Santri Cendekia
Home » Renungkanlah Wahai Para Ayah!! (At-tahrim : 6)

Renungkanlah Wahai Para Ayah!! (At-tahrim : 6)

Bismillahirrahmanirrahim

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma’allamtana, innaka antal ‘alimul hakim

 

Wahai orang-orang yang beriman, Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-tahrim : 6).

 

Semoga setelah membaca tulisan ini, mind set para ayah segera dapat terbaharui. Ternyata, fungsi utama seorang ayah bukanlah mencari nafkah, menyiapkan fasilitas hidup terbaik bagi keluarganya, mengantar anaknya menuju ke perguruan tinggi ternama hingga mudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang banyak, mengantar anak untuk hidup mapan, dan sebagainya. Tugas utama seorang ayah adalah mengerahkan seluruh kemampuan dan hidupnya untuk menjaga dan membimbing keluarganya agar tidak terjatuh ke dalam neraka. Bukan berarti kita menafikan kewajiban anak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup keluarga yang bersifat duniawi, tentu itu semua tidak dilarang dan juga diwajibkan atas kita, Tapi jangan sampai, dalam persoalan memimpin keluarga, kita salah menempatkan prioritas orientasi hidup. Tempatkan Allah selalu sebagai nilai yang utama, dan neraka-Nya sebagai sarana visualisasi yang mempermudah kita untuk menjaga dan menumbuhkan ketaqwaan kita dan keluarga kita. Tidak dapat dipungkiri, di jaman ini, sedikit kepala keluarga yang berhasil menempatkan Allah sebagai orientasi utama di dalam keluarga.

Jangan bangga jadi pejabat atau orang penting di perusahaan apabila tidak bisa sekedar mengantarkan anak untuk bisa salat dan mengaji dengan baik dengan tangan kita sendiri.

Jangan bangga anak kita sekolah tinggi-tinggi namun salat wajib saja masih bentang-bentong.

Jangan bangga anak kita sekolah ke luar negeri jika hanya pulang membawa pemikiran-pemikiran yang jauh dari nilai-nilai ketauhidan.

Jangan bangga berhasil memberi fasilitas-fasilitas yang mewah untuk keluarga, apabila hanya menjadikan mereka menjadi manusia tamak yang memuja harta benda.

Jangan bangga memiliki istri yang cantik namun tidak bisa menjaga diri.

Jangan bangga memiliki istri berpendidikan tinggi jika membuatnya angkuh pada suami.

Jangan bangga, jangan bangga, jangan bangga dengan perkara-perkara dunia kita apabila tak bisa menyelamatkan perkara akhirat kita.

Sungguh, jika kita ingin memaknai, menjadi seorang kepala keluarga adalah sebuah amanah yang sangat besar yang Allah berikan kepada para pria. Amanah, tentu akan menjadi musibah apabila kita lalai terhadapnya, dan akan menjadi hadiah jika kita menunaikannya dengan baik. Maka wajib bagi para ayah untuk menguasai islam dengan baik agar mereka mengerti mendidik keislaman keluarga mereka dengan baik. Seorang ayah harus bisa menjadi “guru ngaji” pertama bagi keluarganya. Terlebih lagi di jaman yang sudah serba rusak ini, jangan sampai anak dan istri kita tergelincir aqidah maupun imannya karena kelalaian kita.

Baca juga:  Dinamika Awal Zulhijah 1441 H dan Penyatuan Kalender Islam

Di dalam ayat ini juga Allah ‘azza wa jalla begitu gamblang dan detail menggambarkan kondisi neraka dan karakter dari malaikat zabaniyah yang ada di dalamnya. Hikmahnya adalah, Allah ingin kita membayangkan, seandainya istri dan anak-anak kita yang begitu kita cintai harus masuk ke dalam neraka yang menjadikan mereka bahan bakarnya karena kelalaian kita dalam memimpin mereka ke jalan yang lurus selama di dunia. Allah ingin kita membayangkan, selayaknya sakit dan pilunya hati kita jika ada yang menyakiti hati dan fisik anak dan istri kita di dunia, begitu khawatirnya hati kita jika ada orang jahat yang mendekati dan mengganggu istri dan anak kita, maka di neraka kelak ada makhluk yang bernama Malaikat Zabaniyah yang begitu “Ghilazun” dan “Syidadun”. Dalam tafsir Ibnu Katsir, “ghilazun” bermakna kasar dan tanpa belas kasih. Lebih dingin dan sadis daipada manusia yang paling sadis yang pernah kita temui. “Syidadun” bermakna bengis dan menakutkan. Tegakah kita kelak melihat kepala anak dan istri yang sering kita usap dan kita kecup harus dihancurkan berkali-kali oleh Malaikat Zabaniyah itu? Tegakah kita tubuh anak dan istri kita yang sering kita peluk itu harus tercabik-cabik jadi serpihan oleh Malaikat Zabaniyah itu? Tegakah kita melihat seyuman manis anak dan istri kita berubah jeritan yang memekakan telinga karena Malaikat Zabaniyah itu?

Maka renungkanlah wahai para ayah!! Karena di sana kelak, engkau yang sekarang gagah ini, tidak akan lagi mampu melindungi anak dan istri mu, bahkan dengan mengemis sekalipun, karena Malaikat zabaniyah ini tidak akan berhenti siksanya walau sesaat, mereka hanya akan berbuat apa yang diperintahkan Allah dan tidak akan letih apa lagi berkasih-kasih!!

Baca juga:  Mengurai Surah al-Fatihah Bersama Syaikh Nawawi al-Bantani (1)

Renungkanlah wahai para ayah!! Siang malam engkau cari penghasilan untuk asupan jasmani keluargamu, tapi engkau lupa memberi asupan jiwa untuk keluargamu!!

Renungkanlah para ayah, dan mulailah selamatkan keluargamu dari sekarang!!

 

 

Allahu a’lam bishshawab

 

irfan fahmi

mencoba memahami makna dari surat-surat cinta yang Allah turunkan melalui Nabi dan Rasul-Nya

Tambahkan komentar

Tinggalkan komentar