketika struktur yang telah terbentuk di bawah Nabi dikembangkan oleh para khalifah pertama untuk menyediakan prinsip penyusunan suatu imperium dunia, hasilnya ialah sesuatu yang untuk masa dan tempatnya sangat modern. la modern dalam hal tingginya tingkat komitmen, keterlibatan, dan partisipasi yang diharapkan dari kalangan rakyat jelata sebagai anggota masyarakat. Ia modern dalam keterbukaan kedudukan kepemimpinannya untuk dinilai kemampuan mereka menurut landasan-landasan universalistis.”

Tentang nilai egaliter manusia, terdapat kisah pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, dalam peristiwa Fathu Makkah, ketika Nabi Muhammad bersama 10.000 pasukan memasuki Mekkah, Bilal bin Rabah mengumandangkan azan. Penduduk Mekkah heboh. Muncul ujaran, “Budak hitam inikah yang azan di atas Kakbah?” Dalam riwayat lain, “Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk azan?” Suara lainnya, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.”

Merespons peristiwa tersebut, turunlah ayat 13 dari surat al-Hujurat, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” Pesan ini tidak hanya ditujukan bagi penduduk Makkah saat itu, namun berlaku umum.

Baca juga:  Devisa Haram bukan Solusi (At-taubah 28)

Sabda langit ini memberi pesan tentang prinsip egalitarianisme, semua manusia setara. Ayat ini menghapus perbedaan kasta yang dijunjung masyarakat Arab jahiliyah. Kemuliaan dan kualitas seseorang tidak ditentukan oleh faktor suku, warna kulit, nasab, harta. Namun ditentukan oleh nilai ketaqwaan. Taqwa diraih dengan iman dan amal shalih. Tidak hanya menjadi penentu kualitas pribadi, taqwa juga menjadi penentu kualitas suatu umat dan bangsa. “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,” (Qs Al-A’raf : 96).

Di masa Nabi, Al-Qur’an benar-benar berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia. Nabi Muhammad berhasil memberi teladan dalam mengamalkan al-Qur’an hingga ayat terakhir yang menyatakan bahwa agama telah sempurna. Dakwah Nabi telah menuai prestasi dan umat Islam menjadi khairu ummah pada saat itu. Peristiwa Haji Wada dan Fathu Makkah menjadi pelajaran penting bagaimana sikap umat pemenang. Nabi bersama para sahabatnya merasakan perihnya perjuangan sampai diusir dari tanah kelahirannya. Namun ketika kemenangan dan kekuasaan dalam genggaman, Nabi justru tidak menuntut balas. Hari Fathu Makkah itu disebut sebagai yaum al-marhamah.

Era terbaik dalam sejarah Islam ini ternyata tidak bertahan lama. Beberapa saat sepeninggal Nabi dan khalifah al-rasyidin, peradaban itu runtuh kembali. Hasrat kepentingan pribadi dan tradisi buruk jahiliyah, kembali menutupi cahaya Al-Qur’an. Ayat-ayat suci justru digunakan untuk saling membela diri dan menghakimi sesama. Banyak yang membaca dan menghafal Al-Qur’an, namun sedikit yang berperilaku sebagaimana ajaran Nabi, berupa sikap senantiasa menebar kasih, kedamaian, keselamatan, kebaikan, keadilan, persatuan.

Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity (1982), menyatakan bahwa Al-Qur’an yang diyakini sebagai firman Allah, telah disalahtafsirkan sejak masa keemasan Islam. Al-Qur’an hanya ditafsirkan penggalan ayat per ayat, yang terpisah dari konteks sosial dan historisnya, serta mengabaikan visi etis dan moral Al-Qur’an yang utuh dan padu. Mereka yang gagal menangkap pesan wahyu, akan gagal menampilkan diri sebagai umatan wasathan.

Secara normatif, Al-Qur’an pasti benar dan ideal, namun perilaku kita seringkali tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Muhammad Abduh pernah gusar tentang kesenjangan antara nilai idealitas Al-Qur’an dan realitas umat Islam belakangan ini. Abduh menceritakan itu kepada filsuf Perancis, Ernest Renan. Jawaban Renan membuat Abduh terdiam, bahwa Renan mengetahui kehebatan nilai Islam di Qur’an, namun dia meminta Abduh menunjukkan satu komunitas Muslim yang mewakili kehebatan Islam itu.

Seabad kemudian, periset dari George Washington University ingin membuktikan jawaban Renan. Mereka menyusun seratusan indikator nilai Islami (islamicity index), berupa: shidiq, amanah, tabligh, fathanah, kejujuran, keadilan, kebaikan, kebersihan, kedamaian, ketepatan waktu, empati, toleransi, tolong-menolong, cinta ilmu, dan seterusnya. Dari 200 negara yang diteliti, negara Muslim menduduki peringkat 100-200. Di posisi puncak justru ditempati oleh negara-negara Skandinavia. Indonesia berada di peringkat 140. Data ini bisa diakses di website islamicity-index.org.

Baca juga:  Inkar As-Sunnah Dalam Konsep Dekonstruksi Syari’ah (Studi Terhadap Definisi Sunnah Muhammad Syahrur)

Kondisi umat Islam yang hanya berenang di pinggir peradaban, merupakan salah satu bukti bahwa kita telah kehilangan jati diri. Kita meninggalkan ajaran luhur Al-Qur’an. Umat Islam menjadi mundur karena meninggalkan ajaran agamanya. Sebut misalnya, nilai Islam yang ditinggalkan adalah budaya literasi atau tradisi keilmuan, wahyu pertama kepada Nabi. Ilmu merupakan faktor kunci. Peran manusia sebagai khalifah baru berjalan efektif ketika manusia memiliki bekal ilmu. Sikap bodoh hanya membawa umat Islam ke derajat rendah. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qs. 58: 11).

Pada akhir abad ke-19, para pembaharu menggaungkan jargon al-ruju ila al-qur’an wa al-sunnah (kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah), dengan jalan membuka lebar pintu ijtihad. Mereka resah dengan kemunduran umat yang disebabkan oleh karena meninggalkan ajaran Islam yang otentik, sehingga keagungan Islam tertutupi oleh perilaku pemeluknya sendiri yang tidak sesuai nilai Qurani. Sebagaimana agama diturunkan Allah sesuai perkembangan sejarah dan akal manusia, maka pemahaman terhadap Al-Qur’an pun harus berkembang, sesuai kebutuhan serta konteks ruang dan waktu yang terus bergerak maju.

Para pembaharu ingin mendobrak pengulangan tafsir. Seharusnya nilai-nilai Qur’an menjadi etos yang menggugah dan menggerakkan untuk maju. Umat Islam jangan terjebak kebanggaan romantis pada kemukjizatan al-Qur’an, bangga bahwa peristiwa tertentu telah ada di Qur’an misalnya. Mukjizat hanya ditujukan pada orang yang mengingkari dan membutuhkan bukti. Buya Hamka mengingatkan, tidak benar jika dikatakan bahwa semua ilmu ada di dalam Al-Qur’an, yang benar adalah Al-Qur’an memerintahkan untuk menyelidiki semua cabang ilmu pengetahuan.

Dimulai dari niat tulus memahami kitab suci untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama. Umat Islam harus menggali makna asal Al-Qur’an sesuai konteks turunnya, memahami makna di balik pesan harfiah untuk disesuaikan dengan kondisi kekinian dan kedisinian. Dasarnya adalah kaidah: tsabat al-nash wa harakat al-muhtawa (teks itu tetap, tetapi kandungan maknanya berkembang).

Tantangan bagi kita umat Islam adalah bagaimana memfungsikan Al-Qur’an sebagai hudan linnas? Bagaimana kita mampu menangkap isyarat, pesan, dan nilai-nilai Al-Qur’an dan kemudian membumikannya dalam kehidupan? Bagaimana menjadikan Al-Qur’an itu shalih likulli zaman wa makan?

Muhammad Ridha Basri

Wartawan Suara Muhammadiyah

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: