Santri Cendekia

Relasi Ilmu dengan Akal, Hewan, dan Manusia Menurut Ibn Khaldun

Penulis: Wayan Bagus Prastyo*

PENDAHULUAN

Sejak awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, ilmu sudah menjadi perhatian khusus dalam agama Islam (QS. al-Alaq: 1-5), bukan hanya dalam al-Qur’an, banyak juga atsar yang menyebutkan keutamaan-keutamaan menuntut ilmu, yang masyhur diantaranya adalah akan memudahkan jalan seseorang untuk menuju syurga, mendapat pahala jariyah apabila kelak ilmu yang didapat diajarkan kepada orang lain dan menjadi ilmu yang bermanfaat, dan lain sebagainya.

Selain pahala dan syurga yang dijanjikan Allah, mengkaji masalah ilmu selalu menarik bagi siapa saja manusia, karena pada hakikatnya hanya dengan ilmu-lah manusia kemudian dapat menjadi mulia, Buya Hamka menyebutkan orang yang ber-ilmu itu lebih mulia, kaya hati dan jiwa dari pada pemilik gelimang harta, para pemilik ilmu akan jauh lebih kekal kemuliaannya dari mereka, bukan hanya di dunia, tapi juga sampai akhirat. Bahkan mengenai ilmu sendiri, ulama salaf sampai merangkai teori yang begitu indah:

“Barang siapa yang hendak masuk ke dalam surga Allah SWT yang berada di akhirat, maka ia harus terlebih dahulu masuk ke dalam surga Allah yang ada di dunia, ada dua surga yang telah Allah sediakan di dunia, yaitu nikmat dalam menuntut ilmu dan nikmat dalam beribadah”

Sudah sangat jelas bahwa manusia tidak akan dapat beribadah menunaikan ibadah shalat misalnya, tanpa ada ilmu mengenai tata cara shalat, demikian pula segala hal yang berkaitan dengan dunia ini baik itu ibadah ataupun mu’amalah duniawiyah, maka mafhum dari teori di atas adalah apabila manusia belum merasakan dua nikmat tersebut dalam dirinya atau baru salah satunya saja, jangan sekali-kali berangan-angan untuk masuk kedalam surga Allah yang berada di Akhirat.

Dari sekian banyak ulama yang membahas tentang ilmu dan segala macam turunannya, maka pada tulisan kali ini akan sedikit banyak mengambil pandangan ibn Khaldun terkait dengan ilmu, dan kaitannya dengan akal, hewan, dan manusia yang ia tulisankan di karya fenomenalnya, muqaddimah Ibn Khaldun jilid 2, halaman 124-125. Adapun tulisan ini juga adalah hasil dari diskusi dan pemaparan selama kuliah selama dua pertemuan kuliah sebelum UTS di pondok kami di lereng Merapi , dimana pada dua pertemuan itu kami baru dapat mengkaji dua halaman dari kitab muqaddimah  mengenai bab ilmu, dikarenakan padat dan dalamnya pembahasan.

BIOGRAFI SINGKAT IBN KHALDUN

Nama beliau adalah Abd al-Rahman bin Muhammad bin Khaldun al-Hadrawi, dikenal dengan panggilan Waliyuddin Abu Zaid, Qadi al-Qudat. Ia lahir pada 1 Ramadhan 732 H atau 27 Mei 1332 M di Tunis (Afrika Utara), Bermazhab Maliki, Muhadist al-Hafidz, pakar ushul fiqh, sejarawan,  penulis dan sastrawan. Saat kecil ia biasa dipanggil dengan nama Abdurrahman. Sedangkan Ibnu Zaid adalah panggilan keluarganya. Ia bergelar waliyudin (gelar yang diberikan saat beliau menjadi hakim di Mesir) dan nama populernya adalah Ibnu Khaldun

Baca juga:  Kontribusi Ilmuwan Muslim di tengah Wabah The Black Death

Ibn Khaldun dibesarkan dalam keluarga ulama dan terkemuka. Dalam usia muda Ibnu Khaldun sudah menguasai beberapa disiplin ilmu Islam klasik, termasuk ‘ulum aqliyah (ilmu-ilmu kefilsafatan, tasawuf dan metafisika). Di bidang hukum, ia mengikuti mazhab Maliki. Di samping itu semua, ia juga tertarik pada ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi dan lain-lain.

            Ibn Khaldun memiliki banyak karya tulis. antara lain; Syarh al-Burdah, sejumlah ringkasan atas buku-buku karya Ibnu Rusyd, sebuah catatan atas buku Mantiq, ringkasan (mukhtasor) kitab al-Mahsul karya Fakhr al-Din al-Razi (Ushul Fiqh), dan buku sejarah yang sangat dikenal luas dengan judul Al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fi Tarikh al-Arab wa al-Ajam wa al-Barbar. Ibnu Khaldun melalui buku ini benar-benar menunjukkan penguasaannya atas sejarah dan berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di samping kitab tersebut, kitab al-Muqoddimah Ibnu Khaldun merupakan karya monumental yang mengundang para pakar untuk meneliti dan mengkajinya, dan masih banyak yang lain-lain. Beliau meninggal dunia di Kairo pada tahun 807 H dan dimakamkan di kuburan kaum sufi di luar Bab al-Nasr.

PEMBAGIAN AKAL MENURUT IBN KHALDUN

Dalam bukunya Ibn Khaldun memaparkan bahwa pada dasarnya manusia adalah termasuk ke dalam jenis hewan-hewan, demikian pula definisi manusia menurut ahli mantiq,  akan tetapi Allah membedakan fisik antara keduanya dan juga kelebihan lain, yaitu dengan memberi akal pada manusia yang tidak Allah beri kepada hewan-hewan. Kelebihan tersebut yang kemudian digunakan oleh manusia untuk mengetahui tanda-tanda kebesaran Allah, baik pada ayat-ayat kauniyah-Nya ataupun ayat-ayat qauliyah-Nya berdasarkan firman Allah dalam QS al-baqarah: 31 dan 164. Hal ini tentunya agak sedikit berbeda dengan mitologi Yunani yang menganggap bahwa ilmu adalah rahasia Tuhan.

Ibn Khaldun menjelaskan bagian ilmu dalam buku muqaddimah dibagian akhir, setelah ia membahas tentang perubahan ummat manusia secara umum, peradaban bangsa-bangsa, dinasti,  dan berbagai aspek  tentang kehidupan, baik itu sosial, ekonomi,  atau politik. Hal tersebut sebagai sistematika bahwa ilmu merupakan bagian paling tinggi dari peradaban.

Sebagai bukti adalah saat Dinasti Abbasiyah memimpin peradaban, hal ini karena ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat pada saat itu dan banyak para ilmuan yang saling berlomba-lomba dalam lahirnya ilmu pengetahuan baru, di sisi lain juga penerjemahan kitab dari berbagai negeri yang luar biasa gencar, yang pada akhirnya membuat khazanah intelektual islam makin berwarna. Sehingga kota Baghdad pada masanya pernah menjadi lentera ilmu dan menjadi rujukan berbagai ilmu pengetahuan. Sampai-sampai seorang khalifah merasa bangga apabila dalam kotanya terdapat ilmuan-ilmuan dan ulama-ulama yang luar biasa, dan menghargai mereka dengan mengganti seluruh karya atau buku yang mereka terjemahkan dengan emas seberat karya kitab atau terjemahanan mereka.

Baca juga:  PERKEMBANGAN PEMIKIRAN POLITIK SYIAH IMAMIYAH DARI IMAMAH KE VILAYAT E-FAKIH.

Manusia menurut ibn Khaldun adalah makhluk yang murni bodoh, namun dapat menjadi berilmu apabila ia mau berusaha mencari ilmu pengetahuan. Sekali lagi, karena pada dasarnya manusia itu sama seperti hewan, namun terdapat perbedaan pada fisik dan akalnya.

Akal ini dibedakan menjadi tiga klasifikasi beserta masing-masing fungsinya, menurut ibn Khaldun yaitu:

  1. Al-aql al-tamyiziy (akal untuk membedakan), adalah akal manusia yang berfungsi menjadikan pekerjaan manusia lebih teratur dan untuk memahami antara dirinya dengan alam sekitar.
  2. Al-aql al-tajribiy (akal eksperimental) adalah akal manusia yang digunakan untuk mencari ilmu tentang suatu gagasan-gagasan, kemaslahatan, dan segala yang merusak antara dirinya dengan orang lain, akal inilah yang kelak digunakan mengatur hubungannya dengan sesama manusia.
  3. Al-aql al-nazhoriy (akal teoritis) adalah akal yang digunakan untuk memperoleh gambaran segala wujud-wujud, baik itu yang tampak atau tidak, dan penggambaran tersebut sesuai dengan apa adanya. Mengenai akal ini maka terdapat dua unsur yang harus di perhatikan yaitu التصور (menggambarkan sesuatu dengan tepat) dan التصديق (mensifati yang di tasawwur tersebut)

Dan ketiga akal ini baru akan didapat setelah sempurna, maksudnya adalah apabila masih janin atau bayi dan belum mampu mengoperasikan indra dan hati nuraninya maka ia masih sama seperti hewan, kemudian apabila ia sudah mampu memfungsikan ketiga akal tersebut beserta hati nuraninya (Q.S Al-Mulk: 23) dan disertai dengan usaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, barulah ia mendapatkan ilmu yang kelak akan mengangkat derajatnya dari kehewanan menjadi derajat manusia.

Dan pada fase inilah ia menjadi bentuk yang sempurna. Sehingga dapat difahami bahwa ketiga akal dan hati nurani adalah bekal atau bahan dasar untuk mengetahui hal-hal yang sebelumnya belum diketahui. Maka mafhum mukhalafah dari pemaparan diatas adalah apabila manusia ingin tetap bodoh dan berada pada sifat kehewanannya, ia tidak perlu melakukan apapun. Tetapi perlu ditegaskan lagi disini bahwa, jika manusia ingin memperoleh ilmu pengetahuan maka ia wajib harus berusaha, karena Allah sudah menyediakan alat-alatnya, yaitu seperti disebut diatas pada QS al-Mulk: 23 (“Dialah (Allah) yang telah menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur”)

Dalam Q.S al-Alaq:1-5 yaitu wahyu yang pertama kali turun, Allah juga menginformasikan bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada manusia dengan membuat manusia itu sendiri bisa berusaha memperoleh ilmu, dengan alat-alat yang telah Allah berikan yaitu tiga akal dan panca indra yang termasuk di dalamnya adalah hati nurani.

Sehingga ayat yang pertama kali turun menggambarkan bahwa pada dasarnya manusia adalah bodoh, dan menjadi berilmu karena segala usaha yang ia kerahkan. Adapun kaitan علق dan جهل  adalah simbol bahwa manusia yang pada dasarnya belum bisa menggunakan akal pikiran, namun tetap istimewa karena pada akhirnya ia akan menjadi makhluk yang berilmu dengan  segala usaha yang ia kerahkan demi mendapat ilmu tersebut.

Baca juga:  Empat Macam Pandangan Epistemologis Bathil Menurut Ibnul 'Arabi

Hal ini juga disinggung oleh Franz Rosenthal, seorang pemikir barat pernah berpendapat bahwa pusat atau inti dari kejayaan  peradaban islam adalah ilmu pengetahuan. Dan berkat ilmu pengentahuan tersebutlah islam dapat menginvansi berbagai wilayah dunia -dalam sebuah riwayat 2/3 dunia- selama berabad-abad lamanya-.

Namun ironi pada zaman ini adalah kebalikan dari sebelumnya, pada zaman ini yang menjadi lentera ilmu atau rujukan ilmu pengetahuan mayoritas berada di negara-negara Eropa, hanya sebahagian kecil saja negara Islam yang masih menjadi rujukan ilmu, seperti Madinah, Makkah, Mesir, dan lain-lain. Padahal kebangkitan peradaban umat Islam sudah sangat dirindukan oleh setiap muslim di seluruh dunia. Baik itu kebangkitan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Maka hal inilah yang menjadi PR generasi muda millennial umat muslim, untuk kembali berjuang menyalakan kembali api kejayaan peradaban islam yang pernah menyala terang. Dengan bekal dua nikmat Allah yang telah disediakan di dunia. Yaitu nikmat dalam beribadah, dan nikmat dalam menuntut ilmu. Karena ilmu tanpa ibadah akan sekuler, dan ibadah tanpa ilmu akan sia-sia.

PENUTUP

            Dan untuk menggugah semangat dalam belajar, para pembaca dapat melihat tulisan Ahmad Farhan di website ini, dengan cara klik kolom search atau pencaharian lalu ketik judul berikut “Berkaca pada Keilmuan Imam asy-Syaukani” atau tulisan dari Edy Masnur dengan judul “Rihlah Ilmiah  Syaikh Yusuf al-Makassari dan Dedikasinya  terhadap Islam” dimana pada tulisan tersebut menkisahkan tentang masa muda, karya-karya, dan perjalan menuntut ilmu dari masing-masing tokoh, sehingga difahami bahwa mencari ilmu tidak ada batasan waktu dan tempat, bahkan dalam sebuah atsar disebut “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China” atau “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”. Dengan demikian semoga menjadi tersulut semangat dalam mengkaji segala ilmu secara sistematis dan dengan berlandaskan kuat pada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Daftar Bacaan :

  • al-‘Alamah Waliyuddin Abdirrahman ibn Muhammad ibn Khaldun: Kitab Muqaddimah Ibn Khaldun jilid 2
  • Prof Hamka : Tasawuf Modern : Republika, 2018
  • Choirul Huda; Pemikiran Ekonomi Bapak Ekonomi Islam; Ibnu Khaldun: Volume IV/Edisi 1/Mei 2013
  • Resensi dari Irhas Muflih : Manusia pada enesialnya Bodoh dan Menjadi Berilmu dengan Pencarian Pengetahuan: 2020

*Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Redaksi Santricendekia

Kirim tulisan ke santricendekia.com melalui email: redaksi@santricendekia.com

Add comment

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: